blank
Anak-anak saat menikmati MBG dengan gembira. Foto: ist

KUDUS (SUARABARU.ID) – Di tengah ramainya masyarakat mengenal istilah MBG, ternyata ada MBG lain yang justru membuat anak-anak rela duduk anteng, berebut menjawab pertanyaan, bahkan enggan cepat pulang. Bukan soal menu makanan, melainkan MBG (Membaca, Berkarya, Gembira), program literasi yang digelar Read Aloud Kudus di Ruang Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kudus.

Jika biasanya membujuk anak untuk membaca buku menjadi tantangan tersendiri, suasana berbeda justru terlihat dalam kegiatan ini. Puluhan peserta larut dalam cerita yang dibacakan para relawan, aktif berdiskusi, tertawa bersama, hingga berebut menyampaikan imajinasi mereka tentang tokoh-tokoh dalam buku.

Ketua Read Aloud Kudus, Rizki Yuniarti, mengatakan konsep MBG dirancang agar membaca tidak lagi dianggap sebagai aktivitas yang membosankan. Literasi dikemas melalui pengalaman yang menyenangkan sehingga anak-anak menikmati setiap proses belajar.

“Kami ingin anak-anak datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena memang merasa senang. Membaca bisa menjadi aktivitas yang seru ketika dikemas dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan sesi read aloud atau membaca nyaring yang dibawakan secara ekspresif oleh para relawan. Anak-anak tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga diajak menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, hingga berimajinasi mengikuti alur cerita.

Menurut Rizki, metode membaca nyaring membuat anak lebih mudah memahami isi cerita sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap buku sejak usia dini.

Keseruan berlanjut saat peserta menyaksikan film animasi karya siswa SMK Raden Umar Said Kudus. Tayangan tersebut mengenalkan proses kreatif di balik pembuatan film animasi sekaligus menunjukkan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing dengan kualitas yang membanggakan.

Tak berhenti di situ, anak-anak kemudian diajak membuat keychain bertuliskan nama masing-masing. Sambil menyusun huruf demi huruf, mereka belajar melatih kreativitas, koordinasi motorik halus, ketelitian, hingga rasa percaya diri karena berhasil membawa pulang karya buatan sendiri.

“Harapannya, anak-anak tidak hanya semakin gemar membaca, tetapi juga terbiasa mengekspresikan ide, berani berkarya, dan terus mengembangkan potensi yang mereka miliki,” kata Rizki.

Program MBG ini menjadi bukti bahwa menumbuhkan minat baca tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang kaku. Ketika buku dipadukan dengan dongeng, karya kreatif, dan suasana yang menggembirakan, anak-anak justru menikmati proses belajar tanpa merasa sedang ‘dipaksa’ belajar.

Read Aloud Kudus berharap kolaborasi bersama Perpustakaan Daerah Kudus terus berlanjut sehingga semakin banyak anak memperoleh pengalaman literasi yang menyenangkan. Sebab, bila ada MBG yang membuat anak-anak selalu ingin datang lagi, tampaknya MBG versi Membaca, Berkarya, Gembira ini layak menjadi salah satunya.

Ali Bustomi