blank
Laila Witiarso yang membacakan surat Kartinoi kepada sahabatnya, Stella yang dikenalnya melalui surat. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Terbitnya buku Trilogi Kartini yang ditulis oleh  Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro,  mantan        Menteri Pendidikan RI  1993-1998  menurut Bupati Jepara Witiaso Utomo menjadi  khasanah pustaka tentang Raden Ajeng Kartini. Ini sekaligus menunjukkan  perhatian penuh terhadap pendidikan, kebudayaan, dan IPTEK di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan dalam sambutan tertulis yang disampaikan oleh Staf Ahli Bupati Rini Padmini saat membuka Diskusi dan Bedah Buku Trilogi Kartini Karya Prof Dr. Wardiman yang berlangsung di aula Museum RA Kartini, Rabu  25 Juni 2025. Tiga buku tersebut adalah jilid 1 :   Kartini, Kumpulan Surat-surat 1899-1904; Jilid 2. Kartini, Hidupnya, Renungannya dan Cita-citanya; dan Jilid 3. Inspirasi Kartini dan Kesetaraan Gender Indonesia.

blank
Prof Dr Wardiman menulis buku karena kekagumannya pada Kartini . Foto: Hadepe

Menurut Witiarso Utomo  sosok dan perjuangan Kartini, kita sebenarnya sedang menghadapi dua permasalahan besar. “Pertama, simplikasi terhadap perjuangan Kartini yang dipandang sebatas pada emansipasi perempuan semata. Kedua, simplikasi pada perjuangan RA Kartini yang oleh banyak orang dianggap sekedar wacana tertulis melalui surat suratnya. Ini menjadi tugas kita untuk meluruskan sejarah perjuangan Kartini,”  ungkapnya

blank
Sekretaris Komisi B DPRD Jepara Nur Oshel Kahisha Putri yang jugaA tampil membaca surat Karfrtini kepada Stella. Foto : Hadepe

Lebih jauh bupati mengungkapkan, jika menggali lebih jauh tentang apa saja yang telah Kartini lakukan, paling tidak ada 6 (enam) karakter yang dimiliki Kartini, antara lain; kepatuhan dan ketaatan pada orang tua, semangat pantang menyerah dan gigih menggapai cita-cita. visioner dan pandangan jauh ke depan, memiliki kepedulian sosial, memiliki kepedulian terhadap kehidupan religius pada Agama Islam serta nasionalisme yang tinggi.

Terkait dengan spirit nasionalisme Witiarso mengungkapkan,  walaupun dengan konsep kebangsaan Jawa, tetapi ia mampu berteman dengan banyak pemuda pergerakan waktu itu. “Mereka bersama berfikir dan  mendiskusikan permasalahan kebangsaan. Beberapa pemuda pergerakan menyebut Kartini sebagai Ayunda. Bahkan jauh sebelum Jong Java dideklarasikan, Kartini telah mengungkapkan peran organisasi pemuda ini,” paparmya

blank
Cineramata kepada Prof Wardiman yang diserahkan oleh staf ahli bupati dan Suryanti Jadmiko. Foto: Hadepe

Salah satu jejak peninggalan Kartini adalah pengembangan industri kreatif, khususnya mebel ukir dan batik khas Jepara. “Melihat kenyataan bahwa pengrajin ukir di kampung Belakang Gunung hanya berkutat pada pasar lokal, Kartini mengumpulkan dan mendidik para pengukir untuk membuat produk dan memasarkannya ke Semarang dan Batavia. Ini adalah babak baru dalam pengembangan Ukir Jepara dari semula sekedar seni lokal menjadi industri kerajinan,” pungkasnya

blank
Laila WitiarsoUtomo meenerima cinderamata buku dari Prof Wardiman

Untuk mengawali dialog dan badah buku maka sejumlah tokoh perempuan telah membacakan surat Kartini diantaranya Laila  Witiarso Utomo Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Jepara yang membacakan surat Kartini kepada Stella tanggal 25 April 1899.

blank
Susi Ernawati Susindra peneliti Sejarah Kartini yang melanjutan membaca kutipan surat Kartini kepada Stella. Foto: Hadepe

Juga ada Sekretaris Komisi B DPRD Jepara Nur Oshel Kahisha Putri dan Susi Ernawati Susindra peneliti Sejarah Kartini yang melanjutan membaca kutipan surat Kartini kepada Stella, serta Suyanti Jadmiko Ketua Paguyuban Batik Biyung Pralodo yang membaca surat Kartini kepada Ny. Abendanon Mandri

Hadepe