blank
Prosesi Pisowanan Agung dalam rangka puncak peringatan Hari Jadi ke-200 Kabupaten Wonosobo berjalan khidmat. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Prosesi Birat Sengkala dan Pisowanan Agung yang menjadi puncak dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-200 Kabupaten Wonosobo, Kamis (24/7/2025, di Alun-Alun setempat berlangsung khidmat dan lancar.

Prosesi ini melambangkan sebuah penghayatan budaya dan tradisi yang Ada di Wonosobo dan menjadi ritual tahunan ketika daerah ini merayakan hari jadinya.

Ritual tersebut diawali dengan penyerahan simbolik Songsong Agung yaitu payung kebesaran sebagai lambang pelindung rakyat, dan Tombak Katentreman pusaka yang merepresentasikan kekuatan penjaga ketenteraman.

Prosesi dilanjutkan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat dengan ritual ngracik tirta suci yakni mencampurkan air dari tujuan sumber mata air yang telah diambil sebelumnya. Air ini menjadi sarana pembawa berkah dan tolak bala.

Prosesi kemudian bergerak menuju pusat Alun-alun Wonosobo, tepat di bawah naungan rindang beringin kurung, tempat yang dipercaya sebagai titik pusat keseimbangan.

Di sana, segenggam tanah dari Desa Plobangan cikal bakal pemerintahan Wonosobo ini ditanam secara simbolis. Tanah ini adalah lambang akar sejarah, pengingat dari mana semua bermula.

Dalam suasana yang sunyi dilanjutkan dengan pemercikan air suci yang telah dicampur tadi ke empat penjuru mata angin. Pemercikan dilakukan dengan menggunakan daun dadap serep.

Tiap cipratan air mengandung doa, agar segala bentuk sengkal, kesialan, malapetaka, dan rintangan tersingkir dari jalan Wonosobo ke depan.

Ribuan warga Wonosobo akan turut hadir dalam upacara yang kental nuansa budaya dan tradisi ini.

Prosesi dimulai dengan penjemputan Bupati Afif Nurhidayat dan Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein oleh Forkopimcam dari kompleks Pendopo Kabupaten Wonosobo.

Terjun Payung

blank
Aksi penerjun payung yang bisa mendarat sempurna mendapatkan sambutan dari penonton. Foto : SB/Muharno Zarka

Rombongan berjalan dari Pendopo Bupati menuju Alun-Alun, diiringi musik tradisional, serta kirab gunungan sayur dari 15 kecamatan yang Ada di daerah ini.

Dalam tradisi Pisowanan Agung, masyarakat “sowan” atau menghadap bupati untuk mendengarkan sabdo utama, sebuah pidato utama dari Bupati Wonosobo.

Upacara ini juga menyajikan pembacaan sejarah Wonosobo sebagai refleksi perjalanan panjang kabupaten ini.

Simbol kemakmuran dan rasa syukur, gunungan sayur, menjadi bagian paling ditunggu masyarakat.  Dalam puncak peringatan Hari Jadi kali ini, ada juga atraksi terjun payung dari para penerjun yang naik pesawat terbang dari Yogyakarta.

Tiga penerjun tersebut membawa tiga bendera. Yakni bendera merah putih, bendera lambang daerah Wonosobo dan bendera AirNav Indonesia.

Usai upacara, warga beramai-ramai memperebutkan gunungan yang berisi hasil bumi, menciptakan suasana meriah dan penuh semangat kebersamaan. Acara ini menjadi wujud penghormatan terhadap nilai budaya lokal serta mempererat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

Tradisi ruwat cukur rambut gimbal, sebuah ritual khas daerah Wonosobo turut dilaksanakan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo. Peserta yang mengikuti prosesi ini adalah anak-anak berambut gimbal yang telah mendaftarkan diri sebelumnya.

Pentas Seni

blank
Peserta ruwat rambut gimbal di Wonosobo meminta keinginan yang bermacam-macam, salah satunya adalah sepeda listrik. Foto : SB/Muharno Zarka

Menurut tradisi, rambut gimbal tumbuh secara alami dan hanya pada anak-anak tertentu yang dipercaya sebagai titisan Kyai Kolodete, tokoh leluhur masyarakat Wonosobo. Anak-anak ini disebut sebagai anak-anak pilihan.

Prosesi pemotongan tidak dapat dilakukan sembarangan, melainkan harus atas kemauan sang anak sendiri.

Biasanya, keinginan tersebut disertai dengan sebuah permintaan atau bebono anak gimbal yang wajib dipenuhi orang tua sebelum prosesi pemotongan rambut dilakukan.

Setelah rambut gimbal dicukur, rambut tersebut kemudian dilarung di Telaga Menjer, sebagai simbol pembersihan dan pembuangan unsur negatif dari dalam diri sang anak, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur dan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.

Ruwat cukur rambut gimbal menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya lokal serta menarik minat masyarakat untuk lebih mengenal tradisi spiritual dan kearifan lokal khas Wonosobo.

Rangkaian panjang Hari Jadi Kabupaten Wonosobo selalu ditutup dengan hiburan pentas seni kerakyatan di alun-alun.  Masyarakat tumpah ruah memenuhi Alun-alun Wonosobo untuk menyaksikan beragam hiburan pertunjukan seni ataupun musik yang disuguhkan.

Setiap tahunnya pertunjukan hiburan yang disuguhkan berbeda-beda untuk menghibur masyarakat Wonosobo secara gratis. Panggung meriah dengan gemerlap lampu dan sorak-sorai penonton menjadikan malam puncak perayaan begitu meriah.

Hiburan pentas seni kerakyatan ini menjadi simbol penutup rangkaian perayaan yang menyatukan semua elemen masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.

Dengan acara ini, Hari Jadi ke-200 Kabupaten Wonosobo tidak hanya menjadi peringatan historis, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas budaya dan mempererat tali persaudaraan di tengah masyarakat.

Muharno Zarka