
Gelaran music Gambang Semarang ini dimainkan Unit Kegiatan Mahasiswa Kridha Laras, Universitas Negeri Semarang, Minggu malam 23 November 2025, di Rumah Pohan Exhibition and Creative Space, Jalan Kepodang 64 Kota Lama Semarang.
Ketua Dewan Kesenian Semarang Aditya Armitrianto mengatakan, gelaran musikGambang Semarang ini didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prvinsi Jawa Tengah dan anggota DPRD Provinsi Jateng Kriseptiana.
Adit mengakui, seni Gambang Semarang seakan tenggelam karena kalau pun ada peminat, tetapi kesulitan mendapatkan peralatan musiknya seperti gambang dan bonang.
“Tetapi Unnes menyediakan diri, untuk mereka yang berminat. Bahkan sudah dibuat aplikasinya, sehingga tidak harus menggunakan gambang, misalnya. Cukup menggunakan laptop,” kata Adit.
Adit juga menyebut, eksistensi Rumah Pohan yang dikelola pasangan suami-istri Po Han dan Sylvi Probowati. “Rumah Pohan tak sekadar memelihara dan merawat bangunan cagar budaya, tetapi juga mengisinya dengan aneka kegiatan seperti pameran, diskusi, dan pentas kesenian,” ujar Adit.
Hadir juga Sulistiyono dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng mewakili kepala dinas. Sulistiyon menyampaikan, Gambang Semarang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2018. “Gambang Semarang bukan sekadar lagu, tetapi sudah menjadi identitas kota Semarang,” kata Sulistiyono.
Pertunjukan seni Gambang Semarang yang dimainkan oleh para mahasiswa Unnes ini menjadi Langkah berarti, sehingga diharapkan ke depan Bambang Semarang mendapatkan tempat yang lebih luas lagi.
Minus Gambang
Grup dengan tujuh pemain plus dua vokalis ini menampilkan empat buah lagu, diselingi lawak. Pertama mereka menampilkan lagu Goyang Semarang ciptaan komponis keroncong asal Semarang Kelly Puspita.
Kemudian juga menampilkan lagu ikon seni musik tradisi ini, yaitu Empat Penari yang di dalam liriknya disebut Gambang Semarang ciptaan dan Oey Yok Siang, kemudian Senthir Lenga Patra yang dipopulerkan Didi Kempot, dan lagu terakhir Walang Kekek yang pada awalnya dipopulerkan oleh Waldjinah.

Gambang Semarang memang kesenian yang menggabungkan musik, vokal, tari, dan lawak. Itulah yang dipenuhi dalam pertunjukan Minggu malam tadi. Meski hanya tiga lagu yang ditampilkan, tetapi setidaknya sudah mengingatkan bahwa Semarang punya kesenian yang bahkan sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, yaitu Gambang Semarang.
Penampilkan UKM Kridha Laras Unnes ini memang layak mendapatkan apreasiasi, meskipun instumennya tidak lengkap sebagaimana Gambang Semarang. Bonang, saron, kepyek/kecrek memang tersedia dalam permainan itu. Tetapi justru yang menjadi ikon, yaitu gambang tidak ada.
“Untuk instrumen gambang kami mainkan menggunakan keyboard, Pak,” ujar seorang pemain.
Temannya pun nyeletuk, “Wah bukan Gambang Semarang tetapi keyboard Semarang,” ujarnya sambil tertawa.
Selain penampilan kelompok musik Gambang Semarang, dalam acara tersebut juga tampil kelompok musik Satoe Bumi yang dimotori seniman senior Kelana Siwi dan kawan-kawan.
R. Widiyartono













