Oleh: Nurul Hidayati
Sebagai Aparatur Sipil Negara di Kementerian Agama, kita memegang amanah yang tak sekadar tercantum dalam peraturan, tetapi tertulis di lembar hati: melayani umat, menegakkan nilai-nilai ilahi, dan merawat keseimbangan antara manusia, Sang Pencipta, dan alam semesta. Amanah ini ibarat cahaya yang harus kita bawa ke mana pun kita melangkah, menuntun kita melewati jalan-jalan pelayanan publik, dan juga menyinari langkah kita dalam menjaga bumi.
Di tengah arus modernisasi, pembangunan yang semakin cepat, dan kebutuhan manusia yang tak henti bertambah, alam sering kali menjadi pihak yang diam-diam mengalah. Pohon-pohon ditebang, tanah-tanah subur digunduli, udara dan air kehilangan kesuciannya.
Di sinilah ekoteologi memanggil kita pulang , pulang pada kesadaran bahwa iman dan alam tak pernah terpisah. Ekoteologi adalah jembatan antara teologi dan ekologi, ia menghubungkan keyakinan spiritual kita dengan tanggung jawab ekologis, mengikat doa-doa yang kita panjatkan dengan langkah-langkah nyata yang kita ambil.
Ia mengajak kita memandang alam bukan sekadar benda yang bisa dimanfaatkan, melainkan kitab kehidupan yang terbentang luas. Setiap dedaunan adalah lembaran, setiap hembusan angin adalah ayat, setiap hewan adalah huruf yang hidup. Alam adalah kitab yang ditulis Tuhan, bukan dengan tinta, melainkan dengan warna, aroma, suara, dan rasa.
Seperti yang pernah diungkapkan Jalaluddin Rumi, “Setiap rumput yang tumbuh adalah pesan dari Tuhan kepada manusia.” Pesan sederhana namun mendalam ini mengingatkan kita bahwa bahkan makhluk paling kecil di mata manusia pun mengandung hikmah besar di mata Tuhan. Dalam keheningan batin, kita disadarkan bahwa ekoteologi hadir bukan sekadar istilah baru, melainkan panduan yang memadukan iman dengan tindakan.
Ia mengajarkan bahwa iman yang utuh bukan hanya mengatur bagaimana kita beribadah kepada Sang Pencipta, tetapi juga bagaimana kita memelihara bumi yang menjadi titipan-Nya. “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, kita meminjamnya dari anak cucu kita,” tutur pepatah kuno yang masih relevan hingga kini.
Dalam pandangan agama, alam adalah tanda-tanda kebesaran-Nya. Matahari yang selalu terbit tanpa terlambat, bintang-bintang yang menari di langit malam, hujan yang turun menghidupi tanah, hingga suara burung di pagi hari, semua itu adalah bukti kasih sayang Tuhan pada makhluk-Nya. Setiap ciptaan memiliki fungsi dan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sebagai ASN Kemenag, memahami ekoteologi berarti menumbuhkan penghargaan terhadap keanekaragaman hayati. Kita diajak mengakui bahwa semua makhluk hidup memiliki nilai intrinsik, bukan hanya dilihat dari manfaatnya bagi manusia, tetapi karena mereka adalah bagian dari ciptaan Tuhan. Kita juga belajar bahwa kelestarian bumi bukanlah urusan aktivis lingkungan semata; ia adalah urusan iman, akhlak, dan kemanusiaan.
Tanggung jawab ini memiliki dimensi moral dan spiritual. Keyakinan bahwa bumi adalah amanah dari Sang Pencipta seharusnya menumbuhkan rasa syukur, cinta, dan kepedulian. Rasa syukur itu mendorong kita menjaga, cinta itu membuat kita rela berkorban, dan kepedulian itu menggerakkan kita untuk bertindak.
Nilai-nilai agama dan kearifan lokal menjadi panduan yang kaya. Keseimbangan (mizan) mengajarkan kita untuk tidak berlebihan, mengambil secukupnya, dan mengembalikan yang diambil dengan kebaikan. Kepemimpinan (khalifah) mengingatkan bahwa manusia diberi kehormatan sekaligus tanggung jawab untuk memelihara bumi. Gotong royong mengajak kita bekerja bersama, karena merawat alam tidak mungkin dilakukan sendirian.
Namun, cinta alam tak boleh berhenti pada rasa. Ia harus diterjemahkan dalam langkah-langkah nyata. Sebab, spiritualitas tanpa tindakan hanyalah gema kosong. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa memulai dari hal sederhana: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, menghemat listrik dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan, atau membawa botol minum sendiri. Dalam lingkup yang lebih luas, kita bisa mendorong penggunaan energi terbarukan, melakukan reboisasi, menjaga hutan dari pembalakan liar, atau mengelola lahan dengan cara yang lestari.
