
Salah satu peserta internasional, Luz Estefani Rivera Villamarín, mengaku sangat antusias mengikuti program ini. Mahasiswa asal Meksiko tersebut menilai HOH sebagai kesempatan berharga untuk belajar langsung di situs prasejarah sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal.
“Saya merasa sangat senang dan beruntung bisa berada di sini. Ini pengalaman yang istimewa, bisa belajar sekaligus mengenal budaya dan masyarakat Indonesia secara langsung,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam program ini menjadi hal yang menarik dan memberikan dampak nyata bagi pengembangan penelitian arkeologi.
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh peserta dari Indonesia, Yulandari. Mahasiswa Fakultas Interdisiplin UKSW ini melihat HOH sebagai ruang untuk mengembangkan perspektif, khususnya dalam bidang pariwisata berbasis masyarakat.
“Senang sekali karena bisa mendapatkan ilmu baru dan bertemu teman-teman dari berbagai latar belakang. Saya juga berharap bisa berkontribusi bagi masyarakat di Sangiran,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa program ini memberikan kesempatan untuk menggabungkan teori dengan praktik, terutama dalam memahami bagaimana pariwisata dapat berperan dalam pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Melalui rangkaian kegiatan diskusi, presentasi, hingga kerja lapangan, peserta diharapkan mampu membangun pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan.
Sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), program ini turut mendukung SDGs ke-4 yaitu pendidikan berkualitas, SDGs ke-11 yaitu kota dan pemukiman yang berkelanjutan, serta SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia, pendidikan, sains, teknologi, dan kesehatan.
Ning S













