WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Tahun 2025 menjadi momen membanggakan bagi Universitas Sains Alquran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo.
Berdasarkan surat dari Kemdiktisaintek Direktorat Belmawa Nomor 1704/B2/DT.01.01/2025 tanggal 17 Juni 2025 perihal Seleksi Akhir PPK Ormawa 2025, tercatat sebanyak 295 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia berhasil lolos pendanaan.
Di antara deretan tim terpilih tersebut, dua tim berasal dari Unsiq Jateng di Wonosobo, yakni BEM Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) dan BEM Fakultas Teknik Ilmu Komputer (Fastikom).
BEM FITK Unsiq sebagai organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang kependidikan mengusung tajuk : “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literary Edupreneur melalui Program Griha Litera untuk Mewujudkan Desa Banjar Cerdas.”
Tim PPK Ormawa BEM FITK Unsiq beranggotakan 15 orang. Dengan Hania Kholifatul Lukman sebagai Ketua tim dan Diana Hadad Sakan selaku ketua Ormawa BEM FITK Unsiq.
Ketua BEM FITK Unsiq, Diana Hadad Sakan, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa pendidikan dalam kegiatan PPK Ormawa ini merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat untuk menciptakan perubahan,” ungkapnya.
Program Griha Litera dirancang untuk menciptakan ekosistem pembelajaran nonformal yang mendorong peningkatan keterampilan hidup dan ekonomi masyarakat.
Pendekatan yang digunakan bukan hanya literasi dalam konteks membaca dan menulis, tetapi juga literasi terapan yang membentuk edupreneurship atau wirausaha berbasis edukasi.
Empat pojok literasi utama yang akan dikembangkan dalam program ini antara lain : Litera Ksetra (literasi pertanian), Litera Palana (literasi budidaya), Litera Annapakra (literasi boga) dan Litera Rupa (literasi seni).
Ketua tim pelaksana, Hania Kholifatul Lukman, menjelaskan bahwa pemilihan Desa Banjar Kertek Wonosobo sebagai lokasi program didasarkan pada analisis potensi dan tantangan nyata di lapangan.
Griha Litera

Desa Banjar, yang terletak di lereng Gunung Sindoro, memiliki tanah subur dan sumber daya alam melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Beberapa alasan dipilihnya Desa Banjar sebagai lokasi program antara lain, tanah subur yang sangat potensial untuk pengembangan pertanian dan perkebunan.
Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah, dengan angka putus sekolah yang cukup tinggi. Potensi di bidang boga, perikanan, dan kesenian yang belum dikembangkan secara sistematis.
Antusiasme masyarakat yang tinggi, terutama dalam kegiatan seni dan budaya. Belum tersedianya fasilitas pojok literasi, kurikulum pembelajaran nonformal, maupun inisiatif kewirausahaan berbasis literasi.
Melalui Program Griha Litera, mahasiswa BEM FITK Unsiq akan bersinergi dengan masyarakat untuk menghadirkan pendidikan nonformal yang kontekstual, berbasis potensi lokal, dan berkelanjutan.
Dari kegiatan ini, BEM FITK Unsiq Jateng di Wonosobo memiliki harapan besar, pertama Desa Banjar mampu menjadi model Desa Cerdas berbasis literasi dan kewirausahaan.
Kedua, masyarakat tidak sekadar menjadi objek, namun mitra aktif dalam proses pemberdayaan. Ketiga, literasi yang dikembangkan dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Keempat, terbentuknya kelompok masyarakat yang mandiri dan mampu mengelola program secara berkelanjutan.
Kelima, dalam jangka panjang, Desa Banjar akan menjadi desa binaan permanen BEM FITK Unsiq untuk terus didampingi dan dikembangkan.
Keberhasilan ini bukan hanya pencapaian administratif, tetapi langkah awal bagi mahasiswa pendidikan untuk menjadi agen perubahan di masyarakat.
Semoga semangat literasi dan pemberdayaan ini menjadi inspirasi bagi organisasi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi untuk negeri.
Muharno Zarka













