blank
Salah satu titik tanah longsor di Desa Rahtawu. foto: ist

KUDUS (SUARABARU.ID) – Bencana hidrometeorologi basah kembali menguji daya tahan Kabupaten Kudus. Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Pegunungan Muria dan kawasan hilir sejak beberapa hari terakhir memicu rangkaian bencana banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem. Dampaknya tidak hanya meluas, tetapi juga kompleks, menjangkau permukiman, infrastruktur vital, hingga menelan korban jiwa.

Berdasarkan laporan situasi terkini BPBD Kudus per Senin (12/1/2026) pukul 08.00 WIB, tercatat 4.610 kepala keluarga atau 14.437 jiwa terdampak, dengan dua orang meninggal dunia akibat laka air dan longsor. Puluhan titik longsor dan genangan banjir tersebar hampir di seluruh wilayah rawan bencana di Kudus

Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap

Kepala Pelaksana BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, menjelaskan bencana dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Jawa Tengah bagian utara, khususnya Pegunungan Muria, dengan intensitas di atas normal. Hujan deras yang berlangsung lama membuat tanah jenuh air dan sungai-sungai utama di Kudus mengalami peningkatan debit secara drastis.

“Sungai Gelis, Piji, dan Dawe mengalami kenaikan debit signifikan. Di sisi lain, kondisi tanah di wilayah lereng menjadi labil dan tidak mampu menahan resapan air hujan,” kata Eko.

Kondisi ini menyebabkan limpasan air ke permukiman dan persawahan di wilayah hilir, sementara di kawasan atas memicu longsoran tanah di berbagai titik lereng.

Baca juga:

Terseret Banjir di Kudus, Satu Orang Tewas dan Seorang Bocah Masih Dalam Pencarian

Hingga Senin (12/1/2026), dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Mejobo tercatat sebagai kawasan dengan dampak banjir paling luas. Limpasan Sungai Piji, Dawe, dan Mrisen merendam Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno. Ketinggian air bervariasi antara 5 hingga 55 sentimeter, merendam ratusan rumah dan puluhan hektare persawahan.

Di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, genangan juga merendam puluhan bahkan ratusan rumah warga. Di Kawasan ini, genangan juga merendam ruas jalan Pantura Kudus-Pati yang berakibat lalu lintas di ruas jalan nasional tersebut tersendat.

Di Desa Kesambi saja, lebih dari 500 KK terdampak dengan genangan mencapai 30 sentimeter. Sementara di Desa Temulus, air sempat bertahan cukup lama dengan ketinggian lebih dari setengah meter di sejumlah titik terendah.

Genangan juga meluas ke wilayah lain. Di Kecamatan Kota, banjir sempat terjadi di Desa Demangan dan Singocandi akibat limpasan Sungai Gelis. Meski telah surut, kerusakan talud dan badan jalan masih menyisakan ancaman lanjutan. Di Kecamatan Jekulo, genangan tercatat di Desa Hadipolo, sedangkan di Kecamatan Bae, banjir melanda Desa Ngembalrejo.

Wilayah Kecamatan Kaliwungu juga tak luput dari dampak. Desa Sidorekso, Mijen, Papringan, Gamong, dan Prambatan Kidul mengalami genangan dengan ketinggian hingga 60 sentimeter, merendam permukiman dan lahan pertanian warga.

Lereng Muria Longsor di Puluhan Titik

Sementara banjir menggenangi wilayah hilir, kawasan lereng Muria menghadapi ancaman berbeda. Tanah longsor terjadi di lebih dari 18 titik, terutama di Kecamatan Dawe dan Gebog. Di Dawe, longsor tersebar di Desa Japan, Kuwukan, Ternadi, Colo, Kajar, Kandangmas, Soco, Puyoh, Piji, dan Lau.

Di Kecamatan Gebog, longsor melanda Desa Menawan dan Rahtawu. Salah satu kejadian di Menawan menyebabkan satu warga meninggal dunia, sekaligus menegaskan tingginya risiko bencana di kawasan lereng yang padat permukiman.

Status Tanggap Darurat

Selain korban longsor, BPBD Kudus mencatat laka air di Desa Bacin yang merenggut nyawa satu warga. Sementara itu, di Desa Karangbener, seorang anak berusia lima tahun dilaporkan masih dalam pencarian setelah terseret arus sungai. Tim SAR gabungan masih melakukan upaya pencarian dengan menyusuri aliran sungai dan titik-titik potensial.