KETIKA berada di Stasiun Semarang Tawang, kita selalu mendengar penanda kereta akan datang atau berangkat, berupa instrumentalia potongan lagu “Gambang Semarang”.
Ya, Gambang Semarang merupakan bentuk kesenian khas, yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Cina. Pada awalnya gambang Semarang memang banyak dimotori leh warga Tionghoa seperti Lie Ho Sun dan Oey Yok Siang. Oey Yok Siang inilah yang dikenal sebagai pencipta lagu Gambang Semarang.
Lagu Gambang Semarang sendiri sangat popular dan banyak dinyanyikan, khususnya oleh para penyanyi keroncong. Tetapi pergelaran musik Gambang Semarang belakangan ini memang nyaris tidak ada.
Berbeda dengan tahun 1980-an, saat generasi ketiga Gambang Semarang dengan personel Jayadi sebagai pemain bonang, kemudian Sunoto dan Mbah Kalud sebagai pemain gambang dan kendang.
Saat itu sering tampil di berbagai even, di antaranya di THR Tegalwareng (sekarang Taman Budaya Raden Saleh), di kampus, bahkan terakhir di sebuah hotel yang tampil rutin di lobi menyambut para tamu. Tetapi setelah mereka semua tiada, Gambang Semarang pun tenggelam.
Memang, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UNDIP punya kelompok Gambang Semarang, dan dulu sering tampil. Tetapi belakangan juga sangat jarang.
Sebenarnya, pertunjukan Gambang Semarang akhir-akhir ini sebenarnya sering tampil, terutama kelompok Gambang Semarang Art Company (asuhan Tri Subekso).
“Itu pun karena ada pendanaan pihak ketiga yang jumlahnya cukup besar. Karena biaya menanggap kru lengkap Gambang Semarang memang cukup tinggi, jadi kendala ada di pendanaan,” ujar Yvonne Sibuea, kurator di Rumah Pohan.

“Yang masih aktif juga kelompok Gambang Semarang dari Klub Merby, walau tidak tampil sesering Gambang Semarang Art Company,” kata Yvonne.
Main di Rumah Pohan
Untuk kembali mengingatkan bahwa Semarang punya kesenian tradisional yang pernah moncer, Dewan Kesenian Semarang (Dekase)bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah menggelar pertunjukan Gambang Semarang.













