blank
Salah seorang dari tim PKM USM, saat memberikan edukasi pembuatan cookies berbasis Tepung Sukun. Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Semarang (USM), melakukan kegiatan dengan tema ‘Pelatihan Literasi Gizi dan Diversifikasi Pangan melalui Edukasi Pembuatan Cookies Berbasis Tepung Sukun’, pada Siswa SMAN 2 Semarang, Senin (13/4/2026).

Pada kegiatan yang bertempat di aula sekolah setempat, Tim PKM USM terdiri dari Ketua Dr Mita Nurul Azkia STP MSc, anggota Prof Dr Ir Sri Budi Wahjuningsih MP, Ika Fitriana STP MSc, dan Ahmad Muhaimin SPd MPd. Mereka dibantu dua mahasiswa, Farezha Ilham Raihanda Putra dan Dinanta Kartika Dewi.

Dalam keterangannya, Mita menyebut, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan literasi gizi dan pemahaman diversifikasi pangan siswa, melalui edukasi dan praktik pembuatan cookies berbasis tepung sukun.

BACA JUGA: Kematangan Seorang Pemimpin Ditempa Lewat Waktu, Tak Bisa Karbitan

”Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang gizi seimbang, memperkenalkan sukun sebagai bahan pangan lokal alternatif, serta membekali siswa dengan keterampilan pengolahan pangan sederhana yang aplikatif,” katanya.

Adapun manfaat kegiatan itu, untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang gizi dan keterampilan praktis dalam memilih serta mengolah pangan selingan, berbasis bahan lokal.

Selain itu juga, mendukung penguatan edukasi gizi dan pembiasaan perilaku konsumsi pangan yang lebih beragam dan sehat.

BACA JUGA: Himmatisi FTIK USM Kenalkan ‘Machine Learning’ di SMK LPI Semarang

blank
Siswa-siswi SMAN 2 Semarang, berfoto bersama Tim PKM USM, usai acara pelatihan. Foto: dok/usm

”Sedangkan manfaat bagi perguruan tinggi dan masyarakat, kegiatan ini menjadi sarana penerapan keilmuan dalam bidang pengabdian. Selain itu juga, mendorong penyebaran praktik pemanfaatan pangan lokal di lingkungan sekitar,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai bagian dari diversifikasi pangan masih terbatas. Siswa umumnya lebih familiar dengan produk pangan berbasis tepung terigu, sementara pengetahuan mengenai bahan pangan lokal, seperti sukun sebagai alternatif sumber karbohidrat dan serat, masih relatif rendah.

Hal itu menunjukkan, perlunya pengenalan pangan lokal dalam bentuk produk yang sesuai dengan preferensi remaja. Permasalahan lain yang relevan yakni, terbatasnya pembelajaran berbasis praktik yang, mengaitkan pengetahuan gizi dengan proses pengolahan pangan sederhana.

”Pembelajaran yang bersifat teoritis, belum sepenuhnya mampu membekali siswa dengan keterampilan aplikatif dalam memilih dan mengolah pangan yang lebih sehat. Oleh karena itu, mitra memerlukan program edukasi yang terstruktur, aplikatif, dan kontekstual untuk meningkatkan literasi gizi, sekaligus mendorong diversifikasi pangan di kalangan siswa,” ungkapnya.

Riyan