Oleh : Fakrudin Brodin
Pameran Tunggal lukisan seorang pelukis senior Jepara, Arie Jatmiko yang menekuni kesenian (Seni Rupa) sepanjang perjalanan hidupnya telah digelar di Art Center Universitas Diponegoro dari tanggal 6-9 Oktober 2025. Dengan tema Restopeksi Djatmikaning Bhumi, Arie menampilkan 50 karyanya dalam perhelatan budaya yang diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke 60 Fakultas Ilmu Budaya.
Arie Jatmiko adalah sosok seorang seniman rendah hati, yang mengingatkan kita untuk menikmati karya karyanya dengan renungan yang bersahaja, proporsional dan tak harus dengan mengerutkan dahi dan pisau filsafat yang terlalu serius.

“Adalah sederhana untuk bisa memahami lukisan lukisanku, seakan tak perlu tafsir filsafat untuk menilainya. Seni menawarkan momen reflektif. Refleksi mendorong kita untuk tetap jernih bertenggang rasa di tengah rutinitas hidup yang mendesak desak. Refleksi bisa menajamkan penghayatan akan hidup sehingga tak terjebak pada Dehumanisasi. Seni baru bisa terasa eksistensinya kalau mampu menciptakan peristiwa peristiwa yang kuat bentuk dialognya “, demikian sebuah pengantar yang menurut prasangka saya dipilih oleh Mas Kuss Indarto dari pernyataan Sang Seniman itu sendiri.

Namun disisi lain kita mengerti, dari pernyataan tersebut itu kita tahu bahwa untuk menikmati karya karya Arie Djatmiko butuh refleksi kejernihan hati dan pikiran, butuh satu pemahaman bahwa seni adalah sebuah peristiwa yang melintas menjadi bacaan, jejak yang mungkin saja membekas menjadi kenangan, pencerahan, pelajaran.

Dan begitulah Mas Arie Djatmiko yang saya kenal. Santun, cerdas, berwawasan luas dan punya cara pandang unik akan segala fenomena hidup ini untuk bisa diekspresikannya pada sebuah karya seni. Dan itu sama sekali tidak sederhana. Butuh dialog yang intens pada setiap karyanya.
Pameran tunggal itu memamerkan tidak kurang dari 50 karya lukis dari periode dan genre yang berbeda. Dikuratori oleh Kuss Indarto seorang Kurator Seni Rupa yang juga melek dinamika politik nasional karena terlibat aktif di dalamnya sejak masih muda sampai hari ini.

Dalam kesempatan ini Kurator tak terlalu banyak menafsir secara verbal dari karya karya yang dipamerkan. Lebih terkesan ia hanya mendampingi sang Seniman senior. Kerja kerja di belakang layar yang memungkinkan karya karya Restopektif Seniman mendapatkan respon yang proporsional dari pemirsa terutama generasi kekinian yang sangat akrab dengan piranti piranti digital.
Kembali lagi ke karya karya Mas Jat, yang reflektif tadi sesungguhnya tidak akan cukup untuk dinikmati hanya beberapa jam. Bahkan menurut pendapat saya begitu banyak bab atau hal ihwal yang jika disusun akan menjadi sebuah buku tebal yang bergizi tinggi.

Bab tentang tokoh tokoh besar dari Jepara, kota kelahirannya saja bisa menjadi dialog panjang. Dari Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, Sosrokartono, Kartini, Cipto Mangunkusumo, Kusumo Utoyo yang dilukis secara realis tentu akan menjadi refleksi historis bagi para pemirsanya.
Dari sebuah lukisan seorang tokoh besar pemirsa “dipaksa” mengingat dan berpikir kembali segala kenangan dan pengetahuan tentangnya. Sehingga mau tidak mau kita akan “berdialog” dengan seniman lewat karya yang ada di depan matanya.

Di dalam karya yang berjudul: Ditembak laka laka (Apropriasi lukisan “Antara hidup dan mati” nya Raden Saleh), tentu pengetahuan kita tentang Sejarah, tentang seorang Raden Saleh, tentang kolonialisme, tentang mickey mouse, tentang kebudayaan, tentang bentuk bentuk baru penjajahan akan sangat menentukan apresiasi kita akan karya tersebut.

Karya apropriasi yang baik seperti mengaduk aduk pikiran dan perasaan pemirsanya. Memberi pengalaman baru. Dan bukankah hal itu yang dikehendaki Seniman dari pemirsanya?
Sebuah lukisan berjudul Dialog visualnya adalah seorang balita yang baru bisa “mbrangkang” sedang berinteraksi dengan seekor lebah madu yang ditampilkan sangat besar. Banyak sekali tafsir yang melintas di kepala. Seolah membuka pintu imajinasi siapa saja yang melihatnya.

Berkesempatan mengunjungi pameran tunggal Mas Arie Jatmiko bertajuk Restopeksi Djatmikaning Bhumi yang digelar di Art Center Universitas Diponegoro Semarang bagi saya bukan saja kesempatan menikmati keindahan sebuah karya seni. Karya-karya yang dipamerkan berisi ajakan untuk menjaga harmoni antara manusia, bumi, dan alam semesta.

Apalagi kami juga bertemu dan berbincang dengan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip, Prof Dr. Alamsyah, S.S., M.M. yang mengungkapkan karya Arie Jatmiko sebagai bukti nyata pelestarian budaya melalui seni rupa. Kolaborasi antara kampus dan seniman, menurutnya, adalah langkah penting untuk menghadirkan seni yang sarat nilai historis, filosofis, dan kebangsaan.
Penulis adalah budayawan dari Jepara













