PACITAN (SUARABARU.ID) – Para nelayan di Pantai Tamperan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menggelar Tasyakuran Laut dengan menyertakan sesaji Buseng Suci. Ini dilakukan sebagai tradisi wujud syukur nelayan sebagai insan bahari, dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah 1448.
Bagian Porkopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, tardisi Tasyakuran Laut tersbeut, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil yang diperoleh dari menangkap ikan di laut. Gelaran Tasyakuran Laut oleh masyarakat nelayan ini, merupakan tradisi kearifan lokal dan menjadi event budaya tahunan yang senantiasa dilestarikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah, saat membuka secara resmi acara Festival Nelayan 2026. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Tahun baru Hijriyah 1448 di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelabuhan Tamperan.
Selain melestarikan budaya lokal, lanjut Wabup Gagarin, kegiatan tersebut juga menjadi pembelajaran bagaimana melestarikan laut sebagai salah satu sumber mata pencaharian bagi insan nelayan. Momentum pergantian tahun, merupakan waktu yang baik untuk introspeksi diri, untuk mawas diri agar ke depan dapat melakukan perubahan yang lebih baik. “Mari kita jaga perairan laut, hindari illegal fishing agar tidak menghancurkan habitat ikan di laut,” katanya.
Mauidhoh
Kabupaten Pacitan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar dan prospektif. Yakni memiliki garis pantai sepanjang 70 mil, membentang di 7 dan 26 desa. Laut Pacitan, memiliki potensi sumber daya ikan yang beraneka ragam.
Sesepuh Nelayan Pacitan, Imam Haryono, menyatakan, zaman pasti akan mengalami perubahan, akan tetapi budaya jangan sampai berubah.
Dalam tasyakuran laut ini, para nelayan juga menyertakan usungan Buceng Suci. Yakni nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, yang digunakan sebagai sesaji lambang spiritual dalam tradisi upacara adat Jawa.
Acara tradisi Tasyakur Laut ini, diawali dengan kumpul bersama para insna nelayan di halaman UPT Pelabuhan Tamperan. Mereka kemudian memanjatkan doa bersama yang dirangkai dengan Mauidhoh Hasanah oleh Pengasuh Pondok Pesntren (Ponpes) Tremas, KH Luqman Haris Dimyati. Usai acara makan bersama, masyarakat nelayan kemudian mengarak tumpeng menuju pantai. Ini dilakukan untuk melaksanakan trasisi larung laut yang dilaksanakan para nelayan.
Tasyakuran laut oleh masyarakat nelayan tamperan merupakan bagian dari rangkaian acara Festival Nelayan yang digelar dalam rangka menyambut tahun baru Hijriyah 1448 H. Selain tasyakuran laut juga dilaksanakan pengajian akbar serta bakar ikan secara massal.
Mauidhoh hasanah berasal dari bahasa Arab yang berarti nasihat baik, pengajaran yang baik atau pesan-pesan positif. Istilah ini sangat populer dalam konteks komunikasi dan dakwah Islam, yang merujuk pada beberapa poin utama. Yang disampaikan lembut menyejukkan, penuh kasih sayang dan tidak menghakimi atau mempermalukan. Berisi pesan bermanfaat, mengajak pada kebaikan dengan cara memberikan bimbingan, wasiat, dorongan (motivasi) dan peringatan. Ini merujuk langsung pada perintah Al-Qur’an (Surat An-Nahl ayat 125).(Bambang Pur)













