blank
ilustrasi kecelakaan motor saat hujan. foto : ai/gemini

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Jalur Pantura (Jalur Pantai Utara) tetap menjadi urat nadi logistik utama di Indonesia. Namun, saat musim hujan tiba, aspal mulus maupun beton di jalur ini menyimpan risiko mematikan yang sering diremehkan oleh pengendara motor yaitu Aquaplaning.

Menurut Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, aquaplaning atau hydroplaning terjadi ketika ban motor kehilangan kontak langsung dengan permukaan jalan karena terhalang oleh lapisan air.

“Harusnya ban kendaraan saat melaju bisa membelah air, namun yang terjadi ban malah justru ‘mengapung’ di atasnya,” katanya, Senin 26 Januari 2026.

Di jalur Pantura, risiko ini meningkat karena beberapa faktor, di antaranya seperti kecepatan tinggi, dengan banyaknya pengendara memacu motor di atas 60 km/jam saat kondisi sepi.

Selain itu, kondisi ban yang sudah tipis (botak) tidak memiliki alur (pattern) yang cukup untuk membuang air. Ditambah lagi permukaan jalan terdapat cekungan kecil atau beda tinggi antara aspal dan beton yang menampung air.

Oke menjelaskan, insting pertama pengendara saat merasakan motor goyang atau melintasi genangan adalah menarik tuas rem sedalam mungkin dan ini adalah kesalahan fatal. Saat terjadi aquaplaning, roda tidak memiliki traksi atau cengkraman ke aspal.

“Jika kita mengerem secara mendadak (terutama rem depan), roda akan langsung terkunci (locking). Karena tidak ada gesekan antara ban dan aspal, motor akan terpelanting atau lowside seketika. Di jalur sepadat Pantura, terjatuh di tengah jalan berarti risiko tertabrak kendaraan besar dari belakang,” katanya.

Adapun langkah penyelamatan dan apa yang harus dilakukan jika terjebak dalam situasi di mana motor terasa melayang atau tidak stabil di atas genangan adalah dengan melakukan langkah-langkah yang aman seperti menutup handel gas secara perlahan dan jangan melepas gas secara mengejutkan, cukup kurangi putaran mesin secara bertahap.

Selain itu, hindari penggunaan rem depan maupun belakang secara ekstrem, biarkan momentum motor berkurang secara alami. pertahankan posisi tegak jangan mencoba berbelok atau melakukan manuver miring serta jaga setang tetap lurus hingga ban kembali mendapatkan cengkeraman (grip) ke aspal.

“Fokus pada pandangan ke depan, arahkan mata ke area jalan yang kering atau lebih aman, bukan ke hambatan di depan,” katanya menjelaskan.

Dalam berkendara, antisipasi jauh lebih murah daripada pemulihan. Saat hujan turun, aspal tidak lagi ramah. Kecepatan 40 km/jam di kondisi basah bisa jauh lebih berbahaya daripada 80 km/jam di kondisi kering jika Anda tidak memahami manajemen risiko.

“Ingat, ban motor kita adalah satu – satunya titik kontak dengan bumi. Jika kita memaksanya berhenti saat ban sedang mengapung, berarti kita sedang mengundang petaka. Turunkan kecepatan sebelum masuk genangan, bukan saat sudah di dalamnya,” pungkas Oke.

Hery Priyono