WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kiat memulihkan kembali kejayaan Cengkih (Syzygium aromaticum) sebagai Emas Hijau, kini dilakukan di Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Wonogiri, yang sejak dulu dikenal sebagai sentra tanaman Cengkih.
Upaya pemulihan kembali kejayaan Cengkih, dilakukan melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) tanaman Cengkih. Ini melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jatipurno dan Kelompok Tani (Poktan) Gayuh Utomo Desa Kembang. Para pihak terkait ini, menggelar kegiatan terpadu, untuk secara kompak saling memberikan dukungan.
Tokoh masyarakat Jatipurno, Tarmin, semalam, menyatakan, kegiatan Gerdal juga melibatkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Jatipurno, Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Wonogiri, serta Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah.
Kiat untuk memulihkan kejayaan tanaman Cengkih sebagai Emas Hijau, ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali produktivitas Cengkih di wilayah Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri.
“Melalui Gerdal, kami ingin petani memahami teknik pengendalian penyakit yang tepat, dan menerapkannya secara rutin agar hasil panen meningkat,” ujar Penyuluh Pertanian BPP Jatipurno, Herry Subeno, saat memberikan pendampingan kepada para petani.
Selain menerima materi penyuluhan, para petani Cengkih juga mendapatkan bimbingan langsung tentang teknik pemulihan tanaman Cengkih melalui praktik lapangan. Mulai dari pembuatan lubang parit berjarak satu meter dari tajuk tanaman, untuk diberikan pupuk organik padat, bioinsektisida dan pupuk organik cair (POC).
Bakteri
Langkah ini, terbukti efektif dalam memperbaiki kesuburan tanah, sekaligus menekan penyebaran penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC), yang disebabkan oleh Pseudomonas syzygii.
Sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah, petani juga menerima bantuan stimulan sarana produksi pertanian (Saprotan), terdiri atas bioinsektisida, pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Bantuan ini, tidak hanya meringankan beban petani, tetapi juga menjadi pemicu semangat baru untuk meningkatkan kualitas perawatan tanaman.
Kondisi tanaman cengkeh di Jatipurno selama beberapa tahun terakhir memang mengalami penurunan. Baik dari sisi keluasan tanaman maupun produktivitasnya. Faktor usia tanaman yang sudah tua dan serangan penyakit, menjadi penyebab utama.
Melalui Gerdal, para petani kini memperoleh pendampingan intensif untuk mengubah cara pandang, dan meningkatkan keterampilan dalam perawatan tanaman Cengkih secara berkelanjutan.
“Gerakan ini bukan sekadar kegiatan sesaat, tetapi awal dari kebangkitan Cengkih Jatipurno. Kami ingin menjadikan wilayah ini kembali produktif seperti masa kejayaannya dulu,” tutur Kepala Desa (Kades) Kembang, Suwarno.
Dengan keterlibatan aktif para pihak, mulai dari penyuluh, Dinas Pertanian, hingga Kelompok Tani, kegiatan Gerdal diharapkan menjadi simbol sinergi dan kebangkitan pertanian lokal di kabupaten Wonogiri. Harapannya, mampu menjadi inspirasi bagi wilayah lain, untuk terus menumbuhkan harapan dan menjaga keberlanjutan komoditas unggulan di Tanah Air.(Bambang Pur)













