Oleh : Sri Hidayati, S.Sos., M.Pd.
Di tengah tantangan mutu pendidikan keagamaan yang kian kompleks, TPQ Tsamrotul Huda kembali meneguhkan posisinya sebagai salah satu rujukan utama pendidikan Al-Qur’an di Kabupaten Jepara. Melalui rangkaian Haflah Akhirussanah yang digelar pada Ahad, 25 Januari 2026, TPQ Tsamrotul Huda 1 resmi dinobatkan sebagai lembaga terbaik I Se-Kabupaten Jepara dalam penerapan metode Qiroati.
Prestasi ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan institusional, tetapi juga menandai kesinambungan tradisi, kualitas pedagogi, serta visi transformasi pendidikan Qur’ani yang berorientasi masa depan.
Acara haflah yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini dilaksanakan di dua unit lembaga, yakni TPQ Tsamrotul Huda 1 dan TPQ Tsamrotul Huda 3, yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Al-Faqih Jepara. Sejak pukul 06.30 WIB, halaman TPQ Tsamrotul Huda 1 telah dipenuhi santri, wali santri, serta jajaran pengelola lembaga untuk mengikuti sesi foto bersama peserta khataman dan wali murid. Momentum ini menjadi penanda simbolik berakhirnya satu fase pembelajaran dan dimulainya tahap baru dalam perjalanan intelektual-spiritual para santri.
Dalam sambutannya, Ketua YPI Al-Faqih Jepara, Farih F. Mirza, S.E., S.H., S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa capaian prestasi tersebut merupakan buah dari konsistensi panjang dalam menjaga mutu pembelajaran. Tahun ini TPQ Tsamrotul Huda kembali menjadi lembaga terbaik pertama se-Kabupaten Jepara metode Qiroati. Ini bukan hasil kerja instan, melainkan proses panjang yang menempatkan kualitas sebagai orientasi utama.

Lebih jauh, beliau menyoroti capaian TPQ Tsamrotul Huda 2 yang berhasil menembus peringkat terbaik ke-9 se-Kabupaten Jepara. Dua lembaga dalam satu yayasan mampu masuk sepuluh besar kabupaten, sebuah fakta yang menandai keberhasilan manajemen pendidikan dan penguatan budaya mutu di lingkungan lembaga di bawah YPI Al-Faqih. Ketua yayasan menyampaikan apresiasi kepada para guru, pengelola, serta wali santri yang dinilai telah membentuk ekosistem pendidikan Qur’ani yang kondusif dan berkelanjutan.
Apresiasi serupa datang dari Pengurus Cabang Qiroati, yang diwakili oleh Hj. Rubiatul Masrurah dari Amanah Buku. Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi dua aspek penting: prestasi institusional dan capaian individual santri. Dua murid TPQ Tsamrotul Huda berhasil menembus lima besar perolehan nilai imtihan se-Kabupaten Jepara, sebuah indikator objektif keberhasilan metode dan intensitas pembinaan.
Menariknya, sambutan tersebut juga diwarnai kilas balik historis berdirinya TPQ Tsamrotul Huda 1. Hj. Rubiatul Masrurah mengungkapkan bahwa dirinya merupakan inisiator pendirian lembaga pada tahun 1990. Ia mengenang momentum wisuda pertama tahun 1991 yang dihadiri langsung oleh K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, pendiri metode Qiroati. Kehadiran tokoh sentral tersebut tidak hanya memberi legitimasi metodologis, tetapi juga menautkan TPQ Tsamrotul Huda dalam mata rantai sejarah besar pendidikan Al-Qur’an di Indonesia.

Proses uji imtihan pada haflah tahun ini dilaksanakan secara ketat dan profesional oleh Hj. Rodliyah selaku Koordinator Kecamatan Tahunan Metode Qiroati dan Ibu Luluk Bahiroh dari Pengurus Cabang Metode Qiroati Amanah Metodologi. Penilaian tidak hanya mengukur ketepatan bacaan, tetapi juga kefasihan, makharijul huruf, dan adab tilawah, sehingga menghasilkan evaluasi komprehensif terhadap kompetensi santri.
