Oleh: Septiana Wibowo
JEPARA (SUARABARU) – Alun-Alun Jepara 1 tidak sekadar menjadi ruang berkumpul warga. Ia menjelma panggung kebudayaan, tempat tradisi bertemu masa depan dengan berjajar tujuh dalang cilik yang membawakan lakon Banjaran Bima pada Jumat 10 April 2026.
Dalam balutan acara Wilujengan Nagari yang digelar, gemerincing gamelan mengalun pelan, membuka sebuah pertunjukan yang tak biasa satu persatu dalang cilik naik ke panggung, membawa kisah besar dalam tubuh-tubuh kecil mereka.

Lampu-lampu menyorot kelir. Bayangan wayang mulai bergerak. Dan dari balik layar itu, suara demi suara muncul—kadang lantang, kadang lirih—menandai dimulainya lakon “Banjaran Bima”.
Malam itu, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan wayang. Mereka menyaksikan proses tumbuhnya generasi. Acara yang merupakan suguhan hiburan rakyat ini dihadiri langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Ibnu Hajar. Mereka juga memberikan apresiasi langsung terhadap para dalang dan seniman tradisional muda.
Yang paling kecil di antara mereka adalah Shankara Afandi Putra, baru berusia 6 tahun, siswa TK Matahari. Tubuhnya mungil, tetapi keberaniannya berdiri di balik kelir membuat banyak pasang mata terpukau. Tangannya yang masih kecil tampak cekatan menggerakkan wayang, sementara suaranya berusaha mantap menirukan karakter.
Di sampingnya, ada Azka Basyra Al Kahfi (11), siswa kelas 5 MI Miftahul Huda, yang mulai menunjukkan keluwesan dalam mengolah dialog. Lalu Moh. Dzakwan Putra (12), siswa kelas 6 SDN Tubanan, yang tampil dengan penghayatan lebih dalam, seolah telah lama menyatu dengan dunia pewayangan.
Semakin ke atas usia, semakin terasa kematangan itu. Galang Wijaya Saputra (13), siswa SMPN 1 Kembang, mampu memainkan tempo cerita dengan lebih stabil. M. Ahnaf Furqon Saefudin (14), siswa SMPN 2 Jepara, menghadirkan karakter yang kuat dalam tiap sabetan wayangnya. Ahmad Fahrul Gunawan (13), dari SMPN Gunung Wungkal Pati, tampil percaya diri, sementara Ahmad Setiawan dari SMPN 2 Kembang melengkapi barisan dengan gaya pementasan yang tegas.
Mereka tampil bergantian, namun tetap berada dalam satu jalinan cerita: “Banjaran Bima”. Lakon ini bukan cerita ringan. Ia adalah perjalanan panjang seorang tokoh besar dalam dunia pewayangan Bima yang menggambarkan proses tumbuh kembang seorang kesatria. Dari masa muda yang penuh gejolak, pencarian jati diri, hingga menjadi sosok yang teguh dan berintegritas.
Di tangan para dalang cilik ini, kisah itu terasa segar. Ada semangat belajar, ada keberanian mencoba, dan ada kejujuran dalam setiap adegan. Mereka mungkin belum sempurna, tetapi justru di situlah letak keindahannya, tradisi yang hidup, bukan sekadar dihafal.
Alunan gamelan mengiringi setiap adegan dengan ritme yang terjaga. Para sinden dan waranggono dari Yayasan Marga Langit mengisi dengan suara yang lembut namun kuat, membangun suasana yang mengikat penonton dalam alur cerita.
Sesekali terdengar tepuk tangan. Sesekali juga tawa kecil, terutama saat para dalang cilik memainkan adegan dengan gaya khas mereka. Penonton larut, bukan hanya karena cerita, tetapi karena kehadiran energi baru di panggung tradisi.
Di balik penampilan itu, berdiri para pembimbing yang setia menjaga arah. Ada Ki Nuryanto, Ki Syarif Gondo Carito, dan Ki Danar Yogi Iswara, para dalang yang telah lebih dulu menapaki dunia pedalangan. Mereka mendampingi, mengarahkan, sekaligus memberi ruang bagi para dalang cilik untuk menemukan gaya mereka sendiri.
Keseluruhan pementasan dipimpin oleh Ki Hendro, yang memastikan setiap bagian berjalan selaras. “Anak-anak ini bukan hanya diajari memainkan wayang, tapi juga memahami nilai di dalamnya,” ungkap salah satu pendamping di sela acara.
“Tentang keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab seperti yang ada dalam tokoh Bima.” Ujarnya.
Yayasan Marga Langit, yang menaungi kegiatan ini, memang tidak hanya fokus pada hasil pertunjukan. Yayasan ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda dalam bidang pendalangan, seni tari, dan karawitan. Di tempat inilah, anak-anak seperti mereka tumbuh—tidak hanya sebagai penampil, tetapi sebagai pewaris budaya.
Malam semakin larut. Namun penonton masih bertahan. Di tengah arus hiburan modern yang serba cepat dan instan, pertunjukan wayang oleh dalang cilik ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: kesabaran, ketekunan, dan rasa hormat pada proses.
Ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan panjang mengiringi mereka. Bukan sekadar apresiasi, tetapi juga harapan. Bahwa di tangan-tangan kecil itu, tradisi besar seperti wayang tidak akan hilang. Ia akan terus bergerak, beradaptasi, dan hidup sama seperti Bima dalam ceritanya.
Dan malam banyak saksi bahwa masa depan budaya sedang tumbuh, pelan namun pasti dalam regenerasi anak-anak usia sekolah sebagai tonggak kebudayaan masa depan.
Penulis adalah pemerhati budaya dan wartawan di SUARABARU.ID. Sempat menulis Buku Kumpulan Esai “Bukan Kartini”













