GOMBONG (SUARABARU.ID) -“Gerak adalah doa, tubuh adalah bahasa.” Begitulah makna yang menjadi napas pentas Dhealogy “Art for Art’s Sake” yang menampilkan 11 tarian oleh 11 penari.
Yang menarik, ini sebuah pertunjukan tari dan teatrikal diselenggarakan Sanggar Dhea Sabtu (10/10) malam 2025 mampu memukau penonton di Lapangan Mandala Krida, Desa Semanding, Kecamatan Gombong, Kebumen
Acara ini menjadi even perdana mandiri Sanggar Dhea sebagai panggung besar yang merangkum perjalanan panjang sanggar yang telah berdiri sejak tahun 2001.
Melalui program Dhealogy, Sanggar Dhea menegaskan pandangannya bahwa seni lahir dari tubuh manusia, tumbuh dalam jiwa, dan kembali kepada manusia. Sebuah proses pencarian akan makna gerak sebagai doa, bahasa, dan kebebasan.

Sanggar Dhea didirikan oleh Desilia Santoso, yang akrab disapa Bu Lia, selama ini aktif melatih tari tradisional dan kreasi, baik di rumah sang pendiri maupun di Roemah Martha Tilaar (RMT) Gombong.
Bersama putrinya, Cathlin Calista, mereka juga mengajar ekstrakurikuler tari di berbagai sekolah di Kabupaten Kebumen.
Tahun ini menjadi istimewa karena Cathlin Calista baru saja menyelesaikan studi S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, kembali menjadi pencetus sekaligus koreografer utama dalam puncak pertunjukan bertajuk “Jagawana: The Last Whisper of Earth.”
Tarian tersebut menjadi refleksi mendalam tentang interaksi manusia dan bumi, sebuah ajakan untuk menyadari kembali bahwa nasib jagat raya berada di tangan kita.
Melalui gerak dan ekspresi, seni menemukan cara untuk menuntun manusia yang sempat menghilang atau lupa diri agar kembali menemukan dirinya.
Dipadukan dengan elemen teatrikal yang dramatis, penampilan ini berhasil memukau penonton yang memenuhi Lapangan Mandala Krida Desa Semanding, Kecamatan Gombong, Kebumen.
Secara keseluruhan, Dhealogy “Art for Art’s Sake” menampilkan 11 tarian dengan 80 penari dari berbagai jenjang usia. Ragam tarian yang dipentaskan mencakup tema tradisional dan kreasi, seperti Jaifuk, Lengger, dan Wercita, yang merepresentasikan kekayaan gerak sekaligus semangat muda para penari.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah Tari Ngerong, yang dibawakan oleh para ibu dari penari Sanggar Dhea.
“Saya sangat gembira bisa turut bergabung dalam penampilan kali ini. Kami berlatih selama kurang lebih tiga bulan dalam sesi khusus yang diberikan oleh Bu Lia,”terang Linda Sri Puji Astutiningsih, salah satu penari, yang biasanya hanya mengantar dan menjemput anak-anaknya ke sanggar.
Kegiatan ini dihadiri Drs Raja Alfirafindra MHum, dosen ISI Yogyakarta. Raja Alfirafindra pun menyampaikan antusiasme dan dukungan besarnya terhadap acara ini sebagai langkah penting dalam membangun ekosistem seni di daerah.
Desilia Santoso menyatakan, terwujudnya pentas kali ini tidak lepas dari semangat gotong royong Karang Taruna Desa Semanding dan para sukarelawan. Mereka bisa bergandengan tangan menciptakan panggung terbuka bagi ekspresi seni dan kebersamaan masyarakat.
Pihaknya berharap even itu sekaligus bisa memantik semangat bagi para seniman muda untuk terus berkarya dan menghidupkan seni di tanah kelahiran mereka serta di mana pun berpijak.
Komper Wardopo













