KUDUS (SUARABARU.ID) – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kudus menyatakan siap mendukung penuh keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait penentuan lokasi Muktamar NU 2026. Meski menilai Pondok Pesantren Lirboyo memiliki nilai historis dan simbolik yang kuat, PCNU Kudus menegaskan kewenangan penetapan lokasi sepenuhnya berada di tangan PBNU.
Ketua PCNU Kudus, KH Asyrofi Masyito, mengatakan secara pribadi dirinya berharap Muktamar NU 2026 dapat digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Namun demikian, pihaknya akan mengikuti keputusan resmi PBNU sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menentukan lokasi penyelenggaraan muktamar.
“Kalau bisa memang di Lirboyo. Tetapi Kudus tetap mengikuti keputusan PBNU sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menentukan lokasi,” ujar KH Asyrofi, Selasa (7/7/2026).
Ia menegaskan, bagi PCNU Kudus yang terpenting bukan sekadar lokasi penyelenggaraan, melainkan keberhasilan pelaksanaan Muktamar NU sebagai forum tertinggi organisasi.
“Dimanapun diselenggarakan, PCNU Kudus akan hadir untuk menyukseskan. Yang penting Muktamar terlaksana dengan penuh martabat dan menjadi tonggak perbaikan organisasi,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris PCNU Kudus KH Nur Said memandang penyelenggaraan Muktamar NU di lingkungan pesantren memiliki nilai strategis yang lebih kuat dibanding kawasan perkotaan.
Menurutnya, suasana perkotaan cenderung lebih sarat dengan dinamika politik nasional sehingga identitas pesantren sebagai akar lahirnya Nahdlatul Ulama menjadi kurang terasa. Selain itu, biaya penyelenggaraan di kawasan perkotaan juga umumnya lebih tinggi.
“Sebagaimana dawuh Gus Dur, NU adalah pesantren besar, sedangkan pesantren adalah NU kecil. Spirit itu penting dijaga dalam penyelenggaraan Muktamar,” ungkapnya.
KH Nur Said menilai Pondok Pesantren Lirboyo merupakan salah satu pusat keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jamaah terbesar dan paling berpengaruh dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Hingga kini, pesantren tersebut dinilai konsisten menjaga kesinambungan sanad keilmuan, memperkuat akhlak, serta mencetak kader-kader ulama.
Menurutnya, dengan jaringan alumni yang luas, budaya musyawarah yang kuat, dan kapasitas kelembagaan yang matang, Lirboyo tidak hanya siap secara teknis menjadi tuan rumah Muktamar NU 2026, tetapi juga memiliki makna simbolik yang mendalam.
“Jika Muktamar digelar di Lirboyo, itu menjadi penegasan bahwa NU kembali berakar pada ruh kepesantrenan sebagai fondasi utama lahirnya pemikiran, kepemimpinan, dan khidmah kepada umat,” katanya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Muktamar di pesantren juga akan menunjukkan bahwa di tengah tantangan global dan derasnya transformasi digital, Nahdlatul Ulama tetap berpijak pada tradisi keilmuan, kearifan para ulama, dan nilai-nilai pesantren sebagai sumber inspirasi dalam membangun peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.
Ali Bustomi













