blank
Peserta PIBBI ACICIS melaksanakan simulasi adat manten. Foto: UKSW

KABUPATEN SEMARANG (SUARABARU.ID) – Untuk pertama kalinya, program Intensif Belajar Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) bersama Australian Consortium for in Country Indonesian Studies (ACICIS) mengajak 22 mahasiswa asing mengenal tradisi sungkeman, manten dan aksara jawa di Dusun Krajan, Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Menggandeng Dekan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Komunikasi (Fiskom) Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., sebagai narasumber sekaligus praktisi adat Manten, kegiatan seminar ini menjadi salah satu komponen penting pembelajaran bahasa dalam program Indonesian Language Short Course.

Dalam seminar tersebut, para peserta tak hanya diajarkan materi semata, namun juga mempraktekkan secara langsung bagaimana menulis aksara Hanacaraka atau Carakan serta mengikuti simulasi upacara Manten lengkap mengenakan busana Beskap dan Kebaya.

Exposure Culture

Kepala sub bagian Language Training Center (LTC) UKSW R.P.N Dian Widi Sasanti, S.Pd., menerangkan, seminar ini diadakan untuk kali pertama sebagai bagian dari exposure culture yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Biasanya dalam seminar terkait paparan budaya (exposure culture) diadakan di LTC dan kita mengundang narasumber, tapi untuk tahun ini kami ingin sedikit berbeda. Kami membawa mereka langsung terjun di lapangan. Belajar tentang beberapa kebiasaan dan menulis bahasa jawa, karena mempelajari bahasa tidak lepas dari memahami budaya daerah itu,” ungkapnya, belum lama ini.

Usai sesi materi, peserta diajak menikmati keindahan suasana pedesaan dengan berjalan kaki mengunjungi area persawahan dan mata air desa. Diadakannya kegiatan ini tentu memberikan warna tersendiri, terutama bagi Yuki Oda, mahasiswa asal Tokyo, Jepang yang menempuh studi di The University of Melbourne, Australia.

“Kesan saya tentu sangat indah sekali. Padi di sini sangat tertata. Saya dari Tokyo dan di sana juga ada padi. Hanya saja yang membedakan di sana tidak ada sistem terasering,” ujarnya.

Selain Yuki, antusiasme tampak dari keceriaan dan ragam pertanyaan yang bergulir, menunjukkan keterampilan mahasiswa dalam menyimak, menangkap informasi, serta berkomunikasi. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan keterampilan berbahasa Indonesia dengan baik.

“Harapan saya bisa berbicara dalam bahasa Indonesia lebih cepat dan baik, serta memiliki banyak teman lokal,” ungkap Kay Lewins, peserta asal University of New England, Australia.

Program Super Prioritas, Capai Internasionalisasi

Adapun seminar bertajuk Culture Sharing menjadi kegiatan lanjutan, di mana para peserta akan membagikan pengetahuan budaya dan tradisi dari masing-masing daerah.