blank
Ruben Amorim. Foto: dok/gettyimages

blankOleh: Amir Machmud NS

// haruskah kisah bergulir lebih cepat/ dari yang diskenariokan?/ gambaran yang boleh jadi telah terperkirakan/ atau mungkin tak terbayangkan/ dan, dia harus menjalani keadaan/ yang tak terhindarkan/ atau sebenarnya sudah terpetakan…//
(Sajak “Jejak Ruben Amorim”, 2025)

BAKAL lebih cepatkah gambaran itu menjadi kenyataan?

Secepat itu dia meninggalkan Old Trafford, secepat itu dia mengalami yang sebenarnya sudah terperkirakan, secepat itu dia harus menerima kenyataan: sukses di Liga Portugal bersama Sporting CP tak cukup menjadi modal untuk memberi harapan bagi kebangkitan Manchester United dari keterpurukan?

Ya, Liga Primer tampaknya akan mengetengahkan “korban” baru. Boleh jadi ini hanya soal waktu. Realitas itukah yang bakal tersajikan? Atau, Amorim menemukan pencerahan untuk membalik keadaan, memperbaiki performa klub di laga-laga selanjutnya?

Bayangan buram seperti sudah di depan mata, walau manajemen The Red Devils masih cukup bersabar kepada Ruben Amorim, tidak serta merta memecatnya, setelah rangkaian hasil tidak memuaskan mewarnai penampilan Bruno Fernandes dkk pada awal musim 2025-2026 Liga Primer. Bagaimanapun, kekalahan 0-3 dari tuan rumah Manchester City di Etihad, pekan lalu, memperburuk rapor Amorim.

Dengan sejumlah rekrutan baru sesuai keinginan taktikal Ruben Amorim, MU tetap belum tampil meyakinkan. Simaklah catatan ini: kalah 0-1 dari Arsenal di laga perdana, imbang 1-1 dengan Fulham, menang 3-2 atas Burnley, dan tersisih memalukan 11-12 dalam adu penalti melawan klub divisi empat, Grimsby Town di Piala Carabao.

Amorim menjadi bulan-bulanan para analis. Dia mengulang apa yang pernah dilewati oleh para pendahulunya, setelah Alex Ferguson pensiun pada 2013. Kesimpulan sementara: Setan Merah belum menemukan sosok pelatih yang mampu mengentaskan dari keterpurukan. Segala cara sudah dilakukan: dari penyegaran manajemen, perombakan pemain, juga menyentuh apa yang pernah disebut Ralf Rangnick sebagai “bedah jantung”; dan bukankah MU masih belum beranjak dari kondisinya sekarang?

Wajar jika muncul pertanyaan: bisa bertahan berapa pekan lagikah Ruben Amorim? Akankah dia mengulang jejak para pelatih pendahulunya, yang terpental oleh serangkaian hasil dan performa yang tak memberi harapan?

Spekulasi dan Risiko
Mendatangkan pelatih baru, bagi sebuah klub, ibarat sebuah pilihan spekulasi: jika hasilnya baik dan cocok, dia akan lanjut. Jika tidak sesuai ekspektasi, akan menjadi pertimbangan: dipecat dan diganti.

Pergantian pelatih benar-benar berada di wilayah spekulatif, meskipun sebenarnya juga dikalkulasi dari kebutuhan filosofi dan taktik. Dalam kasus MU, masalahnya menjadi rumit apabila dikaitkan dengan berapa pelatih yang telah dicoba sejak 2013 hingga era Amorim sekarang.

Dari David Moyes, Ryan Giggs, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Michael Carrick, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy, dan kini Ruben Amorim. Seperti untung-untungan dalam buncah harapan, dan nyatanya semua terpental, tak mampu memperbaiki keadaan.

