blank
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono saat berdialog dengan Sekda Grobogan Anang Armunanto dan Bupati Grobogan Setyo Hadi di tengah keramaian rangkaian Boyong Grobog. Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, secara istimewa datang langsung mengikuti prosesi Boyong Grobog, yang menjadi tradisi menjelang Hari Jadi ke 300 Kabupaten Grobogan.

Putra daerah Grobogan itu selain mengikuti Boyong Grobog, sekaligus membawa pesan besar tentang masa depan pertanian Grobogan di tengah tantangan global dan dinamika ketahanan pangan nasional.

Sudaryono tampil mengenakan beskap ungu dan jarik khas adat Jawa. Ia melangkah masuk ke Sasana Pendapa Kabupaten Grobogan didampingi Sekretaris Dinas Pertanian, Kukuh Prasetyo Rusady, Selasa (3/3/2026).

BACA JUGA : Dinkes Jepara Bersama Lintas Sektor Gelar Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi: Ada Juga  Tes Napza

Dalam sambutannya, Sudaryono menggunakan bahasa Jawa yang diselingi Bahasa Indonesia. Ia membangun suasana akrab sekaligus penuh makna di hadapan masyarakat yang telah lama menantikan kepulangannya.

Sudaryono merupakan alumnus SDN 1 Tambirejo. Ia mengenang masa kecilnya sebagai anak petani desa yang tumbuh di tengah hamparan sawah.

Di hadapan warga, ia menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh dinamika. Ia mengaku tidak pernah membayangkan dapat mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Pertanian.

“Saya ini dulu sekolah di SMPN 2 Toroh. Padahal cita-citanya masuk SMPN 1 Purwodadi. Nilai saya rada kurang, jadi mboten saged mlebet (tidak bisa masuk),” kenang Sudaryono.

Kisah itu ia sampaikan sebagai refleksi bahwa jalan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Ia justru menemukan makna besar di balik perjalanan tersebut.

“Bersekolah di SMPN 2 Toroh, yang kanan dan kiri dikelilingi sawah, ternyata menjadi simbol sains Gusti Allah. Saat besarnya ternyata membawa saya mengurus sektor pertanian, yang kini jadi denyut nadi perekonomian Grobogan dan Indonesia,” tambah Sudaryono.

Ia menilai perjalanan hidupnya tidak lepas dari takdir dan kehendak Tuhan. Lingkungan sekolah yang dikelilingi sawah, menurutnya, menjadi simbol kuat yang kini mengantarkannya mengurus sektor pertanian secara nasional.

Momentum Hari Jadi ke-300 Kabupaten Grobogan juga menjadi ruang refleksi atas perubahan daerah. Sudaryono menyebut Grobogan saat ini berkembang jauh dibanding masa kecilnya.

Ia menyoroti persoalan air bersih yang dulu menjadi kendala serius di Desa Tambirejo, terutama saat musim kemarau panjang.

“Dulu kalau musim ketiga (kemarau), untuk air benar-benar susah, sekarang sudah lancar, Alhamdulilah,” jelas Sudaryono.

BACA JUGA : Ketua DPRD Jateng Ajak Masyarakat Ubah Pola Pikir untuk Tingkatkan Kesejahteraan

Perbaikan infrastruktur desa, pembangunan irigasi, serta peningkatan hasil panen menjadi indikator nyata kemajuan Grobogan. Ia menyaksikan sendiri transformasi tersebut dari waktu ke waktu.

Menurutnya, Grobogan kini menempati posisi strategis sebagai penyangga lumbung pangan nasional. Kontribusi sektor pertanian terus menguat dan memberi dampak luas bagi perekonomian.

Ia bahkan menyebut Grobogan telah menjadi penyangga lumbung kedua di Indonesia dengan kekuatan utama pada sektor pertanian. Capaian itu, kata dia, tidak terlepas dari kerja keras petani dan dukungan kebijakan pemerintah.

BACA JUGA : Pegadaian Mengetuk Pintu Langit, Berbagi Berkah Ramadhan untuk Warga dan OJOL

Pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ketahanan pangan nasional menjadi prioritas utama. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi pertanian pada 2025 dengan tren yang menunjukkan hasil positif.

Sudaryono juga menyinggung harga beras dunia yang kini berada di kisaran 300 Dollar AS per ton. Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan dinamika pasar global yang harus dicermati secara cermat.

Menurutnya, perubahan harga global berkaitan erat dengan kebutuhan dalam negeri serta konsumen Indonesia, termasuk diaspora di luar negeri. Karena itu, kebijakan pertanian harus adaptif dan responsif.

Di sisi lain, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menggulirkan berbagai ide kreatif untuk mendorong penguatan sektor pertanian. Grobogan masuk dalam prioritas pengembangan sebagai sentra produksi.

“Insya Allah, pertanian Grobogan menjadi penyangga pertanian terbaik di Indonesia dan berharap Grobogan bisa semakin maju. Tantangan kita ke depan adalah bagaimana menghapuskan kemiskinan secepat mungkin. Salah satunya lewat sektor pertanian,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa bertani merupakan usaha paling sederhana sekaligus paling strategis. Sektor ini memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Sudaryono mengajak masyarakat terus menjaga semangat kerja dan gotong royong dalam membangun daerah. Ia optimistis pertanian mampu menjadi solusi pengentasan kemiskinan.

BACA JUGA : MBG Jadi Motor Ekonomi Desa, 119 SPPG di Jateng Gandeng BUMDes dan Koperasi Merah Putih

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, Boyong Grobog kembali menegaskan bahwa pertanian Grobogan harus menjadi kekuatan utama dalam membangun kemandirian pangan. Ia meyakini sinergi pemerintah pusat dan daerah akan mempercepat kemajuan pertanian di Grobogan.

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, Boyong Grobog menutup sambutannya dengan doa dan harapan bagi Kabupaten Grobogan yang sudah memasuki usia 3 abad ini.

“Saya berharap diparingi sing paling apik kanggo Grobogan, kelancaran pembangunan lan rezeki sing melimpah,” tutup Sudaryono.

TYA WIDYA