blank
Rumini bersama Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dan mantan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI Siti Nurbaya. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) – Rumini, perempuan yang dengan setia menjalani takdirnya sebagai tukang ukir sejak 1994  menganggap seni ukir   adalah nafas kehidupan yang harus dijaga dan dilestarikan. Karena itu walaupun orderan sedang sepi, perempuan yang lahir di Jepara 4 Juli 1978 ini menolak tawaran untuk bekerja di bidang yang lain, walaupun menjanjikan upah yang lebih besar.

Karena kesetiaan dan ketekunan ini,   ibu dua anak  Ega Putri dan Nadia  hasil pernikahannya dengan Sutrisno ini memiliki kemampuan mengukir di atas rata-rata. Bahkan kemudian berhasil meraih juara II Lomba Ukir tahun 2022 dan pada tahun 2024 menyabet juara I Lomba Ukir Perempuan yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara dalam rangka peringatan Hari Ukir Nasional. Bahkan kemudian pada bulan Mei lalu ia mendapatkan anugerah  Kartini Awards sebagi  Perempuan Pelestari Seni Ukir.

Rumini yang  akrab disapa Mbak Erum mengaku belajar mengukir saat lulus SD, ketika usianya baru 13 tahun. “Karena kondisi orang tua  saya memang  tidak bisa  melanjutkan sekolah, saya kemudian  belajar mengukir secara gratis kepada  Pak Sadi di Desa Sukodono selama dua tahun  dari 1993-1994,” ungkap Rumini. Bahkan ketika lulus pak Sadi memberi hadiah saya satu set pahat, tabahnya mengenang kebaikan guru ukirnya

blank
Rumini dan Maryati bersama Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar. Foto: Hadepe

Dengan pahat hadiah itu Rumini kemudian bekerja sebagai tukang ukir  di seorang pengrajin bernama  Rukani di desa Sukodono sampai tahun 1998 karena ia  menikah dengan Sutrisno. “Kebetulan  mertua saya memiliki usaha mebel ukir sendiri, hingga  kemudian saya  bekerja di sini. Sementara suami menjadi tukang kayu,” ungkapnya.

Namun karena orderan ukiran semakin sedikit dan bahkan kemudian tutup karena orderan  ke Bali 1 truk  dikembalikan, Rumini  tahun 2005 kemudian bekerja di CV Mahoni milik orang Korea dengan pekerjaan mengukir meja, kursi, lemari serta nakas yang dikirim langsung ke Korea. “Setiap hari ada pekerjaan mengukir,” kenangnya.

blank
Rumini saat menerima Kartini Awards yang diserahkan oleh Pawoko, Pembina Yayasan Kartini Awards Indonesia. Foto :Hadepe

Kemudian tahun 2023 ia  bekerja di CV Jepara Carfer dengan pekerjaan  mengukir pintu serta plavon untuk rumah yang merupakan pesanan dari Turki. Sedangkan tahun 2025 hingga sekarang  ia mengerjakan pesanan pintu dari Malaysia.

Perjalanan panjang pengabdiannya di bidang  seni  ukir kayu mengantarkan Rumini trampil menggerakkan pahatnya untuk membuat  Ukir Klasik,  Ukir Motif Jepara, Ukir Cekung Ukir Cembung,  Ukir Garis/Cawean,  Ukir Tembus,  Ukir Lunglungan Bunga, Ukir Bunga Mawar,  dan Ukir Ulir Relief Daun Merambat.

Sementara suami saya bekerja sebagai tukang kayu dan saya yang membuat ukirannya. “Alhamdulillah dari hasil kerja saya dan suami, saya mampu untuk menyekolahkan anak saya hingga sarjana,” ungkap Rumini.

blank
Rumini saat menerima hadiah juara I lomba ukir kategori perempuan tahun 2024 dari Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara. Foto: Leo Ramli

Rumini adalah salah satu profil perajin perempuan yang dengan kesetiannya mendedikasikan dirinya untuk pelestarian seni ukir. Karena itu di sela-sela kesibukannya sebagai perajin ukir, ia juga dengan sanang hati membimbing  siapapun yang ingin  belajar mengukir. Juga memberi motivasi, memberi semangat serta menumbuhkan kreativitas dalam mengembangkan ukir.

Bahkan Rumini juga sering   menerima kunjungan dari mahasiswa-mahasiswa dan pelajar untuk menjadi narasumber dalam memenuhi tugas-tugas kuliahnya. “Semua saya lakukan dengan senang hati demi dan  untuk pelestarian ukir Jepara,” tuturnya

blank
Rumini mendapatkan kehormatan untuk turut menandatangani deklararasi dukungan pengajuan Seni Ukir Sebagai Kekayaan Budaya Takbenda Unesco. Foto: Hadepe

Karena itu Rumini mengaku senang saat mendapatkan undangan ke pendopo Kartini Jepara Mei lalu bersama Maryati peraih juara II Lomba Ukir tahun 2024  untuk ikut  dalam kegiatan penyambutan Duta Besar Bosnia-Herzegovina. “Apalagi saat itu saya diminta turut menandatangani deklarasi dukungan menjadikan seni ukir sebagai warisan budaya takbenda dunia bersama Ibu Wakil Ketua MPR RI, Bapak Bupati, Bapak Wakil Bupati dan pejabat yang lain,” ungkap Rumini.

blank
Rumini bersama suaminya, Sutrisno dan kedua anaknya Ega Putri Tristiani dan Nadia Zahra. Foto: Dok keluarga Choirunnisa

“Jujur saya tidak dapat menggambarkan  betapa bahagia dan bangganya  pada malam itu. Tentu pengrajin ukir Jepara mendukung ikhtiar baik ini,” pungkasnya seraya berharap seni ukir Jepara dapat kembali bangkit dan dan menjadi warisan budaya takbenda dunia

Hadepe