Amorim, yang oleh Cristiano Ronaldo dijuluki sebagai “Sang Penyair” karena selalu menarasikan kalimat dengan bagus, dari awal memang sempat diragukan. Sejumlah pundit menyatakan, competetiveness Liga Portugal berbeda dari Liga Primer, sehingga Amorim bakal menemui tantangan yang lain. “Aura” MU berbeda dari Sporting CP, walaupun dia punya pengalaman bisa mengalahkan Manchester City.

Kini dia merasakan betul atmosfer Liga Primer. Musim lalu, ketika mulai menangani tim pada pertengahan musim, yakni sejak 11 November 2024 untuk menggantikan Erik ten Hag, dia memimpin MU dalam 47 pertandingan, dengan 17 menang, 12 kali seri, dan 18 kali kalah. Di akhir musim, MU menduduki urutan ke-15, klasemen terburuk sepanjang sejarah klub. Musim ini, MU berada di peringkat 14 dari 4 laga, dengan baru meraih 4 poin.

Dalam catatan Sky Sports, Amorim hanya memberi MU kemenangan di angka 36,17 persen. Dia lebih buruk dari Wilf McGuinness, yang sebelumnya punya persentase terendah, 36,78 persen saat melatih MU dari 1969 hingga 1970.

Kekukuhan Taktik
Harapan perbaikan muncul dari sederet nama yang dia minta untuk direkrut, dan beberapa lainnya dilepas. Pelepasan nama-nama Cristian Erikssen, Anthony, Alejandro Garnacho, Rasmus Hojlund, dan Andre Onana, tergantikan dengan masuknya Benjamin Sesko, Matheus Cunha, Bryan Mbeumo, Diego Leon, Harley Emsden, dan Senne Lammens.

Nama-nama itu tentu seusai dengan kehendak Amorim untuk memperkuat skema taktiknya. Ketika Liverpool, Arsenal, Chelsea, dan Manchester City mulai nyaman dengan performanya, MU malah berkutat dengan persoalan lama. Ruben Amorim tampak belum mantap dengan setelan baru skuadnya.

Pekan ini, MU menghadapi lawan kuat, Chelsea di Old Trafford. Sulit untuk tidak melihat laga ini sebagai bagian dari penentuan langkah Amorim. Dia benar-benar dalam tekanan setelah kekalahan 0-3 dari The Citizens.

Amorim bersikukuh dengan filosofinya, taktik berbasis formasi 3-4-3. Dia bahkan mengatakan, apabila manajemen menginginkan perubahan, ganti saja orangnya. “Saya tidak akan mengubah filosofinya. Saya akan bermain dengan cara saya, hingga saya ingin mengubahnya,” ungkap dia sebagaimana dikutip ESPN (cnnindonesia.com, 15/9-2025).

Katanya, “Pesan saya, saya akan melakukan segalanya. Saya akan memberikan segalanya. Saya akan melakukan yang terbaik. Saya lebih menderita daripada (para fans)…”

Mantan bek MU, Patrice Evra melihat, manajemen tidak akan secepat itu memecat, namun Amorim tak punya alasan untuk gagal lagi mendongkrak performa tim. MU harus tetap memercayai Amorim, karena terus-terusan mengganti pelatih hanya akan merugikan tim.

“Tak bisa dipungkiri Amorim akan menghadapi pemecatan jika hasil-hasil positif tidak diperoleh. Sepak bola itu seperti hutan belantara. Ketika kemenangan tidak kunjung datang, manajernyalah yang pertama harus pergi. Tetapi jika Anda terus-terusan mengganti juru masak, rasa supnya tidak akan pernah tepat,” tutur Evra kepada Stake. (detik.com, 21/8-2025).

Ruben Amorim bagai berdiri di tubir jurang. Jika dia bisa menghadirkan perbaikan performa bagi Bruno Fernandes dkk, artinya dia memanfaatkan waktu yang diberikan oleh manajemen MU. Taktik dan filosofinya perlahan-lahan bisa diaplikasikan. Jika sebaliknya yang terjadi, risiko pemecatan bakal menjadi lebih cepat membentang di hadapan…

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah