WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, menyatakan, berani bangkit dan berusaha adalah nilai yang harus kita ambil dari perjuangan Raja Mas (RM) Said atau Pangeran Sambernyawa.
Nilai perjuangan pendiri Dinasti Mangkunegaran yang dicetuskan 284 tahun yang lalu itu, Selasa (20/5/25) diungkapkan Bupati dalam sambutan pada upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Ke-117 yang dirangkai dengan upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri Ke-284 Tahun 2025. Upacara digelar di Alun-alun Giri Krida Bakti depan Kantor Bupati Wonogiri, ditandai pengibaran Bendera Merah Putih dan dikeluarkannya Pataka Lambang Daerah yang memiliki sesanti Sabda Sakti Nugrahaning Praja.
Bupati menyatakan, sejarah Hari Jadi Kabupaten Wonogiri, erat kaitannya dengan kemunculan embrio terbentuknya pemerintahan perdana di Kabupaten Wonogiri. Yakni pada Tanggal 19 Mei 1741, oleh Pangeran Sambernyawa di Bumi Nglaroh, Desa Pule Kecamatan Selogiri. Ini menjadi tonggak sejarah yang patut diteladani, yakni perjuangan Pangeran Sambernyawa melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda.
Berkaitan itu, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum peringatan menjadi refleksi atas semangat perjuangan masa lalu, dan tekad untuk menjawab tantangan zaman. “Hari ini, kita tidak sekadar memperingati sebuah tanggal dalam kalender nasional, tetapi kita sedang membuka kembali halaman penting dari sejarah perjuangan bangsa,” kata Bupati Wonogiri Setyo Sukarno.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, peringatan Harkitnas tahun ini mengambil tema Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat. Tema ini dipilih dengan harapan agar Harkitnas Tahun 2025 ini benar-benar dapat membawa nilai-nilai semangat dan kekuatan,untuk bangkit menuju masa depan Indonesia Kuat.
Nasional
Bupati mengingatkan, 117 tahun silam, di tengah bengisnya penjajah, para pemuda terpelajar menyalakan api kebangkitan melalui berdirinya organisasi Budi Utomo. Yakni kesadaran akan pentingnya berdiri di atas kekuatan sendiri, menjadi titik tolak perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. “Mari kita bangun sinergitas semangat kebangkitan secara nasional, dengan menjaga kearifan lokal dalam satu kebijakan sektoral untuk menjawab tantangan,” lanjut Setyo.
Setyo Sukarno, sebagai Bupati Wonogiri Ke-19 setelah masa kemerdekaan, menyatakan siap meneruskan tongkat estafet dari para pemimpin Wonogiri sebelumnya. Yakni untuk mewujudkan visi Wonogiri yang Berdaya Saing, Wonogiri yang Maju, Sejahtera, dan Pembangunan Berkelanjutan, melalui tujuh program unggulan Sapta Cita.
Masyarakat diajak untuk bersama-sama melaksanakan empat hal penting, dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi kreatif, mengembangkan pariwisata, membangun SDM berbasis riset dan teknologi, serta membina generasi muda menjadi kader unggul menuju Indonesia Emas 2045. Di tengah derasnya arus perubahan yang ada, Bupati berharap masyarakat Wonogiri tetap memiliki akar yang kuat untuk mempertahankan karakter bangsa yang positif.
Ikut hadir dalam upacara tersebut, Kapolres AKBP Jarot Sungkowo, Dandim 0728 Letkol (Inf) Edi Ristriyono bersama jajaran Forkompimda, para Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama. Upacara dimeriahkan dengan display marching band dari SMP Negeri 2 Wonogiri.
Usai upacara, Bupati Setyo Sukarno didampingi Wakil Bupati (Wabup) Imron Rizkyarno, menyerahkan piagam penghargaan kepada Sekda, Direktur RSUD Dokter Sudiran Mangoen Soemarso, Kepala Dinas Kependuduk Catatan Sipil (Dispenduk Capil) dan Kepala Dinas Sosial (Dinsos). Penghargaan tersebut dari Menteri PAN-RB, atas keberhasilan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemkab Wonogiri. Di tingkat nasional, Pemkab Wonogiri memperoleh penghargaan dengan predikat pelayanan prima, dengan nilai Indeks Pelayanan Publik (IPP) 4,58 dan masuk dalam kategori A.(Bambang Pur)













