blank
Dalam memberikan edukasi pemadaman api, Tim Fire Fighter dari Damkar Pemkab Wonogiri, juga memberikan bimbingan praktik pemadaman api yang digelar di Lapangan Kali Puru Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Damkar Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Edukasi penanganan kebakaran, Minggu (19/10/25), digelar di Lapangan Kalipuru, Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Diskenario, kompor di dapur mendadak berkobar.

Bagaimana cara mengatasinya ? Itu dapat diatasi memakai teknik pemadaman api ringan. Yakni langsung copot aliran selang gasnya yang terhubung ke tabung. Bisa juga memakai sarana karung goni basah, untuk menutup ke sumber nyala api kompor.

Setelah beberapa kali memberikan contoh, personel fire fighter (petugas pemadam kebakaran atau Damkar) dari Markas Induk Damkar Pemkab Wonogiri, menawarkan kepada peserta untuk berpraktik.

”Tenang harus fokus, ayo maju pelan-pelan, dan tutupkan karung goni basah ke titik nyala api…..” kata personel Fire Fighter memberikan instruksi. Tapi karena masih agak gugup, api tidak mau padam. Mengapa ini terjadi ? Karena cara menutupkan karung goni basah tidak rapat. Ketika diulangi lagi dengan cermat, nyala api pun langsung padam.

Edukasi teknik pemadaman api ini, digelar untuk sekaligus mengisi kegiatan dalam memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Tahun 2025. Ketua Panitia HSN Kecamatan Selogiri, Harsono, menyatakan, edukasi pemadaman api ini diikuti oleh 975 peserta santri bersama 230 petugas pendamping.

Ikut hadir, Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Wonogiri Azalea Puteri Utami, Forkopimcam Selogiri, para Kepala Urusan Agama (KUA) bersama jajarannya, para Pengasuh Pondok Pesantren dan para Takmir Masjid.

Manual

Tim Fire Fighter dari Damkar Pemkab Wonogiri dipimpin Koordinator Lapangan (Korlap) Sriyanto Kembo. Materi yang diberikan, teknik pemadaman api ringan. Yakni memakai cara manual dengan sarana karung goni basah, dan menggunakan tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Ada syarat utama yang diperlukan agar api bisa menyala, yang dikenal sebagai teori tetrahedron api. Jika salah satu dari unsurnya dihilangkan, maka nyala api akan padam. Syarat tersebut, adalah adanya bahan bakar (zat apa pun yang dapat terbakar, seperti kayu, kertas, gas, atau bensin), Kemudian Oksigen (O2) atau gas yang dibutuhkan untuk mendukung proses pembakaran. Kadar oksigen yang tinggi, akan membuat api menyala lebih hebat. Selanjutnya adanya unsur panas.

Sebelum teori tetrahedron diperkenalkan, ada pemahaman yang lebih sederhana yang disebut Segitiga Api. Ini mencakup tiga elemen, yakni bahan bakar, oksigen dan panas. Bila salah satu syarat tersebut diputuskan, maka nyala api menjadi padam.

Kepada peserta diingatkan agar tidak berlaku sembrono terhadap api. Juga jangan menganggap sepele terhadap api awal yang nyalanya masih kecil. Sebab dari api kecil, manakala tidak segera dipadamkan, dapat berkobar menjadi musibah kebakaran yang hebat.

Penanganan api awal, menjadi kunci sukses dalam penanggulangan kebakaran. Ini dilakukan oleh pihak-pihak yang berposisi di ring satu, yaitu pemilik rumah, pemilik toko atau warung, dan pengasuh Pondok, Dalam mekanisme pemadaman api, bantuan Damkar, berada pada ring tiga, setelah bantuan warga sekitar yang berposisi di ring dua kewalahan.(Bambang Pur)