blank
Sudi Hariyanto, perangkat desa yang aktif dalam kegiatan budaya. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Dikalangan seniman dan pegiat budaya Jepara, nama Sudi Hariyanto tak asing lagi.  Rekam jejak panjang, sikapnya yang  ramah dan “entengan” membuat  pria kelahiran 9 Desember 1982 banyak dikenal di berbagai komunitas. Ia tidak pernah menolak tugas yang diberikan.

Sudi Hariyanto yang sejak tahun 2017  mengabdikan dirinya sebagai perangkat Desa Margoyoso, Kecamatan Kalinyamat,  Jepara mulai aktif berkegiatan di luar desanya pada tahun 2009. Ia terlibat dalam berbagai even budaya. “Saat itu usia saya baru 17 tahun. Walaupun masih muda, bisa berinteraksi dengan pak Bupati Jepara kala itu ,” kenang Mas Sudi, demikian panggilan akrabnya.

Ia kemudian mendapatkan kepercayaan juga dalam berbagai even kreatif di Jepara, utamanya saat di gelar Festival Kartini dari tahun 2013 – 2016  yang monumental. Juga mulai terlibat dalam forum-forum diskusi budaya dan sejarah.

blank
Sejak remaja Sudi Hariyanto telah aktif di kegiatan budaya di Jepara. Foto: Dok Pribadi

“Saya banyak belajar dari para senior dan kreator yang menggawangi even-even ini. Totalitas dalam mendedikasikan diri dalam pembangunan Jepara adalah spirit yang saya pegang dan teladani hingga saat ini, termasuk saat mengabdi sebagai perangkat desa,” tuturnya. Karena itu saya akan mencoba sekuat tenaga untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh pimpinan, tambah Sudi

Sudi Hariyanto juga mengaku terinspirasi dengan perjuangan R.A. Kartini yang tak pernah menyerah menghadapi  tantangan yang demikian berat. “Beliau selalu  mendedikasikan seluruh jiwa dan raganya  kepada masyarakat dan bangsanya. Bukan hanya untuk kaum perempuan,” tutur Mas Sudi  yang menjadi salah satu penulis buku Mozaik Gagasan RA. Kartini untuk Bangsanya.

Ia juga mengaku bangga karyanya bisa diterbitkan bersama dengan para penulis senior dan guru pegiat literasi Jepara. “ Semoga kelak Desa Margoyoso memiliki buku tentang sejarah desanya sebagai media pembelajaran bagi anak – anak muda. Apalagi ada leluhur yang bernama Tumenggung Cendol dimakamkan di Margoyoso, ,” ujarnya penuh harap.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai perangkat desa, Mas Sudi kini juga aktif disejumlah lembaga mulai Yayasan Kartini Indonesia, Yayasan Kartini AWARD Indonesia, Yayasan Pelestari Budaya Masyarakat Jepara dan Yayasan Pendidikan Islam Alfallah Margoyoso. “Ingin mengabdikan diri kepada masyarakat adalah keinginan terbesar kami,” pungkasnya.

Hadepe