JEPARA (SUARABARU.ID)– Riuh suara peserta didik mewarnai kegiatan pagi tadi di halaman Sekolah Dasar Negeri 1 Wedelan, Jepara. Keceriaan dan antusiame tergambar jelas dalam wajah-wajah kecil mereka. Larut dalam kebahagiaan seolah enggan usai. Iya, hari ini tanggal 23 Juli diperingati hari anak nasional. SDN 1 Wedelan menggelar kegiatan yang berbeda dari biasanya. Permainan tradisional yang jarang dimainkan oleh anak-anak diperkenalkan kembali. Mulai dari engklek, bentengan, lompat tali, adu panco, gobak sodor, i’ok , dingklik oglak aglik, dan lainnya.
Kegiatan diawali dengan apel bersama, kemudian dilanjutkan dengan membagi anak-anak secara berkelompok. Setiap kelompok dipersilahkan memlilih permainan yang ingin dimainkan dengan dipandu salah satu guru pendamping. Guru pendamping akan menjelaskan tata cara bermain terlebih dahulu sebelum anak-anak memainkannya. Tak jarang guru pendamping juga harus menjadi wasit didalamnya.

Menurut Plt Kepala SDN 1 Wedelan, sekaligus guru kelas 3, Anita Irfani, S.Pd menyampaikan kegiatan ini diperkenalkan kembali untuk mengedukasi tentang permainan tradisional yang pernah berkembang di lingkungannya pada masa terdahulu. Fenomena saat ini yang terjadi dimana anak-anak lebih sering bermain telepon pintar daripada bermain bersama teman yang mendasari diadakannya kegiatan ini.
“Tujuan kegiatan ini juga untuk menumbuhkan karakter positif mereka dalam bermain diantaranya: kemandirian, percaya diri,ketangkasan, kejujuran, kebersamaan, dan karakter-karakter positif lainnya,” ujar Anita Irfani

Salah satu permainan yang diperkenalkan oleh guru kelas 5, Sugiyati adalah I’ok. Sugiyati menyampaikan, “ Anak-anak sangat antusias dalam permainan ini, bahkan ada anak yang penasaran karena selalu gagal sehingga terus mencoba dan tidak memberi kesempatan yang lain. Permainan ini menumbuhkan rasa ingin tahu mereka yang tinggi”. Permainan ini menggunakan media ranting daun yang diikat menyerupai bola. Layaknya permainan sepak takraw namun berbeda. Permainan ini dimainkan secara mandiri. Siapa yang terlama melempar ikatan daun keatas menggunakan kaki tanpa menjatuhkannya, itulah pemenangnya.

Ada lagi permainan bentengan yang dilakukan secara beregu. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok, masing-masing kelompok memiliki posko yang disebut “bothokan”. Permainan ini sangat cocok untuk dimainkan anak-anak yang aktif, yang seka berlarian. Karena permainan ini cara bermainnya dengan mengejar lawan.
Selain itu ada juga permainan engklek yang di dampingi oleh Suratman, guru kelas 4. Permainan ini peminatnya cenderung anak-anak perempuan. Mereka mengenal “gacuk” melalui permainan ini. Gacuk merupakan alat yang digunakan masing-masing pemain sebagai tiket mulai bermain. Jika gacuk tersebut ketika dilempar mendarat pada tempat yang ditentukan maka permainan boleh diteruskan oleh pelempar. Namun jika gacuk terlempar keluar dari arena permainan maka pelempar harus bersedia bergiliran dengan teman menunggu kesempatan berikutnya.

Permainan-permainan lain yang seru dan dipenuhi gelak canda tawa adalah dingklik oglak-aglik. Permainan beregu yang dilakukan dengan mengaitkan salah satu kaki semua pemain ini membutuhkan kerjasama yang tinggi. Jika kekompakan belum terjalin akan menjadikan tim tidak seimbang sehingga berjatuhan. Hingga pecahlah tawa mereka seketika.
Tidak kalah antusiasnya, bapak ibu guru dalam menyambut kegiatan ini. Dimana mereka dapat bernostalgia memainkan kembali seperti di waktu kecil.
Permainan tradisional yang merupakan salah satu aset budaya ini diharapkan terus untuk dimainkan. Sebagai salah satu kearifan lokal permainan tradisional dipandang perlu untuk dilestarikan. Olek karena itu, SDN 1 Wedelan berkomitmen untuk berkolaborasi bersama membudayakan permainan tradisional di lingkungan sekolah.
Hadepe – Ani













