Oleh: Amir Machmud NS
// pencarian bergulir tanpa batas/ satu per satu angkat tangan/ satu per satu pula angkat kaki/ dan, setiap tiba orang baru/ pertanyaan pun mengapung/ dalam harapan yang terhubung/ : diakah orangnya?//
(Sajak “Manchester United”, 2026)
MICHAEL Carrick, diakah orangnya?
Narasi yang mempertanyakan “apakah dia orang yang cocok“, pastinya muncul setelah Manchester United tampil impresif di Stadion Olf Trafford, akhir pekan lalu.
Penampian pertama Michael Carrick sebagai manajer interim sungguh menjanjikan. Bruno Fernandes dkk membenamkan tetangganya, Manchester City 2-0, dan merangkak ke zona Liga Champions di peringat keempat klasemen liga.
Ya, suksesi kepelatihan MU sejak 2013 seperti spekulasi yang hingga sekarang belum juga berhenti, mengulang pertanyaan klasik sejak 13 tahun silam, “Diakah orangnya?”
Sejak manajer tersukses — Sir Alex Ferguson — pensiun, MU tak pernah berhenti mengapungkan harapan untuk menemukan kembali jalan kejayaan. Dari David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick (interim), Jose Mourinho, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy (interim), hingga yang terakhir: Ruben Amorim, dan dilanjutkan pelatih interim Darren Fletcher.
Ke-11 nama itu hadir dengan beban pembuktian, juga spekulasi, antara keyakinan dan keraguan, antara kemampuan dan kenyataan, antara coba-coba dan kemungkinan.
MU adalah salah satu contoh klub yang mengalami fase penyurutan prestasi drastis setelah masa-masa kegemilangan pada era pelatih tertentu, dari 1990 hingga 2013. Catatan 13 kali juara di era Liga Primer (sejak 1992), dan 20 trofi Liga Inggris menjadi rekor yang belum tertandingi.
Cakra Manggilingan?
Filsafat Jawa mengenali fenomena naik-turun itu sebagai Cakra Manggilingan. Inilah logika pusaran roda: kadang di atas, kadang di bawah. Pusaran manajemen memaknai kondisi ini sebagai refleksi kebelumcocokan figur pelatih dengan klub yang ditangani. Atau katakanlah, belum mampu mengurai persoalan yang sebenarnya sedang menyelimuti MU, dan bagaimana menerapkan jalan keluarnya. Belum ditemukan solusi dalam pergulatan proses, antara tesis, antitesis, dan sintesis.
Maka ketika Michael Carrick yang dipilih sebagai pelatih interim menjanjikan “selain kemenangan juga permainan yang enak dinikmati”, semua orang yang berkepentingan dengan MU kembali dibuai harapan. Juga mungkin bersikap skeptis, bersiap-siap untuk kembali diempas kekecewaan.
Orang bisa berpikir, “Main seadanya pun tidak masalah, yang penting menang”. Atau “Bermain sederhana tak apa-apa, tetapi bisa mengembalikan wibawa”. Atau berpikir seperti ideolog yang konsisten, “Menang, dari hasil permainan impresif”. Atau, mungkin dengan harapan minimalis, “Yang penting bisa kembali ke atmosfer elite”.
Bagi Michael Carrick, menerima tantangan melatih MU bagaimanapun adalah sebuah keberanian. Bukankah telah sekian nama besar yang harus menghadapi kenyataan pahit?
Mantan pemain The Red Devils 2006-2013 itu telah lima kali meraih trofi liga, dua kali Piala FA, sekali Liga Champions, sekali Liga Europa, dan sekali trofi dunia antarklub. Catatan ini tidak menjamin dia punya resep “cespleng” untuk mengembalikan MU ke panggung elite. Deret prestasi itu lebih ke “brand”, bahwa Carrick cukup memahami budaya juara bekas klubnya.
Nah, bisakah budaya juara memberi asupan modal kepada pelatih kelahiran Wall Send, Tyne and Wear, Inggris 44 tahun lalu itu dalam menangani Bruno Fernandes dkk?
Semasa bermain, Carrick dinilai punya kualitas unik. Dia punya peran vital dalam setiap pertandingan, namun selalu ada “di bawah bayang-bayang”. Dia konduktor orkestrasi yang menjadi pusat dan diteladani, sebagai pemimpin yang membuat respek rekan-rekannya, tetapi bukan tokoh yang menjadi sorotan utama.
Dia dikenal punya kecerdasan taktik, umpan akurat, dan kemampuan mengatur tempo permainan. Alex Ferguson memercayai eks pemain Tottenham Hotsur (2004-2006) itu sebagai jangkar, yang dengan konsisten dia perankan.
Punya Modal
Michael Carrick punya modal dalam kiprahnya sebagai pelatih interim. Saat meneruskan tugas Ole Gunnar Solskjaer hingga akhir musim 2020-2021, dia mendampingi MU dalam tiga laga. MU mencatat dua kemenangan dan sekali imbang. MU menang 2-0 atas Real Villareal di ajang Liga Champions, dan 3-2 atas Arsenal di Liga Primer. Hasil imbang 1-1 diperoleh ketika melawan Chelsea.
Artinya, lima tahun lalu, pendekatan taktik Carrick bisa menyatu dengan skema MU. Dia punya modal untuk diterapkan dengan kondisi skematika baru ketika memimpin Brian Mbeumo cs, yang diawali di Old Trafford, pada pekan lalu.
Dalam perjalanan 11 pelatih pasca-Ferguson, sudah beragam taktik dan karakter permainan yang diterapkan untuk Setan Merah. Terakhir, “komplikasi” antara kekukuhan taktik Ruben Amorim dengan mindset jajaran manajemen klub berujung pemecatan pelatih asal Portugal itu ketika kontraknya baru akan berakhir 2027.
Carrick memang hanya manajer interim hingga musim ini berakhir. Tentu kinerjanya akan dinilai: apakah dia layak dipermanenkan, atau bernasib sama dengan 10 pelatih lain yang sudah mencoba membedah penyakit MU dari 2013 hingga sekarang.
Ucapan Ralf Rangnick, pelatih yang dikenal sebagai arsitek permainan gegenpressing masih mengiang, bahwa MU butuh “operasi jantung” untuk mengurai permasalahannya. Apakah bedah jantung itu sudah dilakukan? Apakah langkah-langkah Erik ten Hag dan Ruben Amorim sudah masuk dalam konsep bedah total Rangnick? Terbukti, para manajer setelah coach asal Jerman itu tidak juga mampu memperbaiki keadaan.
Theatre of Dream yang melekat sebagai predikat untuk Stadion Old Trafford menyiratkan betapa kuat impian dan harapan fans MU untuk sebuah kebangkitan yang lama ditunggu.
Apakah “kebangkitan MU” memang menunggu kehadiran sosok seperti Michael Carrick? Atau dia bakal memperpanjang daftar mereka yang berjalan gontai meninggalkan Old Trafford?
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —













