WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Tiga puluh tahun bukan sekadar perjalanan panjang, tapi juga kisah tentang kepercayaan, pengabdian dan perubahan. Sejak didirikan pada 29 Juni 1995, Rumah Sakit Islam (RSI) Wonosobo telah menjadi saksi berbagai dinamika layanan kesehatan di kabupaten berhawa sejuk ini.
Kini, di usia ke-30, RSI tampil dengan semangat baru : melayani lebih ramah, modern dan profesional. Puncak hari ulang tahun (HUT) sendiri digelar Minggu (29/6/2025) di rumah sakit setempat. Momentum HUT ke-30 dimaknai sebagai tonggak penting untuk berbenah total.
Di bawah kepemimpinan dr H Sudomo, RSI melakukan berbagai langkah strategis, baik dalam tata kelola manajemen, keuangan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Kami ingin RSI benar-benar hadir sebagai rumah sakit yang modern, kompeten, tapi juga tetap membumi dan mengedepankan nilai-nilai Islami dalam setiap pelayanan,” ujar dia.
RSI menargetkan dua hal dalam reformasi SDM: peningkatan kapasitas serta pemenuhan tenaga profesional sesuai kebutuhan.
Salah satu langkah nyata adalah peluncuran core values ASIIKK—singkatan dari Amanah, Sinergi, Islami, Integritas dan Inovatif, Kompeten dan Komitmen. Nilai-nilai inilah yang kini menjadi pijakan bagi seluruh SDM dalam memberikan layanan.
Tak hanya berhenti pada slogan, RSI juga menggelar pelatihan dan program capacity building untuk memperkuat kompetensi seluruh tim.
Di sisi lain, kado ulang tahun ke-30 juga datang dari terpenuhinya kebutuhan dokter spesialis full timer. Kini RSI Wonosobo telah memiliki dokter spesialis tetap di bidang Obstetri dan Ginekologi, Penyakit Dalam, Bedah, Anak, dan Urologi.
Selain itu, RSI juga memberi beasiswa pendidikan dokter spesialis kepada dua tenaga medis untuk mengambil program PPDS Dalam dan PPDS Syaraf. “Keberadaan dokter full timer sangat penting agar layanan spesialistik bisa berjalan pagi, sore bahkan saat hari libur. Ini menjadi keunggulan baru RSI,” jelas dr. Sudomo, sembari mengatakan, “Transformasi juga terlihat dalam aspek fisik dan layanan,,” tegasnya.
Milik Umat

RSI tengah menyelesaikan renovasi poliklinik rawat jalan, bangsal kelas rawat inap standar (KRIS) di ruang An-Nisa dan Al-Mana, serta ruang VVIP Al-Kautsar yang akan diresmikan pada 5 Juli 2025 mendatang bertepatan dengan sarasehan Ulama dan Umaro.
Fasilitas penunjang seperti ambulans pun ikut ditingkatkan. Saat ini RSI telah mengadakan unit ambulans baru dengan standar mini ICU untuk menjawab kebutuhan pasien darurat secara lebih optimal.
Sementara itu, RSI Wonosobo saat ini memiliki 110 tempat tidur, termasuk 11 bed VIP dan 11 tempat tidur ICU. Penyesuaian terhadap standar nasional Kemenkes juga tengah dilakukan agar pelayanan rawat inap sesuai dengan kebijakan kelas rawat inap tunggal nasional.
Meski demikian, tingkat keterisian tempat tidur (BOR) masih berada di kisaran 70 persen, di bawah target ideal 85 persen. Namun, pihak rumah sakit optimis peningkatan mutu dan fasilitas akan berdampak pada naiknya kepercayaan publik.
Dalam perjalanannya, RSI Wonosobo tidak melupakan akarnya sebagai rumah sakit milik umat. Kegiatan sosial tetap menjadi bagian penting sebagai bentuk syukur dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) RSI, berbagai kegiatan sosial terus dijalankan, mulai dari baksos kesehatan rutin di desa-desa, program bantuan untuk masyarakat dhuafa, hingga layanan pengobatan gratis di momen tertentu.
“Kami sadar, RSI lahir dari dukungan masyarakat. Maka sudah selayaknya kami kembali hadir untuk mereka, tak hanya saat sakit, tapi juga saat butuh perhatian sosial,” tutur dr H Sudomo
Dengan seluruh ikhtiar ini, RSI Wonosobo menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk terus berinovasi.
Justru di usia ke-30 inilah rumah sakit ini makin mantap melangkah menuju layanan yang berkelas nasional, berbasis nilai-nilai Islami, dan dibangun dengan semangat kolaborasi dan keikhlasan.
Karena rumah sakit sejatinya bukan hanya tempat berobat, tapi juga tempat seseorang merasa disambut, dimengerti, dan diperlakukan dengan penuh hormat.
Muharno Zarka













