blank
Camat Borobudur memberikan keterangan pers terkait Borobudur Night Carnival, hari ini Jumat (26/9/25). Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Borobudur Night Carnival (BNC) akan dilaksanakan pada Sabtu (27 September 25). Agenda tahunan di Kecamatan Borobudur itu diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut rencana, karnaval pada malam hari akan diikuti kontingen dari 20 desa dan delapan dari instansi/dinas, serta lembaga sekolah. Sejak Sabtu pagi (27/9) diwarnai senam massal, siang sampai sore ada pentas seni dari beberapa desa. Ada pula band dari pelajar.

Camat Borobudur, Subiyanto, mengatakan hal itu saat jumpa pers yang digelar di aula kantor kecamatan setempat, Jumat (26/9/25). Dia didampingi Wakil Ketua BNC, Rohmad Hidayat.

Disebutkan, sejak dilakukan relokasi pedagang Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) ke
Museum dan Kampung Seni Borobudur (KSB), terjadi penurunan penghasilan warga sekitar. Juga terdampak batasan pengunjung Taman Wisata Candi Borobudur. “Warga di wilayah ini, sektor wisata merupakan salah satu andalan ekonomi,” katanya.

Dipaparkan, merosotnya ekonomi warga sekitar sudah mulai terasa ketika terjadi Covid-19, karena tidak ada akses pariwisata. “Warga kami sangat terpuruk,” katanya.

Pembatasan

Sekarang, sektor wisata di wilayah itu sudah berjalan dengan metode pembatasan jumlah pengunjung. Jumlah pengunjung wisata kalah dibanding dengan jumlah pedagang di Kampung Seni Borobudur, sekitar 1.943 orang. Menurut perkiraan dia,
mungkin setiap hari hanya seimbang. “Konsep pembatasan pengunjung sangat berpengaruh terkait dengan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama dia sebutkan, dahulu  sebelum Covid-19 jumlah pengunjung Candi Borobudur sekitar empat juta orang/tahun. Tiap hari mungkin sampai 20 ribu pengunjung.

Ketika itu banyak kunjungan massal yang dilakukan oleh anak sekolah, maupun kelompok masyarakat. Rata-rata mereka datang pagi, sekitar pukul 03.00 sudah sampai di dekat Candi Borobudur. Ketika pagi sudah sampai Borobudur, masyarakat sekitar akan menangkap peluang itu. Antara lain menyediakan tempat istirahat, termasuk kamar mandi. Sesudah mandi butuh sarapan pagi.

“Waktu jeda itulah masyarakat bisa memanfaatkan peluang untuk menyiapkan kamar mandi, sarapan pagi. Sambil menunggu bukanya Candi Borobudur, dimanfaatkan oleh pedagang asongan untuk berkolaborasi. Mereka mendatangi keramaian untuk menjajakan dagangan,” jelasnya.

Asongan

Kalau sekarang, kata Camat, dengan pembatasan jumlah pengunjung Candi Borobudur dan datangnya wisatawan langsung ke Kampung Seni Borobudur, kemudian diantar shuttle, pulang juga diantar shuttle, tidak bertemu pedagang asongan. Padahal pedagang asongan merupakan bagian dari masyarakat Borobudur. “Penataannya sangat berdampak,” tegasnya.

Angka kemiskin

Camat juga menyebutkan, angka kemiskinan di wilayah Kecamatan Borobudur  sebesar 18,24 persen. Dari jumlah jiwa 65.335 orang, yang miskin 4.130 KK atau sekitar 22 ribu orang. “Borobudur ini dijadikan kawasan destinasi super prioritas nasional ternyata jumlah warga miskinnya cukup banyak,” kilahnya.

Oleh karena itu, kebijakan yang diterapkan adalah memperbanyak event. Kalau banyak pengunjung, diharapkan bersinggungan dengan pelaku wisata dan ekonomi masyarakat. Termasuk BNC itu untuk menambah kesejahteraan masyarakat. “Dari tahun ke tahun kami mencoba untuk tumbuh berkembang,” tuturnya.

Eko Priyono