blank
Wana Armada menerima penghargaan dari MURI yang diserahkan oleh pendiri MURI Jaya Suprana dan Dirut Muri Aylawati Sarwono Juli tahun lalu. Foto: MURI

JAKARTA (SUARABARU.ID) – Ketika mendapat kabar duka tentang meninggalnya Bang Wina Armada Sukardi, pasti banyak wartawan, terutama anggota Persatuan Wartawan Indonesia kaget.

Wina Armada Sukardi, tokoh pers yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indnesi (PWI) ini meninggal Kamis, 3 Juli 2025 pukul 15.59 akibat penyakit jantung.

Almarhum meninggal dalam usia yang sebenarnya belum terlalu tua, baru 65 tahun. Uswia yang masih cukup produktif, terutama untuk wartawan atau penulis.

blank

Wina Armada Sukardi dikenal sebagai sosok wartawan pemikir dan pakar hukum pers yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan dunia jurnalistik dan kebebasan pers di Indonesia.

Sarjana Hukum lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan Magisten Hukum Universitas Nasional ini pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat periode 2003–2008, dan kemudian menjadi anggota Dewan Pers selama dua periode, yakni 2004–2007 dan 2007–2010. Di Dewan Pers, almarhum dipercaya sebagai Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan.

Hukum Pers sampai Antologi Puisi Anak

Sebagai pemikir di dunia jurnalistik, Wina Armada Ia menulis sejumlah buku penting, di antaranya Wajah Hukum Pidana Pers dan Menggugat Kebebasan Pers, dan Menjadi Ahli Dewan Pers. Ia juga menjadi editor dalam berbagai penerbitan buku bertema hukum dan jurnalisme.

Sepanjang hidupnya, almarhum tak pernah lepas dari dunia tulis-menulis. Sejak masa SMP, ia telah menekuni dunia kepenulisan dan dalam satu dekade terakhir bahkan rutin menulis setiap hari.

Dua buku kumpulan puisi karya Wina Armada Sukardi, mendapat anugrah Meseum Recor Dunia dan Indonesia (MURI). Kedua buku itu masing-masing Memetik Bulan (terbitan tahun 2023) dan Pacul Berdarah Puisi Serba Benda (terbitan tahu 2024).

Wina menerina anugrah MURI untuk katagori “Perintis buku puisi untuk Anak-anak dan buku puisi kebendaan.” Penghargaan diserahkan langsung leh pendiri MURI Jaya Suprana dan Direktur Utama MURI Aylawati Sarwono, bulan Juli 2024 lalu.

Wina Armada, oleh rekan-rekannya sesama wartawan, dikenal sebagai sosok yang ramah tetapi juga sering memberikan kritik yang tajam.

Seperti diungkapkan Mahmud Marhaba, Ketua Umum PJS (Pro Jurnalis Siber). Mahmud Marhaba menyebut, dia mengenal Wina secara pribadi.

Tahun 2011, Mahmud mengikuti Training of Trainers (ToT) Ahli Pers Dewan Pers, dan Wina Armada adalah salah satu pengujinya.

“Saya masih ingat bagaimana cara beliau menyampaikan kritik—tajam tapi penuh kesadaran membangun. Sebagai peserta, saya merasa diuji oleh seseorang yang tidak hanya tahu teori, tapi telah menghidupi seluruh dinamika pers dengan sepenuh jiwa dan integritas,” kata Mahmud.

Dia juga mengenang, saat Wina mengirimkan langsung buku karyanya berjudul Menjadi Ahli Dewan Pers kepadanya di Pekanbaru, Riau.

“Sebuah hadiah yang tidak hanya bermakna simbolis, tetapi juga menjadi penyemangat bagi saya dalam meniti jalan sebagai insan pers dan pendidik di bidang jurnalistik. Buku itu bukan sekadar bacaan, tapi warisan pemikiran dan nilai,” ujar Mahmud.

Selamat jalan Bang Wina, wartawan pemikir, penulis, penyair. Kau tak terlupakan oleh para wartawan, terutama yang mengenalmu.

R. Widiyartono