blank
Kepala RPH Batealit, Nur Hamid

JEPARA, (SUARABARU.ID) – Rumah dinas umumnya identik sebagai tempat tinggal bagi pejabat atau petugas lapangan. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Rumah Dinas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Batealit, Kabupaten Jepara. Di bawah pengelolaan KRPH Batealit, bangunan tersebut disulap menjadi ruang edukasi dan pembinaan lingkungan bagi generasi muda.

Melalui program yang diberi nama Taman Baca Wanaksara, rumah dinas tersebut dimanfaatkan sebagai pusat literasi, pembelajaran lingkungan, dan pengenalan kehutanan bagi anak-anak, pelajar, anggota pramuka, hingga masyarakat umum.

Kepala RPH Batealit, Nur Hamid, mengatakan pemanfaatan rumah dinas sebagai ruang publik edukatif merupakan upaya menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian hutan sejak usia dini.

blank
Siswa antusias kunjungi Taman Baca Wanaksara. Foto: Manan

“Kami memanfaatkan ruang di rumah dinas ini agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (21/6/2026).

Di dalam Taman Baca Wanaksara tersedia ratusan koleksi buku yang mencakup berbagai bidang, mulai dari kehutanan, lingkungan hidup, bacaan anak, novel remaja, hingga literatur keagamaan.

Menurut Nur Hamid, keberadaan taman baca tersebut juga menjadi salah satu ikhtiar untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.

blank
Siswa kunjungi Taman Baca Wanaksara. Foto: Manan

“Kami berharap anak-anak yang datang bisa meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca. Yang terpenting, mereka dapat beristirahat sejenak dari penggunaan telepon genggam sehingga tidak terus-menerus terpaku pada layar,” katanya.

 

Selain menyediakan fasilitas literasi, KRPH Batealit juga mengembangkan berbagai program pembinaan dan praktik lapangan yang berorientasi pada pelestarian lingkungan.

Salah satu program yang dikenalkan kepada peserta adalah pembuatan ecobrick, yaitu pemanfaatan sampah plastik kemasan menjadi produk yang bernilai guna. Edukasi ini diberikan sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap bahaya sampah plastik yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam.

Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai kegiatan edukatif lainnya, seperti budidaya lebah madu sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu, pembibitan tanaman, serta pengenalan berbagai jenis pohon kehutanan dan tanaman buah melalui laboratorium pohon.

Di area tersebut terdapat sedikitnya 58 jenis tanaman yang telah dilengkapi papan informasi berisi nama lokal dan nama ilmiahnya, di antaranya jati, sonokeling, pinus, kemiri, hingga juwet.

Mengenal Satwa dan Menjaga Ekosistem

Pembelajaran lingkungan juga diperkuat dengan pengenalan satwa liar melalui pemanfaatan camera trap yang dipasang di kawasan hutan Gunung Muria wilayah Batealit.

Dari hasil pemantauan tersebut, kamera sempat merekam keberadaan macan yang masih hidup di habitat alaminya. Temuan itu menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Sebagai predator puncak, keberadaan macan memiliki peran penting dalam menjaga rantai makanan dan keseimbangan populasi satwa di alam.

Melalui Taman Baca Wanaksara dan berbagai program pembinaan yang dikembangkan, KRPH Batealit menunjukkan bahwa kampanye pelestarian lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Rumah dinas yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai tempat tinggal kini bertransformasi menjadi ruang belajar, ruang literasi, sekaligus wahana pembentukan kepedulian generasi muda terhadap kelestarian hutan dan lingkungan.

Reporter: Khoirul Manan