SEMARANG SUARABARU.ID: Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi para pengrajin batik lokal di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
Menurutnya, industri batik saat ini dihadapkan pada tantangan besar, mulai dari perkembangan teknologi, persaingan pasar yang semakin kompetitif, hingga perubahan minat konsumen.
Jawa Tengah memiliki peran strategis dalam industri batik nasional. Berdasarkan data **Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Kementerian Perindustrian tahun 2024, terdapat 2.299 unit produsen batik di provinsi ini—jumlah terbanyak di Indonesia.
“Jawa Tengah bukan hanya pusat batik nasional, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian dan keberlanjutan industri batik. Karena itu, pendampingan bagi pengrajin menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, pendampingan tidak hanya berupa pelatihan membatik atau peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga harus mencakup aspek pengembangan desain, inovasi, digitalisasi pemasaran, hingga peningkatan literasi bisnis. Ia menilai bahwa banyak pengrajin batik yang memiliki potensi unggul, tetapi belum mampu mengoptimalkan teknologi atau akses pasar digital.
“Dinamika zaman menuntut pengrajin kita untuk adaptif. Mereka harus dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi, memahami tren pasar, sekaligus tetap mempertahankan akar budaya batik Jateng,” tegasnya.
Saleh menambahkan, pemerintah provinsi perlu memperluas program pendampingan melalui kemitraan dengan pelaku industri kreatif, lembaga pendidikan, hingga pusat riset kerajinan. Dukungan permodalan dan kemudahan akses bahan baku juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha para perajin, terutama UMKM.
“Kolaborasi lintas sektor harus diperkuat agar UMKM batik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas. Ini penting bagi ekonomi daerah sekaligus pelestarian warisan budaya,” imbuh Ketua DPD Golkar Jateng tersebut.
Ia menyampaikan bahwa DPRD Jawa Tengah siap mendukung penguatan industri batik melalui kebijakan dan penganggaran yang akan memberi dampak langsung kepada para pengrajin.
> “Kami di DPRD berkomitmen memberi ruang kebijakan yang berpihak pada pengrajin. Harapannya, batik Jateng tetap menjadi identitas kuat, berdaya saing tinggi, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” pungkas Saleh.













