blank
Pengasuh PP Rohmatul Umat Wonobungkah Wonosobo, K Abdul Faqih Syafaat, penggagas "Jagong Budaya Lembar Pakarti". SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Rektor Universitas Sains Alquran (Unsiq) Jawa Tengah di Wonosobo, Dr H Z.Sukawi, MA menyebut bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tantangan hybrid disruption yang menjadi pertanda bahwa kondisi global tidak sedang baik-baik saja.

Pernyataan itu disampaikan saat dirinya menjadi pembicara dalam acara “Launching Majelis Lembar Pakerti” di halaman Masjid Yudha Pratama, Wonobungkah Wonosobo, Sabtu (28/6/2025).

Menurut Sukawi, berbagai konflik militer antar negara yang memanas, ketegangan geopolitik, hingga dampak perubahan iklim merupakan bukti nyata bahwa dunia sedang menuju kondisi krisis yang kompleks.

Dia bahkan mengatakan kondisi saat ini sebagai bentuk awal dari “Perang Dunia Ketiga” yang diawali oleh perang dagang global.“Kondisi ini tidak bisa diabaikan. Dunia sedang menuju boiling warning, bukan lagi sekadar global warning,” tegasnya.

Pihaknya menambahkan, dalam situasi disrupsi seperti ini, bangsa Indonesia memerlukan pemahaman yang kokoh akan identitas kebangsaan. Tanpa identitas yang kuat, interkoneksi dan interdependensi dalam kehidupan berbangsa menjadi tidak bermakna.

Budaya Lokal

blank
Rektor Unsiq Jateng di Wonosobo, Dr H Z Sukawi, MA saat berbicara dalam acara Jagong Budaya Lembar Pakarti. Foto : SB/Muharno Zarka

“Perkembangan teknologi seperti Revolusi Industri 4.0 hingga 5.0 disebutnya sebagai pisau bermata dua,” ujarnya.  Di satu sisi memberi peluang, namun di sisi lain menimbulkan ancaman sosial seperti maraknya judi online dan pinjaman daring yang menjerat masyarakat.

“Pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang belum tuntas, justru kerap digoreng menjadi isu yang memecah belah. Jika ini terus pterjadi, bangsa ini sulit maju,” kata Sukawi.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis lingkungan Jon Ali menyoroti pentingnya sektor pertanian sebagai kekuatan strategis di masa depan. Dia menyebut, dalam berbagai krisis besar seperti krisis moneter dan pandemi Covid-19, pertanian terbukti menjadi sektor yang bertahan dan menyelamatkan masyarakat.

Namun sayangnya, menurut Jon Ali, dunia pertanian dan para petani justru cenderung dimarjinalkan. “Negara maju bukan semata yang punya teknologi tinggi atau senjata nuklir, tetapi yang memiliki sistem pertanian yang kuat untuk menjamin kemandirian rakyatnya,” ujar Jon Ali.

Jon juga menyinggung terjadinya pergeseran pola sosial, di mana masyarakat desa kini terpesona oleh kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), sementara sebagian masyarakat kota justru kembali ke alam dan memilih jalan hidup bertani.

Jon Ali menekankan pentingnya kebhinekaan bukan hanya dalam aspek agama, tetapi juga dalam sektor-sektor kehidupan lainnya. Dia mendorong penguatan identitas melalui pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Sementara itu, K Ahmad Faqih Syafaat selaku pengelola Majelis Lembar Pakerti menjelaskan bahwa majelis ini didirikan sebagai ruang belajar dan berbagi lintas sektor.

“Keanggotaan majelis terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari lintas agama hingga lintas profesi,” katanya. Majelis ini direncanakan akan digelar setiap malam Ahad Kliwon dengan tema yang berbeda dan menghadirkan narasumber kredibel dari berbagai bidang.

 

Muharno Zarka