blank
Peserta pawai subuh suci di GITJ Margoketo Jepara , Minggu 5/4-2026. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.Id) – Pawai Subuh Suci yang telah menjadi tradisi di Jemaat GITJ Margokerto, Bondo,  Jepara   sejak 28  tahun lalu  dalam merayakan  kebangkitan Tuhan  Yesus kembali digelar hari Minggu (05/4-2026) 03.30 Wib.

Pawai Subuh Suci yang mulai diselenggarakan pada tahun 1988 semula diprakarsai oleh Ketua Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto Krisworini bersama guru sekolah minggu diantaranya Margaret Satumi, Sumarti, Hariyati, dan Sudarmi khusus untuk anak-anak sekolah minggu. Namun sejak tahun 1995  diikuti oleh remaja dan pemuda kemudian menjadi agenda  jemaat serta diikuti oleh seluruh warga.

blank
Pendeta Tri Atmono M.Th. bersama pendeta Pentakosta Fani S.Th,Pendeta Rano Surita, Guru Injil Elia Dwi Apriyanti dan Ketua Majelis Eko Prasetyo saat membuka pawai Subuh Suci. Foto: Hadepe

Prosesi Pawai Subuh Suci yang diikuti oleh ribuan jemaat ini dimulai pada pukul 03.30 WIB.  Mereka terdiri dari warga jemaat mulai sekolah minggu, remaja, pemuda dan jemaat dewasa.

Acara pawai subuh suci dimulai  di depan GITJ Margokerto dan dibuka dengan doa oleh pendeta Tri Atmono M.Th. Mereka keliling padukuhan Margokerto dengan membawa obor, lampion  dan  lilin. Mereka juga menaikkan pujian untuk kemuliaan nama Tuhan. Mereka juga memakai berbagai macam asesoris yang melambangkan kebangkitan Yesus

blank
Warga antusias ikuti pawai Subuh Suci GITJ Margokerto. Foto: Hadepe

Suasana sakral begitu terasa, saat ratusan lampion, lilin dan juga obor dinyalakan dan mengiringi langkah mereka untuk melakukan pawai subuh suci.

Dengan membawa obor dan menyanyikan pujian bagi kebesaran Tuhan, jemaat berkeliling padukuhan Margokerto. Prosesi  diakhiri dengan ibadah Subuh Suci di halaman belakang  gereja yang dipimpin oleh Pdt. Tri Atmono dengan tema Menang Tanpa Perang yang diambil dari Roma 6: 9-10

blank
Salah satu jemaat yang larut dalam kegembiraannya di Pawai Subuh Suci. Foto: Hadepe

Pada akhir acara dilakukan pembagian telur Paskah, makan bersama dan pembagian hadiah kepada peserta terbaik oleh ketua panitia, Kusbiyantoro.

Hadir juga pendeta Pentakosta Fani S.Th,Pendeta Rano Surita, Guru Injil Elia Dwi Apriyanti dan Ketua Majelis Eko Prasetyo bersama anggota majelis, dan  para pengurus komisi dan kelompok.

blank
Peserta Pawai Subuh Suci di GITJ Margokerto. Foto: Hadepe

Sebelumnya telah dilakukan ibadah dan doa puasa pada 30 Maret – 01 April 2026 serta ibadah Jum’at Agung dan Perjamuan Kudus pada tanggal 3 April 2026.

Sejarah

Jemaat yang didirikan pada tahun 1901 oleh Guru Injill Esrom bersama 7 temannya ini merayakan paskah dengan menyelenggarakan prosesi ritual penyaliban  hingga  kebangkitan Tuhan Yesus. Prosesi ini disebut sebagai   pawai subuh suci. Kini salah satu  jemaat tertua  ini memiliki warga jemaat sekitar 2.300 jiwa.

blank
Anak anak Sekolah Minggu bergembira dalam Pawai Subuh Suci. Foto: Hadepe

Menurut Ketua Umum Majelis GITJ Margokerto Eko Prasetyo, prosesi  pawai  subuh suci ini merupakan tradisi yang digelar setiap tahun, sejak tahun 1988. Ritual itu tetap dipertahankan sampai sekarang karena dinilai sebagai cara yang tepat untuk merayakan kebangkitan Yesus sekaligus menjaga kebersamaan umat.

“Harapan kami  ada semangat yang baru dalam semua lini pelayanan, kebersamaan, persekutuan, mengembangkan kreativitas sebagai media untuk  kesaksian bagi  warga masyarakat secara umum juga luar daerah,” pungkas  Eko Prasetyo

Prosesi pawai Subuh Suci yang mulai digelar tahun 1988, semula hanya dilakukan oleh anak-anak sekolah minggu dan diselenggarakan oleh Komisi Sekolah Minggu GITJ Margokerto. Namun kemudian berkembang hingga melibatkan seluruh warga jemaat.

Hadepe