blank
Seorang pengunjung saat memilih koleksi busana di  Natapola Store, Kota Semarang, Jumat 1 Mei 2026. (Foto: Diaz A Abidin) 

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Tren busana perempuan kian berkembang. Baik dikenakan untuk aktivitas di luar rumah maupun saat mengerjakan pekerjaan domestik.

Brand lokal Kota Semarang, Natapola, menangkap peluang bisnis fesyen perempuan tersebut. Hingga menghadirkan konsep busana yang tetap bergaya, dan nyaman, saat dipakai sehari-hari di dalam rumah.

Devy Natalia pemilik outltet sekaligus perancang busana wanita, mengatakan, ada hal yang memicunya membuat konsep tren fesyen itu.

Dia mengaku mengamati kebiasaan sebagain perempuan. Di mana tampil maksimal saat bepergian di luar rumah, namun cenderung kurang memperhatikan penampilan saat di rumah.

“Kadang gemes lihat ibu-ibu, kalau keluar rumah bisa dandan cantik. Tapi di rumah pakai daster seadanya. Padahal di rumah juga ada suami, kenapa tidak tetap tampil menarik,” katanya saat pembukaan toko Natapola, Kota Semarang, Jumat 1 Mei 2026.

Berangkat dari pemikitan tersebut, Devy menghadirkan lini khusus fesyen busana rumah bertajuk “From Devy.  Santai dan tetap modis.

Dia bilang, koleksi ini dirancang agar perempuan tetap merasa percaya diri, meski hanya beraktivitas di dalam rumah.

Devy menegaskan, seluruh produk Natapola merupakan hasil produksi dalam negeri dengan desain original. Ia menolak anggapan bahwa produknya mengambil dari luar negeri.

“Semua kita bikin sendiri di Indonesia, dari desain sampai produksi. Kalau pun ada yang dari luar, hanya bagian kecil seperti kancing atau aksesoris,” katanya.

Dari sisi desain, dia mengatakan, tidak terpaku pada satu kiblat tertentu. Konsep desainnya lebih bersifat global, mengikuti tren fasyen.

“Tetap disesuaikan dengan karakter perempuan Indonesia,” ucap perempuan 35 tahun itu.

Dikatakan Devy, koleksinya menyasar ibu rumah tangga, juga perempuan muda dengan rentang usia sekitar 20 hingga 30-an tahun. Variasi produknya pun cukup luas, mulai dari pakaian kasual, busana kerja, hingga homewear.

Dari sisi harga, dia ingin agar tetap   ramah di kantong pelanggan. Selain harga, variasi ukuran juga menjadi perhatian. Ukuran disediakan hingga XXL dengan lingkar dada mencapai 120 cm, guna mengakomodasi berbagai bentuk tubuh perempuan.

“Bentuk tubuh perempuan itu beda-beda. Jadi penting banget bisa coba langsung supaya tahu cocok atau tidak,” ucapnya.

Lebih lanjut, kqta dia, keputusan membuka toko fisik juga bukan tanpa alasan. Di tengah maraknya toko daring (marketplace), Devy justru melihat biaya berjualan online kini semakin tinggi.

“Sekarang menurut saya marketplace malah lebih mahal. Kalau offline, meski ada biaya sewa dan pegawai, tetap bisa lebih efisien kalau omzetnya bagus,” katanya. (*)

Diaz A Abidin