Menjelang akhir sesi pagi, acara ditutup dengan mauidloh hasanah yang disampaikan oleh K. Abdul Muidz. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan dimensi teologis dan sosiologis pendidikan Al-Qur’an. “Orang tua patut bersyukur karena putra-putrinya dipersiapkan menjadi generasi Qur’ani, generasi khoiru ummah, yang kelak dapat memberi pertolongan bagi kedua orang tuanya,” tuturnya. Beliau juga menegaskan pentingnya istiqamah lembaga dalam menjaga kualitas, mengingat TPQ Tsamrotul Huda 1 telah dikenal luas sebagai institusi bermutu.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di TPQ Tsamrotul Huda 3 pada pukul 13.00 hingga 16.30 WIB. Berbeda dengan unit pertama yang menggunakan metode Qiroati, TPQ Tsamrotul Huda 3 mengimplementasikan metode Yanbu’a. Hasil imtihan menunjukkan performa yang sangat menggembirakan, dengan banyak santri meraih nilai sempurna (100). Capaian ini memperlihatkan bahwa diversifikasi metode tidak mengurangi kualitas, bahkan memperkaya pendekatan pedagogis dalam pembelajaran Al-Qur’an.
Keunggulan TPQ Tsamrotul Huda 3 tidak berhenti pada aspek tilawah. Lembaga ini mengembangkan kurikulum tambahan berupa pengajaran menulis Arab Pegon serta baca tulis Latin. Integrasi literasi tradisional dan modern tersebut menjadi nilai plus yang strategis, karena membekali santri dengan kompetensi bahasa dan aksara yang relevan dengan kebutuhan akademik masa depan.
Dalam sambutannya di sesi siang, Ketua YPI Al-Faqih menyampaikan visi transformasi kelembagaan. Ia mengemukakan rencana kolaborasi pendirian TK Terpadu bersama RA Tsamrotul Huda dan PAUD Tsamrotul Huda yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penitipan anak (day care). Model ini dirancang sebagai solusi bagi orang tua bekerja, dengan skema pendidikan sehari penuh yang memadukan pembelajaran RA/PAUD, baca tulis Al-Qur’an, baca tulis Latin, serta pembiasaan karakter positif. Inisiatif ini mencerminkan respons adaptif terhadap dinamika sosial-ekonomi masyarakat urban sekaligus memperluas peran TPQ sebagai pusat layanan pendidikan keluarga.
Acara di TPQ Tsamrotul Huda 3 ditutup dengan mauidloh hasanah oleh Koordinator Kecamatan Metode Yanbu’a, Ibu Hj. Umi Farida, S.Pd.I. Beliau menegaskan bahwa pendidikan Al-Qur’an tidak semata tanggung jawab guru, tetapi juga orang tua, khususnya ibu sebagai madrasah pertama bagi anak. “Apa yang dilakukan ibu akan ditiru anaknya. Teladan menjadi kunci utama membentuk generasi Qur’ani,” pesannya, menegaskan dimensi pendidikan berbasis keluarga sebagai fondasi karakter.
Secara keseluruhan, Haflah Akhirussanah TPQ Tsamrotul Huda tahun 2026 tidak hanya menjadi seremoni penutup tahun ajaran, melainkan juga etalase keberhasilan sistem pendidikan Qur’ani yang terkelola secara profesional, berakar pada tradisi, dan terbuka pada inovasi. Predikat terbaik se-Kabupaten Jepara metode Qiroati menjadi bukti empiris bahwa kualitas dapat dicapai melalui konsistensi metodologis, kepemimpinan visioner, serta kolaborasi erat antara lembaga, guru, dan orang tua.
Di tengah tuntutan peningkatan mutu sumber daya manusia, TPQ Tsamrotul Huda menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan sekadar transmisi bacaan, tetapi investasi peradaban. Dari Jepara, sebuah pesan kuat disampaikan: membangun generasi Qur’ani adalah kerja jangka panjang yang memadukan intelektualitas, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.
Penulis adalah Kepala SMK Islam Tsamrotul Huda Tahunan













