JEPARA (SUARABARU.ID) – Mahasiswa Jepara sepakat mendukung pengajuan Seni Ukir sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Mereka juga berharap agar pemerintah terus membangun sinergitas dengan para pelestari ukir, pengrajin dan pemangku kepentingan lain untuk terus melestarikan seni ukir yang menjadi warisan budaya terbesar Jepara
Pernyataan bersama tersebut disampaikan oleh mahasiswa dan narasumber pada akhir Seminar Kebudayaan Sinergi Pemeringah, Pengrajin dan Generasi Muda dalam Pelestarian Seni Ukir yang digelar di Gedung Shima Jepara, Senin, 26 Mei 2025.
Seminar yang digelar oleh Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang ini dibuka oleh Bupati Jepara yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Rini Padmini. Hadir juga memberikan sambutan, wakil pembina KMJS Edi Sujatmiko serta Ketua Umum KMJS Pusat Aditya Ramadhan.

Sedangkan tiga narasumber yang dihadirkan adalah Kepala Disparbud Jepara Muh Eko Udyyono, Kadisdikpora yang diwakili Edi Sutoyo dan Ketua Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto. Acara dipandu oleh Afrida Zohrotul Kumala
Bupati Jepara Witiarso Utomo dalam sambutannya yang disampaikan oleh Rini Padmini mengungkapkan, kendati terancam pelestariannya, seni ukir dan industri funiture Jepara yang masuk sektor industri olahan masih menduduki posisi teratas dalam struktur perekonomian di Kabupaten Jepara.
“Sektor yang dimotori seni ukir ini masih menyumbang 34,01 persen dan menempati urutan pertama dalam struktur PDRB di Kabupaten Jepara. Dan berdasarkan data dari BPS, pada tahun 2024 nilai ekspor komoditi furniture dari kayu Jepara nilainya mencapai lebih dari Rp2,7 Triliun,” ungkapnya.
Bupati dalam sambutannya juga mengungkapkan komitmennya menjaga warisan budaya, terutama seni ukir, industri furnitur, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia menjelaskan, berbicara tentang pengembangan dan pewarisan SDM tenaga ahli ukir, berbagai upaya telah disiapkan. Selain melalui masuknya Seni Ukir dalam tema P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) di satuan pendidikan, saya juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Pelestari Ukir (Peluk) Jepara atas dukungannya dalam menyelengarakan berbagai event. Salah satunya lomba ukir, agar anak-anak Jepara dapat mewarisi, melanjutkan, dan mengembangkan warisan budaya ini, di masa depan.
Selain itu, saya juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam me-rebranding identitas Jepara sebagai “Kota Ukir dan The World Carving Center. Seperti melalui event JIF-BW (Jepara International Furniture-Buyer Week), dan penggunaan teknologi dan digitalisasi pemasaran yang memperluas jangkauan pasar ukiran Jepara.
Hadepe













