GROBOGAN (SUARABARU.ID)– Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi, aktif menjalin kolaborasi strategis dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), demi mendorong kemajuan teknologi dan ilmu kehutanan di lapangan.
Mereka mewujudkan sinergi itu dalam kegiatan penelitian biomassa permukaan (Above Ground Biomass/AGB), dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh pada tegakkan jati di hutan produksi milik Perhutani.
Penelitian ini menjadi bagian dari tugas akhir Imam Hanafi, mahasiswa Magister Penginderaan Jauh Fakultas Geografi UGM, yang melakukan riset sejak awal Juli 2025 selama satu bulan penuh.
BACA JUGA: Wabup Kudus Bellinda Birton Apresiasi Mahasiswa KKN UMK: Kalian Energi Baru Perubahan di Desa
Imam mengumpulkan data dari berbagai petak jati representatif di wilayah kerja BKPH Sambirejo, Tumpuk, dan Pojok, sebagai dasar validasi hasil citra satelit.
Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan menegaskan, Perhutani mendukung penuh riset-riset akademik, khususnya yang memanfaatkan pendekatan modern dan berbasis data digital.
Pihaknya menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan penelitian ini, sebagai bentuk sinergi antara dunia akademik dan pengelola hutan. Riset ini juga sangat relevan untuk meningkatkan akurasi data potensi tegakKan jati, melalui pendekatan efisien dan modern dengan teknologi penginderaan jauh.
BACA JUGA: Berkunjung ke Unwahas, Mendukbangga Pertama Kalinya Tanda Tangani MoU di Kampus
”Selain riset estimasi biomassa Jati berbasis penginderaan jauh ini, juga ada penelitian mahasiswa program doktoral UGM mengenai Folu-netsink yang berlangsung sejak 2024 lalu,” ujarnya.
Untoro menambahkan, Perhutani secara konsisten membuka ruang bagi pengembangan keilmuan dalam upaya mewujudkan sistem pengelolaan hutan yang presisi dan selaras dengan kemajuan zaman.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari tim lapangan BKPH Sambirejo yang mendampingi seluruh proses, termasuk pemetaan area, pengambilan sampel, hingga akses data teknis kehutanan.
BACA JUGA: Bank Jateng Tegaskan Komitmen Tata Kelola yang Baik

”Kami memastikan kegiatan penelitian ini berjalan lancar dan informatif. Kami percaya pendekatan ilmiah seperti ini akan memperkuat manajemen hutan jati, agar lebih akurat dan ramah lingkungan,” tutur Kepala BKPH Sambirejo, Susilo.
Dalam penelitiannya, Imam Hanafi menggunakan beragam citra satelit, seperti Sentinel-2, Landsat 9, hingga WorldView, untuk membandingkan akurasi estimasi biomassa dari tiap sensor.
”Selama satu bulan saya mengumpulkan data lapangan untuk memvalidasi hasil estimasi dari berbagai citra. Perhutani sangat membantu dalam proses riset ini, baik melalui akses lapangan maupun pendampingan teknis. Semoga hasilnya bisa menjadi kontribusi ilmiah dalam sistem monitoring hutan berbasis penginderaan jauh di Indonesia,” jelas Imam.
BACA JUGA: Merindu PWI Bersatu, Seruan dari Puncak Gunung Lawu
Pendekatan ilmiah ini memungkinkan pengelolaan hutan dilakukan lebih efisien dan berbasis data, sehingga hasilnya bisa dijadikan acuan dalam kebijakan kehutanan masa depan.
Perhutani melihat, potensi besar dalam riset-riset semacam ini untuk mendukung agenda keberlanjutan dan konservasi jangka panjang yang lebih sistematis dan ilmiah.
Kerja sama dengan perguruan tinggi seperti UGM, membuka jalan bagi berbagai inovasi baru yang mampu memperkuat sistem monitoring hutan secara digital dan real-time.
BACA JUGA: 25 Guru LPQ Terima Bantuan Paket Sembako
Melalui kolaborasi ini, Perhutani dan UGM ingin membuktikan, teknologi satelit mampu memberikan gambaran akurat mengenai kondisi biomassa hutan jati di Indonesia.
Langkah ini juga menandai komitmen kuat Perhutani, dalam mendukung generasi muda yang ingin berkontribusi secara nyata dalam pelestarian hutan melalui pendekatan akademik.
Diharapkan, hasil penelitian ini mampu memberikan sumbangan ilmiah yang konkret dalam pengembangan metode estimasi biomassa berbasis teknologi di Indonesia.
Kolaborasi aktif antara Perhutani dan UGM, menunjukkan pengelolaan hutan berbasis data bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju masa depan yang berkelanjutan.
Tya Widya













