blank
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Foto: Dok/Kemenkes

Menjawab tantangan tersebut, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Arianti Anaya, menyatakan siap mempercepat ketersediaan dokter spesialis onkologi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur pendidikan konvensional yang membutuhkan waktu panjang.

“Langkah ini kami lakukan melalui jalur program Fellowship dan Advanced Clinical Training. Dengan demikian, kebutuhan SDM kesehatan khusus penanganan kanker dapat segera terpenuhi untuk melayani masyarakat,” tegas Arianti.

Sebagai strategi jangka panjang, Kemenkes telah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker 2024–2034 dan tengah mengintegrasikan data registri kanker nasional ke dalam laporan global WHO. Ke depan, pelayanan kanker di Indonesia akan memasuki era kedokteran genomik (precision medicine), yang memungkinkan layanan primer melakukan tes genetik untuk mendeteksi risiko kanker sebelum penyakit berkembang.

“Melalui pemerataan teknologi, pembenahan SDM, serta penguatan registri nasional, kita optimistis angka kematian akibat kanker di Indonesia dapat ditekan secara drastis,” pungkas Menkes Budi.

Sebagai informasi, ICCF 2026 mengusung tema “Next-Generation Oncology: Management, Technology and Holistic Care” dan diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI) bekerja sama dengan China Anti-Cancer Association (CACA).

Forum yang dihadiri sekitar 350 peserta dari kalangan dokter hingga mahasiswa kedokteran tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kerja sama dalam layanan, pendidikan, dan penelitian kanker antara Indonesia dan China.

Topik yang dibahas meliputi pencegahan, skrining, pengobatan mutakhir seperti radioterapi presisi, imunoterapi, genomic profiling, hingga terapi suportif.

Ning S