Oleh : Budi Prihartini
Kegiatan Launching Edukasi Wisata di Bumi Perkemahan Jati Cindhe, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, berlangsung meriah. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah stand kuliner yang berada di area Gate 2, tepat di pintu masuk lokasi acara.
Sejak pagi, stand kuliner yang diinisiasi oleh para guru di lingkungan Satkordik Kembang ini tampak dipadati pengunjung. Aroma jajanan tradisional menggoda, ditambah promosi kreatif dan nama-nama produk yang unik membuat stand ini laris manis.

“Ayo coba gorengan anti gagal diet!”
“Es jamu kenangan lama, siapa berani coba?”
Dengan gaya promosi yang lucu dan menggoda, stand-stand ini sukses menarik perhatian, terutama dari anak-anak. Aneka jajanan seperti cilok, gorengan, es cincau, hingga nasi gurih dengan lauk khas lokal ditawarkan dengan harga terjangkau.
Serbuan anak-anak karena tertarik dengan kalimat promosi_guru sebagai isnpirapengunjung di stand kuliner

Tak hanya dari sisi rasa, keunikan nama produk seperti De Sumi, P-chel, P-Chare, Che Chek, Gatoet, dan masih banyak lagi membuat banyak pengunjung penasaran. Salah satu stand yang cukup ramai adalah milik kelompok Dabin bertajuk Dhayeng Sulubi, serta stand UMKM unggulan yang menampilkan produk seperti Kopi Sumanding yang sudah dikenal masyarakat.
“Kami sengaja mengangkat kuliner tradisional supaya anak-anak kenal dengan makanan warisan daerah,” ujar salah satu guru pengelola stand.
Namun, di balik suksesnya animo pengunjung, muncul catatan penting terkait pengelolaan sampah. Tempat sampah memang telah disediakan, namun jumlahnya masih belum memadai. Akibatnya, beberapa siswa terlihat kebingungan mencari tempat pembuangan.
“Bu, ini dibuang di mana?” tanya seorang siswa sambil membawa gelas plastik.Karena tidak menemukan tempat sampah, akhirnya ia diarahkan ke tumpukan dedaunan” ujar seorang anak
Stand Kuliner Tawarkan jajan tradisional
Hal ini menjadi pengingat bahwa seiring bertambahnya aktivitas, fasilitas pendukung seperti pengelolaan sampah harus ditingkatkan agar tidak mencemari alam sekitar.
Meski begitu, kegiatan ini tetap menuai apresiasi dari berbagai pihak. Kolaborasi lintas elemen; guru, siswa, UMKM, dan pemerintah desa berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, di luar ruang kelas. Stand kuliner pun menjadi ruang edukasi tak langsung tentang ekonomi kreatif, komunikasi, dan budaya lokal.
Aneka jajanan lokal di setiap stand kuliner yang dikelola para guru di Satkordikcam Kembang
Penyelenggara berharap, ke depan Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata dapat memberikan dukungan lebih, baik dari sisi promosi maupun anggaran, agar Buper Jati Cindhe dapat berkembang menjadi destinasi edukasi yang berkelanjutan.
“Harapan kami, lokasi ini bisa menjadi pusat kegiatan edukatif dan wisata warga, dan kegiatan seperti ini bisa berlangsung rutin,” ungkap salah satu panitia.
Di balik gelak tawa anak-anak dan wangi makanan yang menggoda, acara ini menyimpan pesan penting: bahwa belajar bisa melalui rasa, tradisi, dan lingkungan, selama semua pihak terus bersinergi dan menjaga keberlanjutan.
Penulis Kepala SDN 5 Cepogo













