Oleh: Amir Machmud NS
// elite bertambah jumlah/ ada yang menunggu peluang/ tak terbedakan dari mana dia berasal/ dari liga mana pun/ dengan label apa pun…//
(Sajak “Elite Baru”, 2025)
BAKAL terukirkah sejarah baru di panggung Eropa?
Simaklah, Paris St Germain menambah catatan emas dalam buku sejarahnya. Dua kali lolos ke final Liga Champions, bukankah prestasi ini tak bisa dibilang sembarangan? Dan, pastilah investor klub ini — Qatar Sports Investment dan ArctosPartners — makin bersemangat menyokongnya.
Pada 2020, PSG dikalahkan Bayern Muenchen 1-0, dan kali ini mereka menghadapi Internazionale Milan yang lebih punya tradisi dan pengalaman di ajang Eropa.
Tentu konstelasi kekuatan kedua klub sudah berbeda. Bukankah musim ini PSG dan Inter punya kesamaan dalam satu hal: kematangan mentalitas dan kemampuan membalikkan prediksi bisa melaju hingga partai puncak?
Ketika bursa juara lebih mengunggulkan Barcelona atau Arsenal, justru PSG dan Inter yang lolos ke partai pamungkas, 1 Juni WIB besok. Bayern Muenchen dan Real Madrid yang jauh lebih punya sejarah di ajang ini, sudah harus tersisih di perjalanan.
Dengan pelatih rendah hati Luiz Enrique, PSG menyeruak dari Ligue 1 yang banyak disindir dengan nada sinis sebagai “Liga Petani”, karena Ligue 1 dipandang masih di bawah liga-liga elite Eropa seperti Liga Primer, La Liga, dan Budesliga. Sementara Internazionale sedang dalam proses membangun kebangkitan di bawah pelatih Simone Inzaghi, yang disebut-sebut belum teruji di panggung elite. Di ajang ini, terakhir kali, La Beneamata kalah 0-1 dari Manchester City dalam final 2022-2023, Mereka tiga kali juara pada 1964, 1965, dan 2010.
Bagaimana pula pandangan publik sepak bola tentang PSG?
Dominasi Les Parisiens dalam beberapa tahun di Ligue 1 bisa menghadirkan persaingan dengan Marseille dan Lyon. Daya saing mereka di Eropa juga mewartakan kondisi yang tak bisa dianggap sembarangan oleh klub-klub elite lainnya. CEO PSG, Nasser Al-Khelaifi berambisi menjadikan klub ini menjadi kekuatan Eropa. Sukses berkat sentuhan taktik Luis Enrique musim ini, bagaimanapun mengubah pandangan sinis sebagai klub tak punya tradisi terhadap PSG. Bahwa klub ini mampu menyingkirkan Liverpool, Aston Villa, lalu Arsenal dari Liga Primer, menunjukkan kekuatan kematangan bersaing di level Eropa.
Final Ideal?
Pertanyaan ini banyak mewarnai bursa taruhan dan prediksi-prediksi, “Apakah pertemuan PSG vs Internasionale bisa dibilang sebagai final ideal Eropa musim ini?”
Suka atau tidak suka, ini adalah pertarungan yang telah teruji lewat perjalanan menuju puncak. Final ini menjadi pertemuan pertama kedua klub di ajang resmi. Inter dikenal sebagai tim yang matang, disiplin, dan berpengalaman. Barcelona yang awalnya lebih diunggulkan, dikalahkan di semifinal dengan seri 3-3 di kandang Barca, dan kemenangan 4-3 di San Siro. Laga ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah Liga Champions. Inter juga menyisihkan Bayern Muenchen, salah satu favorit yang punya tradisi kuat Eropa.
Sementara PSG, yang melewati adangan klub-klub Inggris, Liverpool, Aston Villa, hingga Arsenal, membukukan 10 kali menang dalam 16 laga — mencetak 33 gol, kemasukan 15 gol — itu, Ousmane Dembele dkk ingin merajut sejarah, pulang dari Allianz Arena dengan gelar Eropa. Mereka jauh lebih siap dari ketika dikalahkan Bayern Muenchen di final 2020.
Internazionale Milan juga melalui perjalanan yang teruji, antara lain menundukkan Feyenoord, Bayern Muenchen, dan Barcelona di 16 besar, delapan besar, dan semifinal. Lautaro Martinez dkk mengukir 26 gol dan kemasukan 11 gol dalam perjalanan dari babak awal menuju final.
Dalam catatan, selain tiga kali menjadi juara pada 1963-1964, 1964-1965, dan 2009-2010, Nerazzurri juga tiga kali juara Piala UEFA (1990-1991, 1993-1994, dan 1997-1998). Mereka dua kali juara Piala Intercontinental (1964, 1965), dan sekali meraih juara dunia antarklub (2010).
Kesiapan Les Parisiens
Kali ini, PSG lebih siap. Sang arsitek, Luis Enrique berhasil meracik talenta-talenta yang terasa lebih segar dibandingkan dengan era Lionel Messi – Neymar Junior – Kylian Mbappe. Les Parisiens tanpa superstar, namun Enrique mampu meramunya menjadi kekuatan kolektif yang rancak.
Ousmane Dembele kini tampil dengan performa terbaik, didampingi Nuno Mendes di kiri. Dari sektor gelandang, tusukan-tusukan tajam Vitinha dan Khvicha Kvaratskhelia menjadi senjata lain PSG. Sedangkan dari barisan pertahanan, Achraf Hakimi sering menghasilkan produktivitas manuver sektor sayap, dengan umpan-umpan silang maupun gol. Di bawah mistar, ketangguhan Gianluigi Donnarumma menjadi jaminan ketenangan bagi pertahanan PSG.
Para penggawa PSG ini bakal menjadi warna khusus di final nanti, bersaing dengan para bintang Inter seperti Lautaro Martinez, Denzel Dumfries, Stefan de Vrij, Marko Arnautovic, Davide Frattesi, Hakan Calhanoglu, Henrikh Mikhitaryan, Mehdi Taremi, dan kiper tangguh Yan Sommer.
Allianz Arena di Muenchen bakal membara, menyajikan pertarungan adu taktik Enrique dan Inzaghi. Sejarah bakal tercipta. Inter Milan menambah catatan trofi, atau PSG yang menguak sejarah, dengan menguatkan prestise: dari “Liga Petani” ke panggung elite Eropa?
— Amir Machmud NS; wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —













