JEPARA (SUARABARU.ID) – SMP Negeri 2 Kalinyamatan telah sukses menyelenggarakan eduwisata tahunan yang berfokus pada penguatan karakter siswa melalui tema Peduli Lingkungan dan Kearifan Lokal. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 11 Desember 2025 ini dirancang sebagai laboratorium pembelajaran di luar kelas, menggabungkan pendidikan budaya, sejarah, dan aksi nyata konservasi alam di Kabupaten Jepara.
Disamping didampingi secara langsung oleh Kepala SMPN 2 Kalinyamatan Agus Nurcahyo M.Pd, dalam kunjungan ini juga disertai guru pembimbing yaitu Noor Afifah S. Pd., Hamami, S. Pd.,Afif Junaidi, S. Pd.,Arsyi Resvitayani, S. Pd., Defi Anggraini, S. Pd., Dedi Septa C., S. Pd., dan Ilham Solikul H., S. Pd.
Sebanyak 40 pelajar diajak menelusuri tiga destinasi utama yang merefleksikan identitas Jepara. Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah pengetahuan teoritis menjadi tanggung jawab praktis. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai luhur daerah.

Perjalanan edukatif ini diawali dengan kunjungan ke Tenun Dewi Sinta di Troso. Destinasi ini dipilih untuk mengenalkan siswa pada salah satu warisan budaya tak benda Jepara yang bernilai tinggi. Siswa tidak sekadar melihat produk, tetapi diberi pemahaman mendalam mengenai proses pengerjaan kain tenun Troso yang memakan waktu dan ketelitian tinggi.
Di rumah produksi ini, siswa menyaksikan langsung demonstrasi tahapan krusial, mulai dari proses pembuatan benang, pencelupan warna, hingga teknik mengikat yang menjadi kunci lahirnya motif unik tenun ikat, hingga akhirnya ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Salah seorang pengrajin menjelaskan bahwa proses yang rumit dan manual ini menuntut kesabaran dan ketekunan nilai-nilai yang hendak ditanamkan pada siswa. Azzalea, salah satu siswi, mengungkapkan kekagumannya,
“Prosesnya sangat detail dan lama. Ini mengajarkan kami untuk menghargai setiap produk lokal dan ketekunan para pengrajin. Tenun Troso bukan hanya kain, tapi seni dan filosofi,” ujar Azzelea
Kunjungan ini sukses menumbuhkan kebanggaan siswa terhadap kekayaan budaya Jepara.

Beranjak dari apresiasi budaya, fokus kegiatan beralih ke aksi nyata peduli lingkungan di Pantai Empurancak. Bagian ini merupakan implementasi langsung dari tema konservasi.
Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok untuk melaksanakan Gotong Royong Bersih Pantai. Mereka menyisir garis pantai, memilah, dan mengumpulkan sampah anorganik, terutama sampah plastik yang mengancam ekosistem laut. Aksi ini bertujuan meningkatkan kesadaran kritis siswa terhadap polusi plastik dan pentingnya menjaga kebersihan pesisir.
“Melihat tumpukan sampah plastik yang kami kumpulkan hari ini membuat kami sadar betapa mendesaknya masalah ini. Ini adalah tanggung jawab kita semua,” ujar Keysha, koordinator kelompok siswa.

Puncak kegiatan di Empurancak adalah Penghijauan Pesisir. Dengan didampingi guru, siswa menanam ratusan bibit pohon cemara laut yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara. Pemilihan cemara sangat strategis karena akarnya dikenal kuat dalam menahan abrasi dan menjaga stabilitas pantai. Aksi penanaman ini menjadi pelajaran praktis tentang pentingnya mitigasi bencana alam dan konservasi jangka panjang.
Destinasi penutup eduwisata ini membawa siswa ke jantung sejarah Jepara, yaitu Museum Kartini yang baru, terletak di belakang Pendopo Kabupaten. Kunjungan ini berfungsi untuk memperkuat aspek kearifan lokal melalui napak tilas perjuangan tokoh emansipasi R.A. Kartini.
Di museum, siswa disajikan berbagai koleksi dan informasi tentang kehidupan serta pemikiran progresif Kartini. Fokus utama dari kunjungan ini adalah menyerap nilai-nilai perjuangan Kartini yang menekankan pada pendidikan, kemandirian, dan pemberdayaan. Nilai-nilai ini ditekankan sebagai fondasi penting bagi generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang berintegritas dan peduli. Kunjungan ini diharapkan menginspirasi siswa untuk menjadikan kearifan lokal, sebagaimana dicontohkan Kartini, sebagai landasan dalam bertindak.
Kegiatan eduwisata SMPN 2 Kalinyamatan ini dinilai sukses sebagai model pembelajaran holistik. Dari ketekunan para pengrajin, tanggung jawab terhadap lingkungan, hingga inspirasi perjuangan Kartini, setiap segmen memberikan kontribusi unik dalam pembentukan karakter siswa.
Kepala SMPN 2 Kalinyamatan, Agus Nurcahyo, S.Pd., M.Pd., mengaku bangga melihat antusiasme siswa yang aktif terlibat, bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pelaku perubahan.
“Eduwisata ini membuktikan bahwa pendidikan terbaik adalah yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik nyata, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang mencintai budaya dan peduli pada alamnya,” ujar Agus Nurcahyo
Program ini menegaskan komitmen sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas, berbudaya, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Hadepe – Arsyi Resvitayani – Tim Kesiswaan













