blank
Mahasiswa FPB UKSW peserta KKN saat melakukan pendampingan pertanian terpadu di Desa Jeruk, Kecamatan Selo, Boyolali. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) (KKN FPB UKSW) di Desa Jeruk, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, menghadirkan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Melalui pendampingan pertanian terpadu, mahasiswa mendorong peningkatan nilai jual hasil pertanian sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga desa. “Pengolahan hasil pertanian memberi peluang tambahan penghasilan, khususnya bagi ibu-ibu,” ujar Dr. Yoga Aji Handoko, S.Si., M.Si., Dosen Pembimbing Lapangan KKN FPB UKSW, baru-baru ini.

Desa Jeruk yang berada di lereng tenggara Gunung Merbabu selama ini dikenal sebagai sentra tembakau di musim kemarau. Saat musim penghujan, petani beralih membudidayakan hortikultura seperti cabai, sawi pakcoy, sawi putih, labu siam, dan kubis. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), mahasiswa KKN FPB UKSW bekerja sama dengan Universitas Boyolali hadir mendampingi petani agar komoditas tersebut tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Pada tahap budidaya, mahasiswa memperkenalkan teknologi pembibitan soil block yang lebih efisien dan menghasilkan bibit sehat, serta pelatihan pembuatan biopestisida nabati dari bahan organik yang mudah diperoleh. Inovasi ini membantu petani menekan biaya produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen.

Tidak berhenti di lahan pertanian, program PMM juga menyasar penguatan ekonomi rumah tangga. Mahasiswa mendampingi Kelompok Wanita Tani Dusun Jeruk dan Krajan Lor dalam mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah seperti cabbage spring roll (dimsum kulit kubis), pakcoy cheese stick, manisan labu siam, serta frozen sambal goreng labu siam dalam kemasan vakum.

“Produk olahan ini memiliki potensi pasar yang luas dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” kata Donna Setiawati, S.Kom., M.M., anggota Tim PMM Universitas Boyolali. Menurutnya, produk tersebut berpeluang menjadi camilan khas Boyolali jika didukung pengelolaan usaha yang konsisten.

Untuk memperkuat aspek pemasaran, mahasiswa KKN juga memberikan pendampingan manajemen usaha dan strategi digital marketing, termasuk pemanfaatan marketplace dan media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, serta WhatsApp Business. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan omzet penjualan produk olahan warga.

Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan, tim pengabdian masyarakat menyerahkan berbagai fasilitas produksi dan pengolahan hasil pertanian kepada kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani. Bantuan tersebut meliputi alat analisis kesuburan tanah, box composter, cetakan soil block, tunnel nursery, serta peralatan pengolahan seperti chest freezer, lemari pendingin, mixer, blender, pasta maker, dan vacuum sealer.

Sekretaris Desa Jeruk, Supriyono Sumarlan menilai, program ini memberi manfaat langsung bagi perekonomian warga. “Pendampingan ini mendorong warga lebih kreatif dan mandiri dalam mengelola potensi pertanian desa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Badan Permusyawaratan Desa, Sunardi, yang menilai program KKN membuka peluang ekonomi baru berbasis pertanian lokal.