blank
Budayawan Kebumen yang juga dalang KI Setyo Budhi bersama dalang cilik Ki Gatotkaca Zukma Aji baru-baru ini.(Foto:SB/Pribadi)

KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Kegiatan The 6th Geotourism Festival (Geofest) and International Conference 2025,  pada 9- 12 Juli 2025 di kawasan Kebumen UNESCO Global Geopark mendapat sorotan tajam budayawan dan sejarawan lokal.

Menurut pelaku budaya yang juga dalang Ki Setyo Budhi, Sabtu (5/7), mencermati kegiatan lapangan pada geofest tersebut ternyata tidak mengunjungi satu pun situs budaya Kebumen. Padahal salah satu aspek keunggulan geopark Kebumen hingga diakui UNESCO Karena berbagai situs budaya lokal.

Ki Setyo juga menyayangkan kunjungan lapangan peserta konferensi interasional itu malah ke lokasi di luar situs budaya Kebumen. Seperti ke kawasan agro  kelengkeng di Desa Lembupurwo ataua river tubing di Sungai Bedegolan.

“Padahal Kebumen ini sangat kaya dangan keberagaman budaya serta situs budaya tua. Di Ambal  ini pernah menjadi  kadipaten dan pusatnya kebudayaan seperti wayang kulit dan wayang golek. Pasar Ambal dan jalan-jalan desa yang lebar itu situs sejarah yang semestinya ditelusuri jejaknya”tandas Setyo.

Pihaknya prihatin karena di Kebumen ada petilasan dan situs-situs sejarah yang diabaikan. Seperti Pandan Kuning di Petanahan yang mengandung folklore pernah menjadi persinggahan Raden Wjaya.

Belum lagi desa-desa di Kecamatan Karanggayam yang memiliki banyak situs sejarah dan cagar budaya. Seperti Makam Eyang Kepadangan di Desa Clapar dan beberapa makam kuno di wilayah tersebut.

“Bahkan di Desa Banioro Karangsambung juga masih ditemukan rumah dengan arsitektur Joglo khas Jawa serta tinggalan pusaka atau keris kuno sebagai situs budaya.”

blank
Penulis sejarah yang juga Pendiri Historical Study Trips Teguh Hindarto.(Foto:SB/HST Kebumen):

Sementara itu peneliti sejarah lokal yang juga founder Historical Study Trips Teguh Hindarto pun menyoroti tidak ada kunjungan lapangan ke kawasan Karangsambung di Kebumen utara dalam field trip geofest 2025.

Menurut Teguh, kita patut bersyukur setelah Geopark Kebumen memperoleh status Unesco Global Gepark (UGG) pad a21 April 2025. Kabupaten Kebumen akan menjadi tuan rumah The 6th Geotourism Festival (Geofest) and International Conference 2025 yang dihelat  pada 9- 12 Juli 2025 yang akan datang di kawasan Kebumen UNESCO Global Geopark.

Selain sesi konferensi internasional, akan dilaksanakan kegiatan field trip agar peserta konferensi melihat keindahan wisata bernuansa Geopark (taman bumi) di Kebumen.

Namun Teguh menyayangkan, pilihan lokasi field trip lebih memfokuskan wisata di kawasan selatan yang memang sudah lebih populer dan cepat menarik minat publik.

”Meskipun ada wisata river tubing Sendangdalem di kawasan utara Kebumen,  potensi wisata geologi di utara kurang diekspose terutama di wilayah Karangsambung dan Sadang,”tandas penulis beberapa buku sejarah di Kebumen itu, Jumat (4/7).

Teguh mengakui, beberapa lokasi wisata di Kebumen lebih banyak berkembang di kawasan selatan (pantai). Padahal kawasan utara Kebumen potensial dikembangkan wisata perbukitan seperti Pentulu Indah dan Brujul Adventure Park, di mana singkapan geologis banyak ditemui di Karangsambung.

“Bahkan Kecamatan Sadang menjadi lokasi lantai samudera yang terangkat sebagai hasil  tumbukan lempeng Samudera Hindia Australia dengan lempeng benua Eurasia.”

Teguh mengingatkan, kegiatan Geofest seharusnya bisa menjadi momentum menyeimbangkan mengembangkan, menyebarkan serta memperkenalkan potensi wisata di kawasan utara dan selatan Kebumen.

Komper Wardopo