blank
Penampilan kelompok lawak Kretek Grup di sebuah acara. Foto: tangkapan layar.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Kabar duka datang dari dunia hiburan tradisional Kudus. Hidayat Markaban, atau yang lebih dikenal dengan nama Markaban, salah satu pelawak legendaris dan pentolan Kretek Grup, meninggal dunia karena sakit pada usia 76 tahun, Senin (22/12/2025) pukul 11.24 WIB.

Rencananya, jenazah akan dimakamkan di TPU Desa Undaan Lor pada sore hari ini.

Kepergian Markaban menambah daftar personel Kretek Grup yang lebih dulu berpulang. Dua rekannya sesama pelawak, Kisut dan Muncul, telah meninggal dunia sebelumnya. Dengan wafatnya Markaban, berakhir sudah perjalanan tiga ikon utama Kretek Grup yang pernah mewarnai dunia hiburan rakyat di Kabupaten Kudus.

Kretek Grup merupakan grup lawak legendaris asal Kudus yang mulai dikenal luas oleh masyarakat sejak era 1970-an. Grup ini beranggotakan Kisut, Muncul, dan Markaban, yang dikenal dengan gaya lawakan khas Jawa, sederhana, namun sarat kritik sosial dan kearifan lokal. Penampilan mereka kerap menjadi hiburan utama dalam berbagai acara masyarakat, hajatan, hingga kegiatan resmi Pemerintah Kabupaten Kudus.

Sebagai pelawak asli Kudus, Kretek Grup menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya populer “Kudus Kota Kretek”. Lawakan yang dibawakan selalu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadikan mereka ikon hiburan lokal yang dicintai lintas generasi.

Memasuki awal tahun 2000-an, Kretek Grup masih cukup aktif tampil di berbagai panggung besar. Namun seiring perkembangan dunia hiburan dan munculnya tren hiburan modern, eksistensi grup lawak tradisional ini perlahan mulai tergeser.

Meski kini jarang tampil dan satu per satu anggotanya telah berpulang, warisan Kretek Grup tetap hidup dalam ingatan masyarakat Kudus. Markaban dan rekan-rekannya dikenang sebagai pelawak legendaris yang tak hanya menghibur, tetapi juga turut melestarikan seni dan budaya lokal melalui humor yang membumi dan relevan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Kepergian Markaban menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisional Kudus, sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga dan merawat warisan budaya lokal agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.

Ali Bustomi