SEMARANG (SUARABARU.ID) – Unlimited Talks, Minggu, 5 Oktober 2025, melalui layar siaran langsung Instagram menampilkan perbincangan yang berbeda dari biasanya. Bukan sekadar obrolan ringan, melainkan diskusi serius tentang tragedi kemanusiaan yang baru saja mengguncang publik: ambruknya bangunan tiga lantai Pondok Pesantren Al Khozini di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.
Peristiwa memilukan yang terjadi pada Senin, 29 September itu menelan puluhan korban jiwa. Saat ratusan santri tengah menunaikan salat Asar berjamaah di lantai dua, struktur bangunan yang baru saja diselesaikan pengecoran lantai tiganya tiba-tiba tak sanggup menahan beban. Bangunan runtuh seketika, menimbun para santri di bawahnya. Hingga 6 Oktober, tercatat 54 orang meninggal dunia dan lebih dari seratus lainnya selamat, sementara beberapa korban masih belum ditemukan.
Di tengah duka itu, dua dokter forensik perempuan berbagi kisah dari balik layar operasi kemanusiaan tersebut. Mereka adalah Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F, DFM, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Indonesia (PDFMI), dan dr. Dian Novitasari, Sp.FM, PAK, dokter forensik RS Bhayangkara Semarang sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Unissula.
Keduanya menjadi narasumber dalam live bertajuk “Mencari Identitas di Tengah Puing: Tantangan Identifikasi Korban di Ponpes Sidoarjo.”
“Dalam setiap evakuasi, keselamatan tidak hanya untuk korban, tapi juga bagi para penolong,” ujar dr. Sumy Hastry membuka perbincangan.
Ia menekankan bahwa setiap proses penyelamatan dan identifikasi dilakukan dengan penuh perhitungan karena risiko reruntuhan susulan sangat besar.
Menurutnya, kejadian di Ponpes Al Khozini termasuk kategori unnatural disaster atau bencana akibat kesalahan manusia. “Kalau gempa bumi atau banjir itu bencana alam, tapi kalau bangunan roboh karena kesalahan struktur, ini akibat ulah manusia,” katanya,
Dr. Sumy juga menuturkan bahwa proses awal kedatangan tim forensik ke lokasi penuh tantangan. “Kami datang ketika situasi masih berisiko tinggi. Selain medan sulit, masih ada kemungkinan struktur bangunan runtuh lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja tim forensik tidak bisa berdiri sendiri. “Semua berjalan beriringan dengan Basarnas, kepolisian, dan instansi lain. Kolaborasi ini mutlak agar evakuasi dan identifikasi berjalan aman dan cepat,” ujarnya.
Bagi dr. Dian Novitasari, proses identifikasi korban merupakan fase krusial yang menentukan kepastian nasib setiap jiwa. “Jumlah korban yang banyak dan kondisi tubuh yang sulit dikenali menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, kami bergantung pada data antemortem — seperti ciri fisik, barang pribadi, dan DNA keluarga korban,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski sebagian besar korban adalah santri yang datanya sudah terdaftar, kemungkinan ada orang lain yang turut menjadi korban tetap harus diantisipasi. “Mungkin ada tamu, pengunjung, atau jamaah yang kebetulan ikut salat. Karena itu, kami tidak bisa hanya mengandalkan daftar santri,” tambahnya.
Menurut dr. Dian, kasus ini termasuk combination disaster, karena korban berasal dari dua kelompok — penghuni tetap dan kemungkinan pengunjung luar. “Semua harus diverifikasi satu per satu,” katanya.
Proses identifikasi dilakukan dalam tiga tahap utama: pengumpulan data antemortem, pemeriksaan postmortem terhadap jenazah, dan rekonsiliasi untuk mencocokkan kedua data tersebut.
“Semakin lama proses berlangsung, semakin sulit mengenali korban karena pembusukan,” tutur dr. Dian. “Hari pertama atau kedua masih bisa dikenali. Tapi setelah hari keempat, kami hanya bisa bergantung pada sidik jari, gigi, dan DNA.”
Meski berbasis sains, pekerjaan forensik tak pernah lepas dari sisi emosional.
“Saya sering merasa sedih bila ada korban yang belum ditemukan. Tapi ketika jenazah berhasil dikenali, meski dalam kondisi meninggal, itu menjadi kebahagiaan tersendiri. Keluarga akhirnya mendapat kepastian,” ucap dr. Sumy dengan nada lirih.
Bagi dr. Dian, menyampaikan kabar duka kepada keluarga adalah momen paling berat. “Kami harus memastikan kabar itu disampaikan dengan empati dan kejelasan. Tak boleh menambah trauma,” ujarnya.
Kedua dokter itu sepakat, prinsip utama dalam setiap proses adalah ketepatan identitas. “Lebih baik tidak teridentifikasi daripada salah identifikasi,” tegas dr. Sumy.
Supermarket Bencana
Selain membahas aspek teknis, keduanya juga menyinggung pentingnya dukungan publik. “Dukungan doa dan semangat sangat berarti bagi tim di lapangan,” ujar dr. Dian. Ia mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam bermedia sosial. “Komentar negatif atau spekulasi liar justru memperberat beban keluarga dan tim penyelamat.”
Dalam sesi yang sama, dr. Dian juga mengutip istilah “supermarket bencana” untuk menggambarkan kondisi Indonesia. “Hampir semua jenis bencana ada di negeri ini — gempa, banjir, kebakaran hutan, hingga konflik sosial. Data BNPB mencatat sekitar 3.500 bencana terjadi sepanjang 2024,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pencatatan identitas seperti e-KTP, sidik jari, retina, hingga sensus penduduk. “Data yang lengkap sangat membantu proses identifikasi bila bencana terjadi,” tambahnya.
Menutup siaran langsung, kedua narasumber menyampaikan harapan agar tragedi ini menjadi pelajaran besar. “Semoga ke depan pembangunan dilakukan dengan perencanaan matang, memperhatikan struktur dan keselamatan agar peristiwa seperti ini tidak terulang,” kata dr. Sumy.
Sementara itu, dr. Dian menyampaikan doa bagi para korban dan keluarga. “Semoga semua korban segera ditemukan dan diidentifikasi. Untuk keluarga, semoga diberi kekuatan dan kesabaran. Kami percaya mereka yang berpulang mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”
Di antara puing dan debu yang tersisa di Sidoarjo, kerja tim forensik bukan hanya tentang sains, tapi juga tentang kemanusiaan — tentang mencari nama, memberi kepastian, dan mengembalikan martabat setiap jiwa kepada keluarganya.
Uniek













