blank
Prosesi Puja Doa Kretek berlangsumng khidmat dan hening.

KUDUS (SUARABARU.ID) – Acara Puja Doa Kretek di Djarum Oasis Kretek Factory Kudus berhasil menutup malam dengan suasana yang khidmat. Acara yang digelar PT Djarum ini adalah sebagai bagian dari peringatan Hari Kretek Nasional yang jatuh pada hari yang sama, 3 Oktober 2025.

Malam itu menjadi sebuah refleksi serta ritual bersama di tengah masyarakat, serangkaian acara mengupas perjalanan panjang kretek dan peranannya dalam kehidupan sosial maupun ekonomi dan budaya yang berlangsung lancar dan penuh dengan makna.

blank
Kyai. H. Aslim Akmal

Suasana khusyuk mengiringi jalannya prosesi Puja Doa Kretek. Dari pembacaan Kronika Kretek oleh Wijayanto Franciosa dan Tania Kirana hingga Puisi oleh Asa Jatmiko. Hadir pula dialog budaya bersama Kyai. H. Aslim Akmal dan berbagai pertunjukan yang berhasil memukau penonton oleh para aktor Teater Djarum. Acara secara keseluruhan menghadirkan penghormatan yang mendalam terhadap kretek sebagai simbol budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Kota Kudus.

“Ini tampak menjadi sebuah momen refleksi dan penghormatan atas sejarah serta budaya kretek yang telah menjadi bagian dari warisan bangsa Indonesia.” Ujar Asa Jatmiko sebagai penggagas acara tersebut.

blank

Pukul 22.00 malam itu, tampak masyarakat telah hadir duduk berdampingan dengan suasana basah lembabnya sisa hujan. Mereka terlihat bernostalgia dengan perjalanan panjang kretek yang menjadi jantung kehidupan Kota.

“Sebenarnya ini lebih dari sekadar acara seremonial, melainkan juga bentuk rasa syukur bersama.  Melalui doa yang dipanjatkan, semua seakan bersatu dalam satu makna, mensyukuri hadirnya kretek sebagai anugerah dan salah satu sumber penghidupan yang mengakar kuat di tanah Kudus,” ujar  Asa saat ditemui usai acara.

blank
Asa Jatmiko sebagai penggagas acara yang laruh dalam prosesi Puja Doa Kretek

Prosesi acara diawali dengan berjalan bersama sambil membawa perlengkapan yang terdiri atas sembilan elemen bahan utama pembuatan rokok kretek, seperti tembakau, cengkeh dan lainnya. Serta ada dupa, bunga, dan obor yang menyala di tangan para pelaku prosesi yang menambah sakralnya suasana.

Setibanya di Monumen Kretek, prosesi dilanjutkan dengan pembacaan Kronika Kretek oleh Wijayanto Franciosa dan Tania Kirana, sebuah narasi tentang asal-usul serta perjalanan panjang kretek sebagai warisan budaya dan industri khas Kota Kudus. Di belakangnya tampak pula sejumlah anggota Teater Djarum yang kompak mengenakan busana bernuansa putih menguatkan kesan sakral pada prosesi tersebut.

blank
Pembacaan Kronika Kretek oleh Wijayanto Franciosa dan Tania Kirana

Pembacaan puisi “Pamflet Kretek” karya Asa Jatmiko menjadi salah satu inti pada acara ini. Puisi ini menggambarkan bagaimana persoalan sosial di Indonesia terjalin erat dengan sejarah dan budaya kretek. 

Melalui puisinya, Asa menunjukkan gambaran perjuangan para pegiat kretek di tengah modernisasi dan kebijakan yang sering kali tidak berpihak. Asa menerangkan bahwa puisi ini bukan adalah bentuk refleksi sosial yang mengingatkan kita bahwa di balik sebatang kretek tersimpan kisah panjang tentang ketahanan, perjuangan, dan suara rakyat yang tak boleh dilupakan.

blank
Bagian prosesi Puja Doa Kretek

Acara dilanjutkan dengan sesi dialog budaya bersama Kyai H. Aslim Akmal, beliau menekankan bahwa kretek bukan sekadar racikan tembakau dan cengkeh, melainkan identitas serta kearifan lokal masyarakat Kudus.

“Rokok kretek telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bahkan di pesantren. Santri sering menjadikannya teman sejati dan membawanya saat sowan kepada kiai,” ujar Kyai Aslim dalam salah satu kesempatan.

Berbagai performance art juga turut hadir dalam rangkaian prosesi ini. Satu per satu para penampil bangkit dan mulai menari dan meliukkan tubuhnya, menambahkan dinamika yang memikat pada malam itu. Setiap gerakan tampak menyatu dengan cahaya obor dan aroma dupa, menghadirkan pengalaman budaya yang mendalam sekaligus berkesan bagi semua yang hadir.

Penutupan acara ditandai dengan para pelaku yang berjalan bersama mengelilingi Monumen Kretek dan kembali pulang dalam keheningan serta tanpa alas kaki pada tabuh tengah malam. Prosesi yang berisi seluruh rangkaian acara berlangsung sekitar dua jam dengan cahaya obor, aroma dupa yang menguar, dan doa-doa yang dipandu menjadi penutup yang khidmat.

“Ini mengingatkan semua yang hadir bahwa kretek bukan hanya industri atau komoditas, tetapi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan dan spirit Indonesia yang terus menyala,” pungkas Asa Jatmiko.

 Septiana Wibowo