blank
Foto bersama usai penandatanganan MoU komitmen bersama. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) memulai langkah transformatif dengan merintis Program Studi (Prodi) Artificial Intelligence (AI), sebuah inisiatif yang mengintegrasikan kekuatan teknologi dan nilai-nilai iman untuk membentuk masa depan pendidikan yang bermakna bagi Indonesia.

Upaya ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan UKSW untuk menghadirkan transformasi pendidikan tinggi yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Kristiani.

Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami menyatakan, pembukaan Prodi AI merupakan buah dari perenungan panjang mengenai relasi iman dan teknologi dalam dunia pendidikan. “Kami percaya bahwa iman dan teknologi tidak harus berseberangan. Di UKSW, keduanya berjalan beriringan. AI akan menjadi kekuatan pembelajaran, tapi nilai-nilai Kristiani tetap menjadi pijakan utama,” ungkap Rektor Intiyas di sela kegiatan Seminar “Pemanfaatan Artificial Intelligence di Dunia Industri”, belum lama ini.

Diketahui, program Studi AI di bawah naungan Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKSW saat ini tengah memasuki tahap finalisasi sebelum diajukan ke Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) untuk mendapatkan izin operasional. Program ini dirancang tidak hanya sebagai respons terhadap kebutuhan industri, tetapi juga sebagai manifestasi dari upaya UKSW dalam membentuk lulusan yang mampu mengintegrasikan kecakapan teknologi dengan kebijaksanaan etis.

UKSW juga telah mempersiapkan infrastruktur pendukung seperti pengadaan Graphics Processing Unit GPU berteknologi tinggi untuk menunjang riset dan pembelajaran AI lintas fakultas. Kurikulum berbasis AI akan mulai diintegrasikan tidak hanya di FTI, tetapi juga di Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Bahasa dan Seni, dan fakultas lainnya untuk mendorong terciptanya pendekatan multidisipliner, interdisipliner, hingga transdisipliner dalam proses akademik.

“Perkuliahan tidak selalu harus terjadi di ruang kelas. Dengan teknologi, pembelajaran dapat berlangsung di mana saja. Oleh karena itu, kami membangun ekosistem pendidikan yang fleksibel, lintas bidang, dan berbasis kompetensi global,” tambah Rektor Intiyas.

Melayani dengan Teknologi

UKSW juga merancang pengembangan smart clinic berbasis AI sebagai fondasi menuju rumah sakit cerdas yang direncanakan kampus. Inisiatif ini menyatukan visi kedokteran komunitas dengan inovasi digital untuk pelayanan kesehatan yang holistik dan manusiawi.

Dalam konteks sosial, pengembangan AI di UKSW diharapkan dapat berkontribusi pada penyelesaian berbagai permasalahan bangsa, mulai dari keuangan, hukum, hingga kebijakan publik. “AI akan menjadi alat bantu yang etis, cepat, dan tepat dalam mengurai kerumitan sosial, selama tetap dikawal oleh iman dan tanggung jawab moral,” tandas Rektor Intiyas.

Selaras dengan kebijakan yayasan yang menerapkan zero growth dalam pengelolaan sumber daya manusia, UKSW berkomitmen untuk tidak menambah jumlah pegawai, tetapi memperkuat kompetensi SDM yang ada melalui pelatihan intensif dan pengembangan kapasitas berbasis teknologi.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan (WR RIK) Profesor Eko Sediyono, mengungkapkan, pemanfaatan AI sebelumnya masih berjalan sporadis sesuai minat dosen masing-masing. Namun sejak 2024, UKSW mulai menyatukan potensi tersebut secara sistematis dengan membentuk pusat studi AI lintas fakultas, mendorong pengembangan riset yang lebih terintegrasi dan berdampak.