blank
Produksi Carica Cahaya Dieng, yang merupakan minuman manis segar khas daerah Wonosobo. Foto: Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)– Kondisi ekonomi global dan Nasional yang melemah, sangat berpengaruh pada keberlangsungan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), di tingkat bawah.

Kondisi itu semakin diperparah, dengan keputusan pemerintah yang mengeluarkan kebijakan efisiensi anggaran APBN maupun APBD. Efesiensi anggaran itu, membuat aparat pemerintah tidak melakukan perjalanan dinas ke daerah.

Padahal, belanja pemerintah yang bisa menstabilkan daya beli masyarakat, ketika ekonomi global dan Nasional tengah mengalami kelesuan. Ekonomi yang lesu dan kebijakan efisiensi anggaran ini, semakin membuat pelaku UMKM kian terpuruk.

BACA JUGA: Kajati Jateng Berharap Gedung Kejari Wonosobo Bisa Jadi Rumah Keadilan

Salah satu produsen minuman Carica Cahaya Dieng, Wonosobo, H Maun mengaku, produksi dan pasar minuman manis segar khas daerah pegunungan ini, mengalami penurunan secara drastis, sejak kondisi ekonomi dunia dan Nasional melemah.

”Momentum hari liburan sekolah maupun libur Idul Fitri, yang biasanya menjadi masa panen, ternyata tidak berpengaruh terhadap kenaikan omzet usaha. Ini sungguh merupakan suatu kondisi yang tidak cukup menguntungkan bagi pelaku UMKM di bawah,” keluhnya, saat ditemui di tempat usahanya, Rabu (23/4/2025).

Ironisnya, lanjut dia, di saat produksi dan pasar turun, harga bahan baku pembuatan minuman carica mengalami kenaikan yang sangat tinggi, karena buah carica yang langka di kalangan petani.

BACA JUGA: Kanwil Kemenkum Jateng Santuni Anak Yatim Piatu Melalui Bakti Sosial

blank
Buah pepaya Carica sebagai bahan baku pembuatan minuman Carica. Foto: Muharno Zarka

”Pelaku UMKM, khususnya yang memproduksi minuman carica benar-benar sedang dalam kondisi sulit. Mau terus memproduksi rugi, tidak memproduksi tidak ada keuntungan,” ujarnya.

Menurut pria yang juga pemilik gerai Bakso Gemoy itu, pepaya bahan baku carica sempat berada di kisaran harga Rp 15-16 ribu per kilo. Kini memang sudah turun, menjadi Rp 9 ribu. Padahal harga normal sebelumnya hanya Rp 4 ribu.

”Saya pada bulan Ramadan kemarin sempat berhenti produksi secara total. Karena bahan baku langka, dan daya serap pasar turun. Dulu omzet satu toko per hari bisa mencapai Rp 1 juta lebih. Tetapi sekarang ngejar omzet seribu saja berat,” ungkapnya.

Karena itu dia berharap, pemerintah pusat meninjau ulang kebijakan efesiensi anggaran. Karena kebijakan itu justru meniadakan aparat pemerintah melakukan kunjungan kerja ke daerah. Pusat oleh-oleh minuman khas carica pun sepi, karena tidak ada pengunjung yang datang.

Muharno Zarka