ASN Kemenag punya keistimewaan yang jarang dimiliki profesi lain, kedekatan dengan masyarakat melalui jalur keagamaan. Dari mimbar khutbah, podium penyuluhan, hingga forum-forum pengajian, kita punya kesempatan untuk menanamkan pesan cinta lingkungan. Melalui kata-kata yang mengalir dari hati, kita bisa menyentuh kesadaran banyak orang, menghubungkan menjaga bumi dengan menjaga iman.
Bentuk nyata peran itu bisa beragam. Program Masjid Hijau bisa menjadikan masjid sebagai pusat edukasi lingkungan, mengajarkan jamaah cara mengelola sampah, menanam pohon, atau menghemat listrik masjid. Pesantren Ramah Lingkungan dapat mengintegrasikan pelajaran ekologi ke dalam kurikulum, sambil mengajarkan santri praktik pertanian organik.
Penyuluh Agama Peduli Lingkungan bisa membekali para penyuluh dengan materi tentang pentingnya menjaga alam, sehingga pesan itu hadir dalam setiap dakwah. Gerakan menanam pohon, kampanye pengurangan plastik, pembersihan sungai, dan edukasi hemat energi bisa menjadi agenda rutin yang melibatkan masyarakat luas.
Tentu saja, jalan ini tak selalu mulus. Ada tantangan yang harus kita hadapi. Kesadaran masyarakat tentang lingkungan masih perlu dibangun. Kadang, program berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Sumber daya juga sering terbatas. Tapi keterbatasan bukan alasan untuk berhenti; justru menjadi alasan untuk bekerja sama, membangun jaringan, dan memanfaatkan teknologi.
Dalam menghadapi tantangan ini, kita bisa belajar dari pesan Mahatma Gandhi: “Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan setiap manusia.” Pesan ini mengajarkan bahwa masalah terbesar lingkungan bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan keserakahan dan ketidakadilan dalam mengelolanya.
Cinta alam dan cinta kehidupan adalah bagian dari ibadah. Ia bukan sekadar aktivitas sosial atau program kerja, tetapi pengabdian yang menghubungkan kita langsung kepada Sang Pencipta. Saat kita menanam pohon, kita sedang menanam doa. Saat kita membersihkan sungai, kita sedang membersihkan hati. Saat kita menghemat listrik, kita sedang menjaga cahaya kehidupan agar tidak padam sia-sia.
Bumi adalah kitab yang terus dibacakan pada kita, setiap hari. Ia bercerita lewat desir angin, lewat aroma tanah setelah hujan, lewat gemericik air yang mengalir dari gunung. Pertanyaannya, maukah kita membaca, memahami, dan meresapi setiap halamannya?
Bayangkan suatu hari, generasi setelah kita bisa berjalan di bawah rindangnya pohon yang kita tanam, menghirup udara yang segar karena kita menjaga, dan meminum air yang jernih karena kita melindungi sumbernya. Bukankah itu warisan yang lebih berharga daripada emas atau permata?
Kini, saat kita menatap masa depan, kita diingatkan bahwa menjaga bumi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Karena saat kita menjaga bumi, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan, kehidupan manusia, kehidupan makhluk lain, dan kehidupan spiritual kita sendiri.
Maka, mari kita jadikan setiap tindakan kita sebagai wujud cinta kepada Tuhan dan kepedulian terhadap bumi yang kita tinggali. Dengan semangat gotong royong, kerja sama lintas sektor, dan kesadaran yang tumbuh dari iman, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lestari dan sejahtera.
Bumi ini adalah rumah bersama, dan rumah adalah tempat di mana cinta harus dirawat setiap hari. Sebagaimana kita membersihkan rumah, memperbaiki yang rusak, dan menjaga keindahannya, demikian pula kita harus memperlakukan bumi. Ia bukan sekadar tempat tinggal; ia adalah sahabat, guru, dan saksi perjalanan kita.
Dan ketika suatu hari kita menutup mata, semoga bumi bisa bersaksi bahwa kita pernah mencintainya, merawatnya, dan menjaganya dengan sepenuh hati. Karena cinta yang kita berikan pada bumi akan kembali pada kita, dalam bentuk kehidupan yang terus berlanjut, damai, dan penuh berkah.
Penulis adalah Pegawai di Kementerian Agama Kabupaten Jepara













