blank
Sebelum berziarah, Bupati Sragen Sigit Pamungkas dan Wabup Suroto beserta pejabat sowan Sri Sultan Hamengku Buwono X  di nDalem Keraton Kilen, Ngayogyakarto Hadiningrat, Rabu (14/05/2025). Foto: Anind

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID)– Setiap menjelang  peringatan hari jadi Kabupaten Sragen 27 Mei, salah satu tradisi yang dilakukan kalangan pejabat Pemerintah Kabupaten Sragen adalah menggelar ziarah di kompleks Pemakaman Raja-Raja Jawa di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Bupati Sragen Sigit Pamungkas yang memimpin rombongan mengatakan berziarah untuk mengenang kebaikan dan  jasa-jasa baik almarhum.

“Yang penting dalam berziarah itu tidak untuk syirik, tetapi justru muhasabah untuk mendoakan almarhum,” tutur Bupati Sigit Pamungkas di area kompleks Makam Raja-Raja Imogiri, Rabu (14/05/2025).

Tahun ini, yang merupakan peringatan ke-279 tahun Kabupaten Sragen 27 Mei 2025 nanti, menjadi kali pertama Bupati Sragen, Sigit Pamungkas melakukan ziarah ke makam Raja-Raja Imogiri sebagai Bupati, pada Rabu (14/5/2025).

Sebelum berziarah, Bupati dan rombongan sowan Sri Sultan Hamengku Buwono X di nDalem Keraton Kilen. “Baru tahun ini dilakukan sebelum berziarah Sowan dulu  Sri Sultan Hamengku Buwono X,” tutur Sekda Hargiyanto.

Tiba sekitar pukul 14.00 WIB, Bupati Sigit yang datang bersama istri, Wakil Bupati Suroto dan istri, Sekda, jajaran Kepala OPD, perwakilan camat dan komunitas Lintas Mangkubumi tiba di kompleks makam melalui pintu sayap barat atau melewati depan kompleks makam Kasunanan Surakarta.

Seperti aturan yang berlaku bagi siapapun yang ingin berziarah ke Makam Raja-Raja Imogiri, Bupati dan rombongan harus mengenakan busana adat Jawa. Peziarah pria diharuskan memakai blangkon, surjan, dan jarik. Sedangkan perempuan memakai kemben atau kain jarik.

Suasana mendung dan teduh menyelimuti langkah demi langkah menyusuri ratusan anak tangga menuju lokasi ziarah pertama, makam Sultan Agung yang terletak paling tinggi. Bupati dan Wabup berada pada barisan paling depan dan diikuti para abdi dalem juru kuncen  yang membawa bunga mawar untuk berziarah.

Di area makam itu, ada juru kunci yang memimpin zikir dan tahlil sebelum berdoa. Mereka duduk bersila mengelilingi bangunan persegi yang di dalamnya ada makam Sultan Agung.

Setelah selesai berdoa, Bupati dan pejabat lainnya masuk ke dalam bangunan itu untuk menabur bunga ke makam langsung.

“Di tempat itu, rombongan tak hanya mendoakan Sultan Agung tetapi juga mendoakan para raja Mataram di kompleks pemakaman itu,” tutur Sekda Hargiyanto dihubungi terpisah.

Setelah dari makam Sultan Agung, rombongan bergeser ke makam Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono (HB) I yang terletak di kompleks sebelah yang dibatasi tembok tinggi dengan Kori atau pintu khas keraton. Tembok tinggi itulah yang memisahkan kompleks makam raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan raja-raja Kasultanan Yogyakarta.

Makam HB I bersebelahan dengan dinding penyekat dengan makam HB III. Setelah dari dua makam itu, rombongan bergeser ke makam PB X yang berada di dekat pintu masuk Permakaman Raja-Raja Mataram.

Usai berziarah, Bupati Sigit menyampaikan sudah kali kedua berziarah ke kompleks makamr Raja-Raja Imogiri. Meskipun sebelumnya hanya menyempatkan berziarah ke Makam Sultan Agung. Berziarah ke makam Raja-Raja Mataram itu, ada tradisi yang tidak bisa ditinggal, yakni mengenakan beskap atau kebaya.

“Ziarah pertama sudah lama. Kalau ziarah ke Makam HB I baru pertama kali ini. Ziarah ini tujuannya mendoakan kepada yang sudah meninggal dunia. Kami mendoakan mereka agar Allah mengampuni segala dosa mereka, semoga Allah memberi rahmat untuk semua kebaikan almarhum, serta mengenang jasa-jasa baik almarhum,” jelas Bupati.

Menurutnya berziarah ke makam raja-raja di Imogiri ini sekaligus untuk meneladani kebaikan-kebaikan yang pernah diperbuat.

Anind