
Oleh : Azalea Selvina I. N.
Acara haul K.H. Ahmad Fauzan yang ke-53 dihadiri oleh ribuan jama’ah dari berbagai daerah. Para jama’ah berkumpul menjadi satu di kompleks makan Suromoyo, Jepara untuk mengenang jasa dan ketokohan Kyai Fauzan yang merupakan seorang ulama kharismatik dan pejuang kemerdekaan di masa penjajahan. Sosok yang gigih dalam memperjuangkan nilai-nilai agama Islam dan nasionalisme. Terutama peran pentingnya dalam mendirikan NU dan menjadi Rais Suriah pertama di Kabupaten Jepara.
Acara yang berlangsung dengan hidmat dan penuh dengan makna ini dilaksanakan selama seharian penuh. Serangkaian acara yang dimulai sejak pagi dengan khotmil Qur’an di dua tempat, makam Suromoyo dan kediaman beliau Desa Saripan. Selanjutnya, ziarah bersama di makam Suromoyo yang biasa dihadiri ribuan orang dan merupakan acara inti, selanjutnya acara pengajian umum di kompleks Pesantren Darussalam.
Dalam kegiatan ziarah bersama, pembacaan do’a dan Al-Fatihah dipimpin langsung oleh K.H. Ahmad Marzuki yang merupakan mantan Bupati Jepara. Acara ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan keluarga besar almarhum yang menyampaikan rasa syukur dan terimakasih atas kehadiran para tamu undangan dan jama’ah. Suasana semakin khusyuk ketika H. Sholahudin Aly, mantan Ketua GP Ansor Jawa Tengah, memimpin bacaan nadzom Asmaul Husna yang menggema syahdu di area makam.
Rangkaian selanjutnya, pembacaan tahlil dan khatmil Qur’an yang dipimpin langsung oleh K.H. Muhyiddin Rosyad diikuti oleh seluruh jama’ah sebagai bentuk penghormatan dan do’a untuk almarhum K.H. Ahmad Fauzan.
Dalam acara puncaknya, mauidloh hasanah oleh K.H. Mahrus Aly.dengan ceramahnya yang penuh makna disertai humor yang sarat makna. Beliau mengingatkan jama’ah untuk menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Diiringi dengan cerita berbalut humor, ”Wong wedi mati umure luweh cendek daripada wong seng wani mati,” maknanya orang yang takut kematian dinilai usianya lebih pendek daripada yang tidak takut akan kematian. Hal ini dilakukan untuk mengajak para jama’ah untuk mempersiapkan diri kapanpun untuk menghadapi kematian, bukan hanya takut dan tidak takut pada kematian. Karena kematian sifatnya bisa tiba-tiba dan pasti terjadi.
Serangkaian acara haul yang dihadiri oleh Wakil Bupati Jepara, tokoh-tokoh agama, masyarakat, serta santri dan alumni dari berbagai pesantren berlangsung secara hidmat dan lancar sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Kemudian, kegiatan ditutup dengan do’a tabarukan yang dipimpin oleh K.H. Nor Rohman Fauzan.
KH Ahmad Fauzan: Ulama, Umara, dan Pelopor Pendidikan Modern
KH Ahmad Fauzan lahir pada tahun 1905 M (1320 H) di Dukuh Penggung, Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat agamis. Sang ayah, Haji Abdurrasul, dan sang ibu, Nyai Thohiroh, mengajarkan nilai-nilai Islam yang kuat kepada diri Kyai Fauzan. Seiring berjalannya waktu, Kyai Fauzan muda menjelajahi tempat dan belajar agama di berbagai pesantren di Jawa Tengah. Menyambangi dan mengantongi ilmu di pesantren daerah Nalumsari, Tayu (Pati), dan Kasingan (Rembang). Bahkan pernah mendalami agama di Makkah dan Madinah. Pendidikan di berbagai pesantren dan pengalaman di tanah suci membentuk pemikirannya menjadi lebih moderat, terbuka, dan ber-visi.
KH Ahmad Fauzan sebagai seorang ulama tidak hanya memberi ceramah di mimbar masjid atau pesantren. Beliau lebih memilih cara dakwah yang membumi atau lebih dekat dengan kultur masyarakat menggunakan syair-syair dalam bahasa Jawa (nadhoman) untuk menyampaikan nilai-nilai dalam ajaran Islam. Cara ini sangat efektif dalam menyampaikan pesan ke masyarakat umum yang awam dan membuatnya dikenal luas sebagai kiai yang dekat dengan rakyat, terutama di pulau Jawa. Dalam konteks organisasi, beliau memiliki peran sebagai tokoh penting dalam perkembangan awal organisasi NU di Jepara. Selama masa penjajahan Jepang dan dalam perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KH Ahmad Fauzan aktif dalam mempersatukan umat. Beliau pernah ditangkap dan dianiaya oleh tentara Jepang karena dianggap sebagai provokator, walaupun tuduhan itu tidak benar. Pada akhirnya, beliau dibebaskan.
Peran KH Ahmad Fauzan tidak hanya terbatas hanya sebagai mubaligh saja. Beliau juga menempati posisi penting dalam pemerintahan, salah satunya sebagai Kepala Kantor Departemen Agama (Kandepag) Jepara pada tahun 1950-an. Dalam memanfaatkan posisinya, beliau mampu menyatukan antara urusan keagamaan dengan kebijakan pemerintah. Beliau mendorong penguatan fungsi Kantor Urusan Agama (KUA) dalam membina masyarakat melalui kegiatan pengajian dan pendidikan agama. Sikap ini menunjukkan bahwa KH Fauzan adalah seorang pemimpin pemerintahan yang tetap menjunjung nilai-nilai keagamaan.
Salah satu warisan terbesar KH Ahmad Fauzan ada dalam bidang pendidikan. Beliau percaya bahwa pesantren dan madrasah harus bisa menjawab tantangan zaman. Beliau mendorong penggabungan antara pendidikan tradisional dengan sistem pendidikan formal. Menurutnya, pendidikan tidak hanya tentang menguasai ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlak, karakter, dan kemampuan berpikir kritis. Dalam proses belajar mengajar, beliau menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, ikhlas, kesabaran, rasa syukur, dan kasih sayang. Pandangan-pandangan ini menjadi dasar dalam perkembangan pendidikan Islam modern di Jepara.
KH Ahmad Fauzan meninggal pada 17 Mei 1972 (6 Rabi’ul Tsani 1392 H) dan dimakamkan di makam Suromoyo, Kedungleper, Bangsri, Jepara. Masyarakat setempat mengenang beliau setiap tahun dengan acara haul dan mengadakan pengajian akbar. Nama beliau juga dikenang dan digunakan sebagai nama jalan. Ketokohan beliau menjadi simbol contoh bagi para santri, pejabat, serta tokoh masyarakat. Kepemimpinan beliau sebagai ulama, pemimpin, dan pendidik menjadikannya sebagai tokoh langka yang mampu menyatukan peran agama dan negara secara elegan, tanpa mengalihkan arah spiritual maupun komitmen sosialnya. KH Ahmad Fauzan adalah bukti bahwa perubahan besar bisa muncul dari sosok yang bekerja diam-diam, namun meninggalkan jejak tak tergantikan dalam sejarah daerahnya. (*)













